Nasional

Diancam Bunuh, Anggota DPD Fahira Idris Akan Polisikan Nathan P Susanto

Diancam Bunuh, Anggota DPD Fahira Idris Akan Polisikan Nathan P Susanto
Fahira Idris. (republika.co.id)
Senin, 01 Mei 2017 09:41 WIB
JAKARTA - Anggota DPD RI Fahira Idris menegaskan akan melaporkan Nathan P Susanto ke polisi terkait kicauannya di Twitter yang mengancam akan membunuh Fahira, Habib Rizieq, Fahri Hamzah dan Buni Yani.

''Saat ini posisi saya sedang tugas negara dulu di Belanda sampai tanggal 5 Mei, Insya Allah suami saya sendiri Bp Aldwin Rahadian akan jadi kuasa hukum saya," kata Fahira, Ahad (30/4), seperti dikutip dari republika.co.id.

''If you know to crowdfund assassins to kill Fahira Idris, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Habib Rizieq, Buni Yani, and friends, lemme know,'' kicau Nathan di akun Twitter @NathanSuwanto pada 29 April 2017 pukul 12.36 WIB.

Menurut Fahira, ia akan tetap melanjutkan ke proses hukum agar ada efek jera. Karena ia melihat akhir-akhir ini banyak orang yang mungkin merasa paling hebat, menjadi seenaknya mengumbar perkataan buruk. 

''Bila tidak ditangani dengan serius, maka akan banyak ditiru oleh generasi muda lainnya. Rencana pembunuhan itu kan tidak seperti kita mau merencanakan suatu acara biasa,'' ujarnya.  

Apalagi orang yang mengumbar perkataan buruk itu berturut-turut dari kalangan etnis tertentu. Menurutnya, hal ini akan merugikan karena hanya dilakukan segelintir orang dari etnis tersebut. Ia pun berharap jika ada  tokoh dari etnis itu yang menasihati Steven dan Nathan. 

Harus Diusut Tuntas

Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, berharap kepolisian bisa mengusut tuntas postingan yang bernada ancaman pembunuhan atau teror tersebut.

Reza mendapat kabar bahwa postingan itu bukan hoax. Namun, andai postingan itu hoax sekalipun, ia menilai kata-kata itu tetap tidak selayaknya dilontarkan di media sosial.

''Semoga kepolisian mengusut serius dan tuntas posting tersebut. Jangan sampai kian nyata hasil studi Economist The Intelligence Unit bahwa Jakarta adalah kota yang paling tidak aman,'' kata Reza Indragiri Amriel kepada republika.co.id, Ahad (29/4).

Berkat masifnya penyebaran informasi via medsos, di masa yang berat seperti sekarang, Reza membayangkan ada orang-orang yang menyambut tawaran (iklan) tersebut. Orang tersebut lalu melakukan killing spree. Setelah selesai, dia tagih bayarannya kepada si otak (mastermind).

Si otak mulai merasa bahwa membiayai pembunuhan merupakan cara yang bisa dia lakukan untuk mencapai kepentingan pribadi. Di lain sisi, lanjut Reza, kondisinya bersimbiosa. Muncul orang-orang yang merasa bahwa mereka bisa sewaktu-waktu mendapat uang karena di luar sana ada cukong yang mau membayar mereka.

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia ini mengkhawatirkan pada situasi itu orang baik bisa dengan mudah menjadi orang jahat, dan orang jahat sering terlihat sebagai orang baik.

Reza menambahkan, faktor struktural dan kultural di kawasan perkotaan terbukti positif untuk memprediksi pembunuhan berseri. Secara struktural ada kepadatan populasi, yaitu wilayah yang luas, perkotaan, dan berpenghuni padat. Secara kultural, ada nilai-nilai yang menoleransi kekerasan pada diri sebagian orang.

''Itu merupakan area ideal bagi kondisi anonim, menyediakan banyak korban, dan menyediakan banyak orang yang rapuh sebagai calon eksekutor,'' ujar Reza.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:GoNews Group, Hukrim
wwwwww