Nasional

Kapolres Tolak Jelaskan Alasan Pembubaran Pengajian Ustaz Felix Siauw

Kapolres Tolak Jelaskan Alasan Pembubaran Pengajian Ustaz Felix Siauw
Ustaz Felix Siauw. (republika.co.id)
Senin, 01 Mei 2017 19:55 WIB
MALANG - Pengajian dengan pembicara Ustaz Felix Siauw di salah satu hotel di Malang, Jawa Timur, Minggu (30/4/017), dibubarkan paksa aparat kepolisian.

Namun Kapolres Malang Kota AKBP Hoiruddin Hasibuan menolak memberikan penjelasan tentang tindakan pembubaran Talk Show Ustaz Felix Siauw tersebut.

Usai pembubaran tersebut, beredar kabar bahwa polisi melakukannya karena acara belum mengantongi izin. Informasi itu disampaikan lewat aplikasi perpesanan dan menyebar lewat grup WhatsApp wartawan.

Namun ketika dikonfirmasi hari ini (1/5), Hoiruddin menolak memberikan tanggapan. ''Terkait dengan masalah tersebut tolong hubungi Pak Kabidhumas Jatim Kombes Barung, karena petunjuk dari Polda demikian,'' kata Hoiruddin kepada republika.co.id lewat pesan singkat.

Sementara Ketua PC GP Ansor NU Kota Malang HM Nur Junaedi Amin mengakui pembubaran itu dilakukan karena pihaknya bekerja sama dengan kepolisian menolak kehadiran Ustaz Felix Siauw. ''Kita lakukan pendekatan persuasif, PC GP Ansor Malang bekerja sama dengan kepolisian karena mereka yang berwenang membubarkan acara,'' kata Junaedi saat dihubungi republika.co.id, Senin (1/5).

Menurutnya, yang paling mendasari penolakan adalah GP Ansor menilai Ustaz Felix sebagai kader HTI yang sering menyuarakan terbentuknya khilafah di Tanah Air. Menurut Junaedi, GP Ansor akan berperan sebagai penjaga nasionalisme dan menolak gerakan apapun yang berupaya menggeser Pancasila sebagai dasar negara.

Penjelasan Ustaz Felix

Sebelumnya Ustaz Felix Siauw memberikan penjelasan tentang pengusiran kajiannya di Malang tersebut. Penjelasan berjudul 'Dakwah Takkan Terhenti' itu disampaikan lewat siaran langsung berdurasi 11:45 menit di akun Facebooknya, Ustaz Felix Siauw, Ahad (30/4) sore.

Dia mengtakan, saat datang ke Malang pada Sabtu (29/4) kemarin, mendapat kabar dari panitia kalau acara hari itu di Universitas Brawijaya dibatalkan rektorat, tanpa dijelaskan alasan dibatalkan. Tapi, belakangan terdapat kabar ada percakapan sejumlah orang yang dirasa memengaruhi rektor untuk membatalkan acara dilakukan kampus.

''Kita juga tidak tahu sampai sekarang alasannya seperti apa, karena acaranya itu sebenarnya sebuah kajian, kajian tentang cinta mulia, tentang sebuah panduan-panduan yang seharusnya dilaksanakan remaja agar waktu remajanya tidak dihabiskan dengan maksiat, dengan sia-sia,'' kata Felix.

Hal itu yang membuatnya bingung mengapa kajian tentang pergaulan anak muda ternyata mendapat tentangan dari rektor. Lalu, lanjut Felix, panitia langsung panik dan mencari tempat yang lain dan mendapatkan salah satu hotel di daerah Malang. Ia pun langsung mendapat kabar usai tempat didapatkan.

Acara dimulai sejak pukul 08.00 dan Felix memberkan kajian sekitar pukul 08.30 sampai 10.30. Lalu, tiba-tiba ada orang dari pihak hotel yang datang dan mengatakan kalau kajian dibubarkan dengan alasan tidak ada izin Kepolisian. Ternyata, di tempat acara pun sudah terdapat sekitar 10-20 personil Kepolisian.

''Kita sampaikan ya sudah tidak ada masalah, kalaupun memang mau dibubarkan toh Polisi sudah datang, mau apa lagi, toh acaranya sudah rusak,'' ujar Felix.

Kemudian, panita mempersilakan Ustaz Felix Siauw untuk memimpin doa penutup, sebelum menyelesaikan kajian. Tanpa diduga, polisi mengatakan kalau tidak perlu lagi ada doa-doa dan sebaiknya langsung saja dibubarkan. Felix belakangan mengetahui kalau orang itu adalah Kasat Intel Polres Malang.

''Ya sudah langsung kita tutup dengan doa kiffaratul majelis, kemudia kita membubarkan diri secara damai,'' kata Felix.

Ketika ditanya alasannya, Kepolisian enggan memberikan penjelasan jika tidak berada di Polres Malang. Akhirnya, Felix bersama panitia yang datang ke Polres mendapat jawaban kalau Kepolisian mendapatkan tekanan dari ormas-ormas tertentu yang belakangan dikenal sebagai ormas yang membubarkan pengajian.

Ia pun sempat menanyakan kepada Kepolisian kenapa tidak ada tabayun, dan kenapa di negara seperti Indonesia hukum rimba seakan diberlakukan karena siapa yang kuat bebas melarang mereka yang tidak disukai. Ternyata, jawaban Kepolisian sangat disayangkan.

''Kemudian di situ polisi berkata ya kami tidak bisa apa-apa karena kami sedikit, kami tidak bisa apa-apa, ini yang kemudian kita sangat sayangkan,'' ujar Felix.

Untuk itu, dia mengingatkan, kepada Kepolisian kalau ke depan harus lebih baik lagi, dan tidak boleh ada satu kelompok yang bisa memaksakan kelompok lain. Menurut Felix, itu akan memberikan preseden yang buruk bagi masa depan Indonesia karena seharusnya hukum ditegakkan.

Meski begitu, Felix menegaskan, ia akan menerima kejadian tersebut, mengingat Islam mencintai kedamaian, tidak suka perpecahan apalagi adu domba. Sejak awal, ia pun telah menjelaskan kalau ia dalam kondisi yang baik-baik saja dan tengah berada di dalam perjalanan kembali ke Jakarta. ''Alhamdulillah, terima kasih, saya tidak ada kurang satu apapun, sekarang dalam perjalanan ke Jakarta,'' kata Felix.***
loading...
Editor:hasan b
Sumber:republika.co
Kategori:GoNews Group, Peristiwa
wwwwww