Ini Dia, Kisah Anak Kelahiran Padang Panjang dari Bankir Beralih Jadi Penjual Sate dan Sukses di Swiss

Ini Dia, Kisah Anak Kelahiran Padang Panjang dari Bankir Beralih Jadi Penjual Sate dan Sukses di Swiss
Rio saat berjualan sate di Swiss. (istimewa)
Senin, 01 Mei 2017 11:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
KISAH hidup Rio Vamory, kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat yang ditinggal ayah sejak kecil telah diterbitkan satu halaman penuh di harian Neuer Zurcher Zeitung (NZZ), koran paling prestisius di Swiss.

Selain mengisahkan proses beralihnya dari bankir menjadi tukang sate, Rio juga mengisahkan perjalanan hidupnya.

Karena terbilang unik, NZZ kemudian memberi satu halaman penuh untuk membahas aksi Rio itu.

"Ini memang khas, jadi kami tertarik menulisnya,“ kata salah satu redakturnya.

Menurutnya, Sate Rio cukup menjanjikan. Gerobak yang masih kinclong menjadi etalase proses pembakaran sate ayam.

Sate ayam? ya sate ayam sedang dipamerkan dalam gerobak di salah satu kota termahal dunia itu.

Asap yang mengepul tidak dipedulikan warga yang sebagian mengenakan jas dan dasi. Angin dingin yang berembus dari danau Zurich juga tidak menyurutkan semangat orang-orang yang berkerumun itu.

Inilah satu-satunya gerobak sate ayam di Zurich, bahkan Swiss. Mantan bankir inilah yang melakukan terobosan kuliner Indonesia di Zurich yang berjuluk "Little Big City of Switzerland".

Semua keunikan itu tak lepas dari sosok Rio Vamory. Rio lahir 34 tahun silam, di Balingkah, Padang Panjang, Sumatera Barat.

Tak lama setelah kelahirannya, Rosmidar, ibu kandungnya, harus menerima kenyataan ditinggal sang suami.

Perjalanan berikutnya, Rosmidar meninggalkan Indonesia dan menikahi warga Swiss keturunan Tibet. Saat itu, Rio dititipkan di Bogor untuk menekuni ajaran agama di sebuah pesantren.

Rosmidar seharusnya berbahagia, menetap dan menikah lagi di salah satu kota paling mahal dunia itu. Namun, kebahagiaan itu tak lengkap jika masih harus berpisah dengan putranya itu.

Setelah dua tahun menetap di Swiss, Rio diboyongnya ke Zurich. Prestasi Rio saat bersekolah di Zurich cukup menonjol bahkan dia beberapa kali "loncat“ kelas karena kecerdasannya.

Kariernya juga moncer, dengan bekerja dari satu bank besar ke bank besar lainnya. Namun, meskipun bergaji besar dan hidup mapan, Rio tak merasa tenteram.

Rio pun akhirnya memilih meninggalkan karier banknya yang cemerlang dan memilih menjadi tukang sate ayam di jalanan Zurich.

"Apa yang dilakukan Rio luar biasa. Tak banyak, hampir tak ada bankir yang mau berubah profesi jadi tukang sate ayam, keberanian itu ada dalam diri Rio," kata redaktur NZZ.

Rosmidar, ibu kandungnya, sangat mendukung langkah "aneh“ Rio ini. "Sebagai orangtua, saya mendukungnya. Lagi pula, dia sejak kecil suka memasak,“ katanya.

Selain mencoba menjadi pengusaha, Rio juga berniat membantu tanah kelahirannya Balingkah, Padang Panjang, Sumatera Barat.

Caranya, Rio menyisihkan satu frank Swiss dari setiap porsi sate yang dijualnya untuk membantu pelestarian alam Sumatera.

Meskipun kini terlihat lebih berbudaya Swiss ketimbang Indonesia, Rio agaknya masih terus mengingat tanah kelahirannya.

"Lupa tentu tidak, saya juga punya saudara di sana,“ katanya.

Puluhan tahun silam, Rio bahkan bertemu dengan saudara tirinya di Sumatera. Dia juga sempat mencoba mencari ayah kandungnya dan ditemukannya di Jakarta.

"Rasanya lega ketemu bapak saya. Tapi setelah itu, ya sudah, tak banyak kontak lagi dengan bapak saya,“ katanya.

Namun, dengan saudara tirinya di Sumatera, Rio masih tetap berkomunikasi hingga sekarang. "Dengan bapak saya tidak lagi, dengan saudara tiri, iya, masih komunikasi,“ katanya. ***

Sumber:kompas.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Ekonomi
wwwwww