Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Batalkan Pesanan, Takmir Masjid Dipukul dan Kemaluannya Ditarik Pengusaha Pasir
Hukum
23 jam yang lalu
Batalkan Pesanan, Takmir Masjid Dipukul dan Kemaluannya Ditarik Pengusaha Pasir
2
Oknum Pendeta Cabul Dipecat dari Gereja Happy Family Center
Hukum
23 jam yang lalu
Oknum Pendeta Cabul Dipecat dari Gereja Happy Family Center
3
Diduga Keracunan, Ratusan Santri di Bengkulu Dilarikan ke Rumah Sakit
Pendidikan
21 jam yang lalu
Diduga Keracunan, Ratusan Santri di Bengkulu Dilarikan ke Rumah Sakit
4
Aksi Tolak Omnibus Law Chaos di Yogyakarta
Politik
23 jam yang lalu
Aksi Tolak Omnibus Law Chaos di Yogyakarta
5
Polisi Amankan Sejumlah Orang yang Hendak Rusuh Saat Demo di Depan DPR
Peristiwa
23 jam yang lalu
Polisi Amankan Sejumlah Orang yang Hendak Rusuh Saat Demo di Depan DPR
6
Rumah Tak Layak Huni Jadi Target Operasi dan Incaran TNI AD
Ekonomi
23 jam yang lalu
Rumah Tak Layak Huni Jadi Target Operasi dan Incaran TNI AD
Loading...
Home  /   Berita  /   Ekonomi
Unand Anugerahkan Gelar Doktor Kehormatan Untuk Tan Sri Datok Utama Rais Yatim

Nasi Padang Harus Melintas Pasifik dan Atlantik

Nasi Padang Harus Melintas Pasifik dan Atlantik
Pramusaji di Rumah Makan Padang akan menghidangkan makanan. (ist)
Kamis, 27 Oktober 2016 06:36 WIB
PADANG - Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno hadir dalam acara Rapat Senat Terbuka Universitas Andalas dalam Rangka Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa - Dr.HC) dalam Bidang Hukum dan Kemasyarakatan kepada Tan Sri Datok Seri Utama Dr. Rais Yatim (Tan Sri Rais) yang diselenggarakan di Convention Hall, Kampus Universitas Andalas (Unand), Limau Manis, Padang Rabu (26/10/2016).

Selain Gubernur Sumatera Barat, acara penganugerahan ini juga dihadiri oleh Perwakilan Duta Besar Kerajaan Malaysia di Indonesia, Segenap Unsur pimpinan daerah Provinsi Sumatera Barat, Walikota dan Bupati, Anggota Senat dan Majelis Guru Besar Unand, Rektor Unand, Wakil Rektor Unand, Dekan Fakultas Hukum Unand, Wakil Dekan Fakultas Hukum Unand, sejumlah unsur pimpinan perguruan tinggi di Sumatera Barat, Dosen, Mahasiswa, dan segenap civitas akadimika Unand.

Tan Sri Rais, yang dilahirkan oleh orang tua yang berasal dari Nagari Palupuah, Kabupaten Agam, kini dipercaya sebagai Penasehat Sosio-Budaya Kerajaan Malaysia yang juga menjabat sebagai Presiden Universitas Islam Antar-Bangsa Malaysia. Sebelumnya, ia pernah menduduki berbagai jabatan menteri di bawah lima Perdana Menteri Malaysia sejak 1974 hingga 2013, antara lain: Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (1974-1976); Wakil Menteri Undang-Undang (1976-1977); Wakil Menteri Dalam Negeri (1977-1978); Menteri Besar Negeri Sembilan (1978-1982); Menteri Tanah dan Pembangunan Wilayah (1982-1984); Menteri Penerangan dan Juru Bicara Kabinet (1984-1986); Menteri Luar Negeri (1986-1987); Menteri Kebudayaan Kesenian dan Warisan (2004-2008); Menteri Luar Negeri (2008-2009); dan terakhir, sebagai Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan (2009-2013).

Tiga Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Andalas, Yuliandri, Firman Hasan, dan Yaswirman, yang juga merupakan Tim Promotor Penganugerahan Gelar Dr.HC bagi Tan Sri Rais, menyebutkan bahwa Tan Sri Rais patut menerima Gelar Kehormatan Bidang Hukum dan Kemasyarakatan dari Unand karena Tan Sri Rais adalah figur yang telah berjasa dalam mengembangkan hubungan baik bangsa dan negara Indonesia dengan bangsa dan negara lain di bidang ilmu pengetahuan, teknlogi, seni, sosial, budaya, kemanusiaan, dan kemasyarakatan terutama dalam kaitannya dengan mengembangkan hubungan kemasyarakatan serumpun Indonesia dengan Malaysia yang ia ejawantahkan dengan pendirian Yayasan Ikatan Rakyat Malaysia-Indonesia (YIRMI) yang memiliki program, antara lain untuk; mempromosikan program dan aktivitas kemasyarakatan, seni budaya dan warisan melalui pelibatan rakyat kedua negara sesuai waktu dan urusan; meningkatkan jaringan dan kerjasama pertukaran informasi bersama melalui Non-Governmental Organization (NGO), masyarakatm serta media massa kedua negara; pertukaran tenaga pengajar dan pelajar di antara berbagai lembaga kedua negara; dan, kerjasama antara lembaga-lembaga swasta yang memberi manfaat bagi kedua negara.

Disebutkan oleh Yuliandri lebih lanjut, "Tan Sri Rais adalah tokoh utama yang sangat gigih mempromosikan hubungan persaudaraan rakyat serumpun Indonesia-Malaysia. Selain YIRMI, ia juga penggagas Pertemuan Alumni Nusantara yang merupakan wadah bagi warga Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi di Malaysia. Ia jugalah yang mendirikan ISWAMI (Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia"

Selain pengembangan hubungan kemasyarakatan, dengan karya dan pemikirannya yang tertuang dalam 'Adat, The Legacy of Minangkabau', Tan Sri Rais telah berupaya melakukan harmonisasi serta mengembangkan konsep-konsep hukum, terutama hukum tata negara dan hukum adat Minangkabau.

Tim Promotor mengatakan, melalui karya ini, Tan Sri Rais telah berupaya menata dan mengajukan wacana pengembangkan adat Minangkabau sebagai pilar pengembangan Sistem Hukum Nasional dengan mempromosikan nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan prinsip kesamarataan yang terkandung dalam Adat Minangkabau ke Pambangunan Hukum nasional.

"Dalam karyanya, Tan Sri Rais hendak mengatakan bahwa hukum adat Minangkabau tidak ketinggalan dari Hukum Barat. Bahkan, di sana (Adat, The Legacy of Minangkabau) beliau menyebutkan dengan bangga bahwa prinsip demokrasi di Minangkabau telah lebih dahulu lahir daripada Magna Charta. Dalam artian, 'prinsip duduak samo randah, tagak samo tinggi' telah mendahului prinsip 'equality before the law'nya Barat," ujar Firman Hasan.

Dalam pidato penerimaan anugerahnya yang diberi judul 'Cabaran Masa Depan Tamadun Nusantara' sendiri, Tan Sri Rais mengutarakan 4 (empat) hal yang menurutnya patut dipertimbangkan dan ditindaklanjuti dalam rangka penguatan Soft Power dan Identitas Bangsa Melayu. Pertama, agar institusi pendidikan tidak lagi hanya bersandar pada rujukan-rujukan Barat, namun juga Timur. Hal ini agar perimbangan ilmu pengetahuan antara Timur dan Barat dapat diwujudkan.

"Kaji adat Minangkabau lebih banyak. Minangkabau dahulu pernah dipelajari oleh sarjana-sarjana besar luar negeri. Petik yang telah mereka dapat, ambil kembali, perbaharui, kembangkan dan jadikan pegangan dalam pergaulan sehari-hari," tandasnya dalam dialek melayu yang khas.

Kedua, Masyarakat Nusantara dan Rumpun Melayu perlu mengukuhkan jaringan Perguruan Tinggi sesama dalam bidang ilmu tertentu dengan tujuan mengukuhkan pola-pola pendidikan dan karakteristik untuk menunjang pengembangan budaya melayu. Ketiga, bahwa masyarakat Indonesia bertanggungjawab untuk mengantarkan dan menjamin bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu, komersil, dan lingua franca. "Mereka yang bertanggungjawab merumuskan perundang-undangan, kembali ke bahasa Indonesia, kembali ke bahasa Melayu. Ada umpama begini, jika bahasa bertukar, identitas perlahan tertukar," ujarnya lagi.

Terakhir, agar masyarakat nusantara tidak menerima mentah-mentah universalitas Hak Asasi Manusia (HAM) karena HAM tidak sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip adat dan budaya nusantara. "Puncakan perundangan kita dari tempat kita dahulu. Jangan tergila dan terperdaya dengan Human Right seolah itu prinsip surga. HAM itu bagus, namun jangan kita pakai semua karena di dalamnya tidak ada local wisdom, tidak ada adat kita," tegasnya masih dalam dialek melayu Malaysianya yang khas.

Menutup Pidato Penerimaan Anugerahnya, Tan Sri Rais mengutarakan, "Mereka (Barat), mengekspor budaya. Persoalan dari saya, kita mengekspor apa? Kita harus bisa ekspor pemikiran dan gagasan cerdik-pandai kita. Padang juga! Nasi Padang itu harus melintas Pasifik dan Atlantik!"

Acara Rapat Terbuka Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan ini diakhiri dengan penyerahan piagam, pemasangan salempang, dan penyematan pin alumni Unand kepada, dan foto bersama segenap Anggota Senat Unand dengan Tan Sri Rais. (Humas)

Editor : Calva
Kategori : Ekonomi, Pendidikan, GoNews Group, Sumatera Barat

Loading...
www www