Rumah Batu Olak Kemang, Jejak Keberagaman di Jambi

Rumah Batu Olak Kemang, Jejak Keberagaman di Jambi
Makam keluarga Sayyid Idrus alias Habib Jufri alias Pangeran Wiro Kusumo. (Liputan6.com/Bangun Santoso)
Sabtu, 08 April 2017 13:59 WIB
BERDASARKAN- keterangan Syarifah Aulia, Jambi pada masa 1800 hingga 1900-an diisi banyak kegiatan syiar agama Islam. Banyak saudagar dan penyiar agama asal Arab masuk ke Sumatera melalui pantai timur hingga masuk ke Jambi melalui jalur sungai Batanghari. Salah satunya adalah Sayyid Idrus alias Pangeran Wiro Kusumo.

Sayyid Idrus juga dikenal dengan nama Habib Idrus, kakeknya disebut sebagai seorang Arab tulen yang berasal dari semenanjung Arab dan bermigrasi ke Hindia Timur pada abad ke-18. Sayyid Idrus disebut memiliki darah Jambi karena ayahnya beristri seorang perempuan Melayu dari keluarga kesultanan Jambi.

Syarifah Aulia mengatakan, tidak diketahui secara pasti kapan tanggal lahir Sayyid Idrus. Namun berdasarkan dokumen Belanda, Sayyid Idrus berumur 40 tahun pada 1879. Dokumen itu juga mencatat sang habib meninggal pada 1905.

Selain sebagai habib sekaligus penyiar Islam, Sayyid Idrus juga dikenal sebagai seorang mediator ulung. Masuknya kolonial Belanda di Jambi kerap menimbulkan konflik dengan masyarakat Jambi kala itu. Di sinilah Sayyid Idrus muncul sebagai penengah.

Karena kharisma dan kecakapannya, Sayyid Idrus diizinkan menikahi salah satu putri Sultan Nazarudin. Dari pernikahan ini, Sayyid Idrus diyakini menerima gelar Pangerah Wiro Kusumo yang disematkan oleh keluarga Kesultanan Jambi saat itu.

Pada masa jayanya, Sayyid Idrus dikenal sebagai dermawan yang kaya. Ia juga disegani Belanda karena kecakapannya sampai memiliki peran kuat di kesultanan. Ia bahkan diberi jabatan tinggi sebagai wakil sultan di ibu kota. Sebab, pada masa itu, seorang sultan memilih tinggal jauh dari ibu kota untuk menjauhkan diri dari Belanda.

Sebelum meninggal dunia, Sayyid Idrus mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jami Al Ikhsaniyah. Ia juga dimakamkan tak jauh dari rumah batu dan masjid tersebut.

Meski kondisinya yang terancam roboh, keberadaan rumah batu Olak Kemang ternyata menjadi magnet bagi sejumlah jurnalis maupun mahasiswa dari luar negeri. Berkali-kali situs bersejarah ini menjadi bahan penelitian atau observasi.

Mulai dari penelitian mahasiswi asal Inggris bernama Fiona Kerlogue. Kemudian datang sejumlah jurnalis dari CCTV (China), Taiwan Macroview (Taipeh), harian China News Service dan sejumlah media asing lainnya.

"Kalau media dalam negeri sudah banyak meliput rumah batu ini," ucap Syarifah.

Meski dikenal sebagai cagar budaya Jambi, nyatanya rumah yang juga disebut juga "Rumah Rajo" ini belum dikelola sebagai aset wisata. Padahal, lokasinya kerap dikunjungi wisatawan baik lokal maupun luar daerah.

Perawatan rumah tua ini sampai sekarang masih dilakukan seadanya oleh pihak keluarga dari keturunan almarhum Sayyid Idrus atau Pangeran Wiro Kusumo. Di mana saat ini tanggung jawab perawatannya berada di pundak Ibu Syarifah Aulia. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:liputan6.com
Kategori:GoNews Group
wwwwww