Pendidikan

Mengharukan, Bocah Boisman dan Latina Harus Gendong Adik Bayinya ke Sekolah

Mengharukan, Bocah Boisman dan Latina Harus Gendong Adik Bayinya ke Sekolah
Boisman Gori, siswa kelas V SD Puncak Lolomatua, Ulonoyo, Kabupaten Nias Selatan, membawa adiknya ke sekolah. (tribunnews.com)
Rabu, 03 Mei 2017 08:28 WIB
TELUK DALAM - Berbeda dengan teman-temannya, Boisman Gori sering harus menggendong adiknya ke sekolah dan mengasuhnya sambil belajar di kelas.

Saat mengikuti pelajaran, sesekali siswa kelas V SD itu mencium kepala adiknya yang masih bayi tersebut agar tidak rewel dan menangis.

Boisman merupakan salah seorang siswa SD di Puncak Lolomatua, dataran tertinggi di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Dia harus membawa adiknya ke sekolah ketika orangtuanya menyadap karet atau pergi ke pasar.

Keseharian Boisman Gori sangat menyentuh haru Indri Rosidah. Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) ini tak menyangka ada bocah seperti Gori yang harus berjuang sangat keras untuk mendapatkan pendidikan.

Indri Rosidah, alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), peserta program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T), mengajar di SD Puncak Lolomatua. Sekolah yang berada di Kecamatan Ulunoyono ini adalah dataran tertinggi di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Selasa (2/5/2017).

''Saat saya mengajar, dia (Gori) selalu memeluk dan mencium kepala adiknya,'' cerita Rosidah kepada www.tribun-medan.com, Selasa (2/5/2017).

Awal kali menginjakkan kaki untuk mengajar di Puncak Lolomatua, perempuan asal Bandung ini terharu, menemukan Gori-Gori lainnya.

Di antara muridnya ada Latina Ndruru. Bocah perempuan ini juga kerap membawa adik bungsunya ke sekolah. Latina anak ketiga dari tujuh bersaudara, kehidupan orangtuanya cukup memperihatinkan.

''Lantai rumah orangtuanya Latina masih tanah. Artinya, tidak gunakan semen sebagaimana rumah kebanyakan orang. Kemudian dinding rumahnya masih tepas, beratap rumbia dan rumah mereka paling dekat dengan sekolah ini,'' kata Rosidah.

Dibandingkan Latina, rumah Gori lebik bagus, berlantai semen dan beratap seng. Gori dan Latina membawa adik mereka ke sekolah bila kedua orangtua mereka ke ladang untuk menyadap getah ataupun pergi ke pasar.

''Anaknya penuh kesadaran, dan tabah hidup dalam keadaan serba kekurangan. Saya terkesima melihat kondisi siswa-siswi di sini,'' ia menambahkan.***
loading...
Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:GoNews Group, Pendidikan
wwwwww