Home > Berita > Umum

Terima Penghargaan Penyelamat Lingkungan di Riau, Mbah Sadiman Akan Tanam Pohon Bareng Wartawan DPR di Wonogiri

Terima Penghargaan Penyelamat Lingkungan di Riau, Mbah Sadiman Akan Tanam Pohon Bareng Wartawan DPR di Wonogiri
Mbah Sadiman (jaket hitam) saat dialog Press Gathering Wartawan Koodinatoriat DPR RI di Pendopo Kabupaten Wonogiri. (
Sabtu, 08 April 2017 11:23 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
WONOGIRI - Seorang diri, Mbah Sadiman memerdekakan desanya dari kekeringan. Selama 20 tahun, Mbah Sadiman mengeluarkan uangnya sendiri dan tenaga untuk menanami Hutan Gendol. Hasilnya, dua desa terbebas dari kekeringan akibat kerusakan hutan.

Atas jerih payahnya tersebut, mbah Sadiman yang dianggap sebagai orang gila, justru mendapat penghargaan sebagai Penyelamat lingkungan dari Presiden di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, 2016 yang lalu. Iapun disambut semarak dalam pesta rakyat di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, sebuah desa di lereng Gunung Gendol, ujung timur Kabupaten Wonogiri.

Di sepanjang jalan-jalan berbatu terpasang bendera Merah Putih, lampu hias, dan deretan boneka orang-orangan sawah yang dibuat mirip tentara pejuang.

Sadiman yang hanya petani, setiap hari menapaki jalan sempit berbatu di tepi jurang menganga. Kakinya masih cukup kuat dan cekatan menyusuri jalur terjal naik-turun di antara rumput dan batuan.

Hampir setiap hari ia menjelajahi hutan, jika tidak sedang mengerjakan ladangnya. Ia bertani padi, tetapi lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus pohon-pohon beringin yang ia tanam di hutan atas.

Sejak awal 1990-an, mbah Sadiman terus menanam bibit pohon di Hutan Gendol yang adalah hutan negara. Sampai saat ini sedikitnya 11.000 pohon - 4.000 di antaranya beringin sudah ia sedekahkan untuk alam. Karenanya, Sadiman menjadi satu-satunya orang yang mendapat izin menanami lahan yang dikelola oleh Perhutani itu.

Dalam acara Press Gathering Wartawan Koodinatoriat DPR di Pendopo Kabupaten Wonogiri, Sabtu (8/4/2017), bersama Wakil Ketua DPR RI, Mbah sadiman kepada GoNews.co mengatakan, pada awalnya dia mau menanam pohon karena dirinya yakin, jika sumber air ada karena pohon.

"Niat saya dari awal hanya ingin menghidupkan sumber air di gunung yang sudah lama kering. Saya pertama kali menanami beringin karena pohon ini bisa menyimpan cadangan air tanah," kata Sadiman.

Kebakaran yang pernah melanda dan penebangan pohon telah membuat hutan gundul dan mata air mati. Penduduk Desa Geneng dan Conto yang terletak di lereng selalu mengalami defisit air bersih pada musim kemarau. Sungai yang menjadi satu-satunya sumber air mengering.

Namun keadaan mulai membaik beberapa tahun lalu. Usaha Sadiman menuai hasil setelah beberapa mata air yang bersumber di Gunung Gendol kembali mengalir dan mampu menghidupi sedikitnya 3.000 jiwa.

Bahkan di saat musim kemarau panjang, ketika wilayah Wonogiri lainnya mengalami kekeringan dan mengandalkan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, desa tempat tinggal Sadiman bebas krisis air. Setidaknya, mata air masih mencukupi kebutuhan minum dan sanitasi.

Di bagian hulu, deretan pipa paralon mengalirkan air dari mata air dan meneruskannya ke bak-bak penampungan di setiap rumah. Penduduk saat ini bisa menikmati air segar pegunungan secara gratis. Mereka cukup menyediakan dana swadaya untuk membuat instalasi pipa.

Bagi Sadiman, kemerdekaan itu sederhana, yaitu hutan kembali hijau, mata air kembali deras dan mencukupi kebutuhan semua orang, termasuk untuk irigasi ladang.

"Memang belum semua desa bisa teraliri air. Saya ingin lebih banyak penduduk bisa menikmati air bersih," kata Sadiman.

Keberhasilan Sadiman memperbaiki hutan kini menimbulkan kesadaran bagi warga setempat tentang pentingnya pohon. Sebagian masyarakat yang dulu abai terhadap penghijauan dan menganggap usaha Sadiman sia-sia, kini mulai ikut peduli terhadap lingkungan.

Pekerjaan Sadiman sebagai petani dan pencari rumput untuk ternak memang tidak menjanjikan banyak materi, bahkan mungkin jauh dari cukup. Namun, ia rela mengeluarkan uangnya sendiri untuk membeli bibit pohon beringin, sedikit demi sedikit.

Harga bibit beringin yang berkisar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 cukup mahal baginya. Untuk menyiasati kendala biaya, awalnya ia mencangkok pohon di hutan untuk memperoleh bibit secara gratis. Namun cara ini butuh banyak usaha dan waktu.

Ia kemudian mengembangkan usaha bibit cengkih di halaman rumahnya untuk dijual dan ditukarkan dengan bibit beringin. Sepuluh bibit cengkih bisa ditukar dengan satu bibit beringin ukuran satu meter.

Sadiman menanam dan merawat pohon-pohonnya dengan serius. Ia membeli sendiri pupuk untuk mendukung pertumbungan tanaman, membuat tulisan larangan penebangan pohon di hutan, dan menyiapkan beberapa kader pemuda untuk peduli merawat hutan.

"Saya selalu mengajak anak muda untuk menanam pohon dan melarang menebangnya. Pohon menopang hidup kita, menyediakan air bersih dan menahan erosi dan banjir," kata Sadiman.

Pekerjaan Sadiman bukanlah tanpa kesulitan. Tidak semua pohon yang ia tanam tumbuh begitu saja. Banyak yang rusak, mati, atau dipangkas orang untuk makanan kambing, namun ia tak gampang menyerah dan terus menanam bibit baru.

Bahkan ada juga pohon yang dicabut orang yang tidak setuju lahan yang disewa untuk merumput, ditanami pohon oleh Sadiman. Beberapa kali ia terpaksa mengumpulkan uang untuk membayar sewa lahan agar ia bebas menanami pohon.

"Saya bayar sebagai ganti rumputnya agar saya bebas menanami pohon tanpa diganggu," kata Sadiman.

Dari rumah menuju hutan, Sadiman harus berjalan kaki 3 kilometer karena tak memiliki sepeda, motor, maupun alat transportasi lainnya. Karenanya, ia bisa pulang-pergi ke lereng gunung membawa bibit pohon untuk ditanam dua kali sehari.

Sadiman sadar bahwa penghijauan adalah pekerjaan jangka panjang yang hasilnya baru bisa dinikmati dalam hitungan tahun. Karenanya, menghijaukan hutan tidak hanya butuh kesabaran, melainkan juga usaha yang terus berkesinambungan.

Guna memberikan apresiasi terhadap pekerjaan Mbah Sadiman. Rencananya hari ini, Pemkab Wonogiri bersama Wartawan DPR RI dan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, akan melakukan penanaman pohon di sekitar Waduk Gajah Mungkur.***

wwwwww