Perbankan Syariah Kerap Diguncang Isu Tidak Halal

Perbankan Syariah Kerap Diguncang Isu Tidak Halal
Ilustrasi
Sabtu, 08 April 2017 11:01 WIB

MEDAN-Pada dasarnya Bank Syariah beroperasi menurut ketentuan Alqur’an dan Hadits. Jika kita berbicara mengenai syariah, sudah barang pasti kita berbicara mengenai islam. Namun jika kita berbicara mengenai perbankan syariah, sudah pasti Bank Syariah itu bukan berarti hanya untuk yang muslim saja. Demikian dikatakan Pengamat Ekonomi Sumut, Gumawan Benyamin kepada wartawan hari ini.

"Yang non muslim pun dapat memanfaatkan jasa perbankan syariah tersebut. Jadi yang non muslim pun memiliki kesempatan untuk menabung, mendapatkan pembiayaan, ataupun bekerja di bank syariah tersebut," katanya.

Dia menjelaskan dan sejauh ini tidak sedikit dari masyarakat yang non muslim juga memanfaatkan Bank Syariah sebagai pusat layanan keuangannya. Dan di sejumlah Negara besar seperti di Eropa dan Amerika. Penabung maupun yang bekerja di Bank Syariah juga banyak yang non muslim. Jadi meskipun Bank Syariah ini beroperasi sesuai dengan ajaran islam, akan tetapi Perbankan Syariah disini sifatnya Universal, terbuka untuk umum.

Nah terkait dengan masyarakat yang meragukan operasional Bank Syariah ini. Saya pikir letak masalahnya ada di pemahaman. Atau mungkin ruang lingkup pemahamannya tidak melihat aspek lain seperti persaingan antar bank, efisiensi di operasionalnya, ataupun target karyawan Bank itu sendiri, sehingga tidak komperhensif. Jadi begini, tidak sedikit mereka yang membandingkan antara ilmu pengetahuan tentang suatu akad dengan realitanya.

Pengalaman saya itu begini. Kalau akad murabahah adalah akad jual beli, dimana penjual menjelaskan nilai perolehannya. Nah ada masyarakat yang membeli kendaraan bermotor lewat lembaga keuangan syariah, biasanya itu kan akadnya Al Ijarah atau terkadang Murabahah. Tidak sedikit dari mereka yang menanyakan kenapa pegawainya tidak menyebutkan nilai perolehannya.

"Nah disini yang terkadang masyarakat perlu untuk di edukasi. Padahal yang namanya harga kendaraan itu kan bisa mudah didapatkan. Lihat daftar harga lewat internet atau seleberan saja sudah dapat. Nah hal-hal seperti ini yang seharusnya bisa disikapi dengan bijak. Agar pemahaman masyarakat itu bisa diluruskan. Itu cuman salah satu contoh kecil saja," paparnya.

Dia menegaskan dan dibutuhkan kesediaan pegawai Bank atau lembaga keuangan untuk memberikan pemahaman agar tidak timbul persepsi bahwa Bank Konvensional itu sama saja dengan Bank Syariah. Termauk karyawan Bank Syariah yang non muslim, harus benar-benar menguasai ilmu perbankan syariah tersebut. Kalau melihat kepada produk hasil perbankan memang sekilas tidak ada bedannya dengan yang konvensional. Jadi analoginya itu begini. Jika kita menyembelih dua ekor ayam. Yang satu disembelih 
dengan cara islam, yang satu lagi tidak.

"Selanjutnya ayam-ayam tersebut diolah oleh tukang masak yang sama. Jadi bisa dipastikan ayam yang 
dipotong secara islam itu yang Halal. Meskipun ayam-ayam tersebut memiliki rasa yang sama karena 
dimasak oleh tukang masak yang sama. Jadi dalam konteks ini kita tidak melulu membandingkan produk 
perbankan konvensional dan syariah. Kita juga perlu memperhatikan prosesnya. Nah percayakan kepada 
Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI untuk mengenai kehalalan Bank Syariah tersebut," ungkapnya.

Dia menerangakan selama mendapatkan predikat syariah dari DSN MUI kita tidak perlu kuatir. Bahkan menurut saya Bank Syariah memiliki variasi pembiayaan yang beragam dan tentunya memang lebih menjanjikan dalam alternatif pembiayaan. Dalam konteks persaingan antar Bank, terkadang Bank Syariah harus tetap hidup meskipun Bank Syariah ini sampai sekarang masih jauh lebih kecil dari Bank konvensional. Jadi paradigma bahwa Bank Syariah itu harus bisa lebih menguntungkan secara ekonomi juga salah. Terkadang miris mendengar argumen sejumlah orang yang membandingkan bahwa apa gunanya menggunakan Bank Syariah, kalau Bank Konvensional lebih menguntungkan. Karena dalam konteks ini motif ekonomi yang menjadi ukurannya.

loading...
Editor:Wewen
Kategori:Ekonomi, GoNews Group
wwwwww