Gali Potensi Energi Baru Terbarukan, Indonesia - Denmark Jajaki Kerja Sama

Gali Potensi Energi Baru Terbarukan, Indonesia - Denmark Jajaki Kerja Sama
Ilustrasi.
Selasa, 02 Mei 2017 23:30 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Pemerintah dan pelaku usaha Denmark menjajaki kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengembangkan potensi energi baru terbarukan di Indonesia, khsusnya Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (angin).
Menteri ESDM Ignasius Jonan menyambut kunjungan Menteri Kerja Sama Pembangunan Denmark Ulla Tornaes. Keduanya menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Denmark untuk membahas potensi energi baru terbarukan di Indonesia. 

Beberapa perusahaan asal Denmark yang ikut hadir dalam Forum tersebut antara lain: Siemens Wind Power, Burmeister & Wain Scandinavian Contractor, Vestas Wind System, Dong Energy, Welltec dan Babcock & Wilcox Volund. 

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan pihak Denmark melirik 10 PLTB untuk dikembangkan. Namun, Rida belum menjelaskan secara rinci pembangkit mana saja yang tengah dilirik negara Eropa tersebut. 

"Indonesia memiliki potensi energi angin sebesar 16.000 megawatt. Dia [Denmark] kejar 10 PLTB untuk dikembangkan," kata Rida kepada wartawan, Selasa (2/5/2017). 

Pemerintah telah membuat roadmap potensi energi angin Indonesia. Dalam roadmap tersebut, daerah yang berpotensial untik dikembangkan adalah Indonesia bagian timur, seperti Papua, Maluku dan Sulawesi Selatan. 

Rida mengatakan Denmark terlibat dalam pembangunan dua proyek PLTB di Sulawesi Selatan yaitu PLTB Jenoponto dan PLTB Sidrap. PLTB Jenoponto memiliki kapasitas 65 mw yang ditargetkan rampung pada 2018. Sementara PLTB Sidrap memiliki kapasitas 70 mw yang ditargetkan rampung pada tahun yang sama. 

Ignasius Jonan, Menteri ESDM, mengatakan bantuan Denmark sangat menguntungkan bagi Indonesia. Apalagi Denmark dikenal sukses mengembangkan EBT, khususnya angin.

Menurut Jonan, adanya variasi energi bertenaga angin tentu memberikan pilihan energi yang cocok untuk dikembangkan di suatu wilayah.  Pilihan energi yang cocok merupakan salah satu kunci sukses dalam pengembangan EBT serta pemerataan energi itu sendiri. 

"Lalu kebijakan pemerintah harus bisa mendorong penurunan biaya pokok produksi listrik di wilayah," kata Jonan.

Menteri Kerja Sama Pembangunan Denmark Ulla Tornaes mengatakan, pengembangan EBT merupakan upaya dari kedua negara dalam masa transisi. Menurutnya, pengembangan EBT adalah pengaturan ulang sostem energi. Tornaes mengatakan, Indonesia dan Denmark mengalami keterpurukan saat harga minyak dunia jatuh. 

"Energi angin di Indonesia sangat berpotensi. Ini adalah salah satu upaya membantu indonesia yang tengah dalam masa transisi energi," jelasnya.

Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indoensia Suryadharma mengatakan Denmark terkenal sukses dalam mengembangkan energi angin di beberapa negara. 

"Denmark diharapkan dapat mentransfer knowledge ke Indonesia. Ini kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia," katanya. 

Pembatasan Harga Jual Jadi Kendalanya.

Namun, pelaku usaha dalam negeri  menilai pihak Denmark masih akan menemukan kendala soal pembatasan harga jual kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 85% dari Biaya Pokok Produksi Setempat. 

Hal ini diatur dalam regulasi teranyar Peraturan Menteri ESDM no. 12/2017 tentang Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. 

Suryadharma mengatakan kebijakan ini dinilai masih belum menguntungkan Denmark ataupun investor lainnya. "Saya lihat, tadi, Denmark yang menyatakan seperti itu," katanya. 

Surya mengatakan pemerintah harus memberikan solusi dengan pemberian insentif fiskal, seperti pemotongan pajak. Upaya ini juga bisa meningkatkan iklim investasi EBT di Indonesia. 

Pemerintah sendiri tengah membahas pemberian insentif fiskal ini kepada para stakeholders. Kementerian ESDM sudah berkomunikasi dengan staf Wakil Presiden Jusuf Kalla. Selanjutnya, Kementerian akan membahasnya dengan Badan Kebijakan Fiskal. ***

loading...
Sumber:berbagai sumber.
Kategori:GoNews Group, Ekonomi, Pemerintahan
wwwwww