Sebulan Terbentuk, Komunitas Batik Depok Bertekad Kembangkan Fashion dan Aksesories Berbahan Batik

Sebulan Terbentuk, Komunitas Batik Depok Bertekad Kembangkan Fashion dan Aksesories Berbahan Batik
Foto: istimewa.
Senin, 03 April 2017 23:28 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Meski baru berumur satu bulan, Komunitas Batik Kota Depok, bertekad untuk mengembangan Batik Depok, tidak hanya sekedar fashion, tapi juga sekaligus aksesorisnya.

Tekad mengembangkan batik dan aksesoris dari Komunitas Batik Depok ini tentunya juga butuh dukungan dari semua pihak, termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah.

Hal ini diungkapkan Ketua Komunitas Batik Depok, Ambar saat menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Komunitas Disainer Etnic Indonesia (KDEI) Raizal Boeyoeng Rais di Resto Kashanti, Senin (3/4/2017).

"Selain dukungan juga perlu ada tekad dan usaha keras para anggota komunitas yang terdiri dari 15 orang," ujarnya.

Cita-cita Ambar tentu tidak hanya hayalan belaka, pasalnya dari 15 Anggota komunitas ini juga terdiri dari kalangan pengusaha batik dan aksesoris batik.

Namun demikian kata Ambar, dari jumlah 15 orang tersebut, baru 3 orang yang benar-benar mengembangkan usaha batik, termasuk membuat desain dengan motif batik. Diantaranya adalah motif batik pewarna alam, batik Gong Sibolong dan Batik Topeng Cisalak.

Tekad mengembangkan batik itu sendiri kata Ambar, karena saat ini Batik Depok belum berkembang baik dan belum mendapat perhatian dari banyak pihak. "Batik Depok belum dikenal, orang Depok sendiri juga masih jarang memakainya," tandasnya.

?Namun katanya lagi, segala usaha tetap dilakukan agar masyarakat mengenal lebih jauh tentang Batik Depok. Salahsatunya adalah mengenakan lewat perlombaan desain. Hal ini pernah dilakukan Pemerintah Kota Depok dengan menggelar lomba membuat desain Batik Depok yang diikuti lebih dari 100 desainer.

Dan saat itu ada 10 terbaik yang kemudian dipatenkan. "Tapi batik yang dipatenkan itu tidak pernah diproduksi, apalagi dijual di Depok, kecuali dua desain yang dipakai untuk seragam aparatur sipil negara (ASN) Kota Depok sendiri," paparnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Depok Reinova yang juga hadir dalam pertemuan tersebut mengaku kaget, karena ternyata Depok sudah memproduksi batik sendiri. "Yang saya tahu selama ini Batik Depok diproduksi di daerah lain," kata Reinova.

Dengan kekagetan Anggota DPRD tersebut, membuktikan bahwa Batik Depok memang belum dikenal masyarakat. Guna meyakinkan Reinova, Ambar pun memperlihatkan beberapa batik yang diproduksi di Depok.

Saat itu juga, Reinova langsung bersemangat. "Wah, kalau gitu harus kita kembangkan. Sekarang apa permasalahannya," kata Reinova.

Mendapat pertanyaan dari sang dewan, Ratna salah satu peserta yang mengembangkan Batik Gong Sibolong pun langsung mengutarakan kendala yang ia hadapi. "Kendala kami adalah soal mendapatkan bahan, kemudian kita juga tidak bisa melakukan proses pewarnaan di Depok, karena tidak dapat izin amdal dari Pemkot Depok, akhirnya kami lakukan di Bogor. Kami sewa tempat bersama teman-teman di Bogor," kata Ratna.

Dengan demikian, pihaknya tidak bisa menyiapkan bahan baku dalam jumlah banyak dan itu berpengaruh terhadap proses produksi batik.

Menanggapi informasi itu, Reinova pun berjanji akan mengecek Perda RT RW, di daerah mana yang memungkinkan dilakukan proses pewarnaan bahan baku batik itu di Depok.

Soal pemasaran, menurut Ratna, tidak sesulit penyediaan bahan baku, karena desain Batik Depok sudah mulai dikenal di luar, termasuk di luar negeri. Tapi karena produksinya masih terbatas, tidak bisa melakukan pemasaran secara luas.

Hal itu juga diakui Idawati, salah satu anggota komunitas yang mengembangkan aksesoris dari bahan batik. "Saya banyak permintaan tas tangan bahan dasar batik, tapi karena produksi Batik Depok masih terbatas saya terpaksa menggunakan batik daerah lain," kata Ida.

Dengan segala persoalan dan permasalahan diatas, Ketua KDEI Raizal Boeyoeng Rais mencoba memberikan solusi agar Batik Depok tampil dan bisa menjadi tuan di kotanya sendiri. Dengan demikian maka segala kesulitan dan kendala bisa segera didapat solusinya.

Supaya gerakan memajukan Batik Depok lebih masif lagi, Boeyoeng mengusulkan agar dibuat lomba desain Batik Depok bagi siswa-siswa SMK jurusan tata busana.

"Ini penting, karena anak-anak muda itu yang akan meneruskan dan mengembangkan Batik Depok ke depan. Dari sekarang mereka harus dilibatkan,” kata Boeyoeng.

Boeyoeng pun berjanji akan membantu mendatangkan desainer nasional ke Depok guna memberikan pelatihan dari mulai membuat desain, membuat pola dan sebagainya.

Usulan Boeyoeng itu disambut baik oleh Kepala Bidang Industri Pemkot Depok, Catur Sri Astuti yang juga hadir dalam pertemuan itu. "Baik, kalau begitu kita adakan acara semacam seminar untuk membahas pengembangan Batik Depok, kita janji akan berusaha mengenakan batik ini sampai mendunia," tandas Catur.

Dalam waktu dekat Komunitas Batik ini akan mengadakan audiensi dengan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian. "Kami berharap juga bisa bertemu Ketua Dekranasda Depok, Bunda Elly," kata Ratna. (***/dnl)
loading...
wwwwww