Kemenpar

Ssttt... Jokowi Mulai Tak Nyaman dengan Manuver Panglima TNI, Benarkah?

Ssttt... Jokowi Mulai Tak Nyaman dengan Manuver Panglima TNI, Benarkah?
Presiden Joko Widodo dalam seragam TNI. (foto: jpnn.com)
Selasa, 10 Januari 2017 07:05 WIB
JAKARTA - Presiden Joko Widodo dikabarkan merasa kurang happy dengan manuver Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo akhir-akhir ini. Jokowi --panggilan beken sang presiden-- bahkan merasa perlu memanggil Gatot dan menegurnya.Sebagaimana diberitakan REUTERS yang dilansir jpnn.com, Presiden Jokowi pekan lalu memanggil Jenderal Gatot untuk bertemu di Istana Bogor. Dalam pertemuan itu, Jokowi memperingatkan Gatot yang terus menyuarakan pendapatnya bahwa Indonesia dikepung oleh proxy war.

Kalangan analis dan beberapa pembantu Presiden Jokowi memang merasa waswas dengan upaya Jenderal Gatot memperluas peran TNI dalam urusan sipil di Indonesia. Menurut sumber yang juga pejabat pemerintah, Presiden Jokowi pun merasa perlu bertindak untuk menunjukkan kewenangannya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI.

“Dengan Gatot, perasaan sepertinya dia sedikit di luar kontrol,” ujar sumber REUTERS itu dalam artikel berjudul Indonesia's president moves to rein in "out of control" military chief.

Ads
Sumber lainnya di kalangan elite juga membenarkan adanya pertemuan antara Presiden Jokowi dan Jenderal Gatot di Istana Bogor. Sumber itu juga menyebut Presiden Jokowi secara tak resmi menegur Gatot dalam pertemuan itu.

Beberapa hari ini nama Jenderal Gatot memang kian kondang seiring keputusannya menghentikan kerja sama TNI dengan Australian Defence Force (ADF). Alasan Gatot menghentikan kerja sama itu karena ada materi pelatihan militer di Perth yang menyinggung TNI dan menghina Pancasila.

Namun, manuver itu tidak hanya menimbulkan spekulasi di Australia, tetapi juga memunculkan kecurigaan di elite pemerintahan. “Kami menduga Gatot mengeksploitasi insiden itu untuk agenda politiknya sendiri, ambisi politiknya sendiri,” ujar sumber yang juga pejabat teras di pemerintahan Jokowi itu.

Selain itu, Gatot akhir-akhir ini juga sering muncul dan berbicara di publik. “Terus terang, kami berpikir banyak di antara perang proxy dan ancaman terhadap Indonesia benar-benar konyol,” tegasnya.

Namun demikian, Presiden Jokowi tidak sampai pada keputusan memberhentikan Gatot dari posisi Panglima TNI. “Untuk saat ini, kami percaya bahwa dia tidak akan mengkhianati presiden atau pemerintahan sipil,” tutur sumber itu.

Seperti diketahui, beberapa pernyataan Jenderal Gatot memang menggegerkan. Contohnya soal prediksinya bahwa Tiongkok akan mengalami kekurangan bahan pangan sehingga memicu warganya mengungsi menggunakan perahu menuju Indonesia.

Gatot mengaku sudah siap mengantisipasi jika prediksinya tentang serbuan pengungsi Tiongkok benar-benar terjadi. Caranya adalah dengan memotong puluhan ekor sapi dan melemparkannya ke laut untuk menarik hiu yang akan melahap pengungsi Tiongkok.

Tentara kelahiran Tegal, 13 Maret 1960 itu juga pernah membuat tulisan pada 2015 perihal kekuatan asing yang akan melemahkan Indonesia melalui media, sistem pendidikan, organisasi Islam, perusahaan dan partai politik dalam rangka melemahkan NKRI. Menurutnya, kekuatan asing itu juga akan memperkuat kontrol terhadap aparat keamanan dan industri-industri strategis.

Gatot juga curiga dengan membanjirnya narkoba dari mancanegara yang menurutnya merupakan bagian dari upaya melemahkan generasi muda Indonesia. Selain itu, dia juga menyebut ada upaya membuat generasi muda Indonesia menjadi semakin permisif.

Sedangkan yang masih hangat adalah pernyataan Gatot bahwa Australia mengincar perwira-perwira terbaik TNI untuk dijadikan mata-mata ataupun sumber informasi bagi Negeri Kanguru itu. Namun, Menteri Pertahanan Australia Marise Payne membantah tuduhan itu.(ara/jpnn)

Editor : Arie RF
Sumber : jpnn.com
Kategori : GoNews Group, Pemerintahan, Politik
www www