Diduga Terkait Sengketa Lahan, Markas Koramil Pecah Dilempar Warga

Diduga Terkait Sengketa Lahan, Markas Koramil Pecah Dilempar Warga
Jendela markas Koramil 08 Makassar dilempar batu. (foto: Merdeka.com/Salviah Ika Padmasari)
Rabu, 22 Maret 2017 21:36 WIB

MAKASSAR - Sengketa lahan asrama TNI Bara-baraya di Makassar kian berlarut. Sejak beberapa hari lalu, warga yang masih bertahan memblokir akses jalan masuk ke arah 28 rumah.

Pemblokiran ini dimaksudkan untuk menghalang pihak TNI masuk ke lokasi tersebut untuk melakukan penertiban.

Imbasnya terjadi pelemparan ke arah markas Koramil 08 yang tidak jauh dari lokasi sengketa, dekat Mapolsek Makassar. Dinding kaca di bagian depan markas itu pecah akibat lemparan tersebut.

Komandan Kodim 1408/BS Makassar, Letkol Kav Otto Sollu yang ditemui di markas Koramil 08 sore tadi mengakui jika pelemparan tersebut diduga kuat terkait dengan sengketa lahan asrama TNI Bara-baraya.

"Kejadiannya sekitar pukul 08.00 pagi tadi, pelakunya adalah warga yang melintas yang kami yakin sebenarnya tidak mengerti apa-apa tapi kemudian melakukan aksi pelempatan. Hal ini telah dilaporkan ke Polsek Makassar," ujar Otto Sollu, Rabu (22/3).

Dandim 1408/BS Makassar ini menjelaskan, status lahan yang ditinggali warga ini adalah status pinjaman dari seorang warga sejak puluhan tahun silam bernama Moedhinoeng Daeng Matika.

Kodam VII/Wirabuana saat itu diberikan kesempatan membangun asrama TNI di atas lahan seluas 22 ribu meter persegi dari luas lahan pemilik tanah yang sesungguhnya 32 ribu meter persegi.

Lahan itu dipinjamkan karena pemilik tanah tersebut prihatin terhadap para prajurit TNI yang banyak tidak punya rumah saat itu.

"Kini ahli waris pemilik tanah itu meminta kembali lahan yang dipinjamkan dan kita sebagai peminjam tentu wajib mengembalikan karena memang bukan milik kita. Kita telah berkali-kali melakukan rapat dengar pendapat dengan pihak DPRD, pihak BPN dan warga setempat, hasilnya membenarkan kalau lahan yang ditinggali warga itu adalah milik warga Moedhinoeng Daeng Matika yang kini ditagih oleh ahli warisnya. Makanya sebagian warga di dalam asrama itu sudah tinggalkan lokasi kecuali 28 rumah yang masih bertahan di dalam," urai Otto Sollu.

Ditambahkan, tidak seharusnya terjadi penyerangan ke instansi militer. Kalau ada masalah harus diselesaikan dengan baik, jangan melakukan tindakan anarkis.

"Tapi dinding kaca ini sudah diganti oleh warga sendiri atas kesadaran mereka. Itu karena selama ini memang masih terjalin hubungan baik antara warga setempat dan TNI," pungkasnya. (mdk)

loading...
Editor:Arie RF
Sumber:merdeka.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Hukrim
wwwwww