Ferizal: Resolusi Jihad Melawan Kebatilan

Peringatan Hari Santri di Limapuluh Kota,

Peringatan Hari Santri di Limapuluh Kota,
Wakil Bupati Ferizal Ridwan foto bersama para santri dan santriwati upacara akbar hari santri di GOR Singa Harau
Minggu, 23 Oktober 2016 19:02 WIB
Penulis: Ilham Noviandre
LIMAPULUH KOTA--Seribuan santri dan santriwati dari puluhan pesantren MDA/MDTA dan Madrasah Tsanawiyah se Kabupaten Limapuluh Kota membanjiri lapangan GOR Singa Harau, Sarilamak, Sabtu kemarin. Bertepatan tanggal 22 Oktober, para siswa/siswi Islam ini, menggelar upacara peringatan Hari Santri Nasional 2016. 

Peringatan Hari Santri di Limapuluh Kota, ditandai dengan resepsi upacara akbar, yang digelar Pemkab dibawah intruksi Wabup Ferizal Ridwan, bersama jajaran Kementrian Agama Limapuluh Kota, dibawah pimpinan Gusman Piliang. Selain ribuan santri, upacara akbar tersebut turut diikuti ratusan guru MDA/MDTA dan Madrasah. 


Sesuai tema secara nasional, 'Dari Santri Untuk Indonesia', di Limapuluh Kota, momentum hari santri diharapkan bisa menjadi resolusi jihad melawan kebatilan. "Hari Santri ialah mata rantai perjuangan para Santri terhadap kemerdekaan RI, dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi pada 22 Oktober 1945. Dicetuskannya hari Pahlawan pada 10 November, berawal dari resolusi jihad para santri dan ulama," kata Wabup Ferizal Ridwan, dalam sambutannya saat prosesi upacara akbar, Sabtu (22/10). 

Menurut Ferizal, jika dirunut kembali sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, lahirnya hari Santri Nasional yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 setiap tanggal 22 Oktober, berawal ketika dicetuskannya resolusi jihad oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Kiyai H Hasyim Asy'ari. 

Resolusi jihad tersebut bertujuan untuk mencegah kembalinya tentara sekutu kolonial NICA yang tengah berupaya menguasai Kota Surabaya pada 22 Oktober 1945 silam. Jihad bagi kalangan santri itu berbunyi; "Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu'ain atau wajib bagi setiap individu."

Seruan itu, lanjutnya, kemudian membakar semangat para santri dan ulama arek-arek suroboyo, untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigjen Aulbertin Walter Sothem Mallaby. Sekitar 2.000 tentara Inggris tewan dalam pertempuran tiga hari itu. 

Insiden itu membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung kepada peristiwa 10 November 1945, yang diperingati sebagai hari pahlawan. "Ditetapkannya hari Santri oleh pemerintah pusat, menjadi wujud hak negara dan pimpinan bangsa memberi penghormatan kepada sejarah. Jadi, tidak ada alasan, bagi kita tidak mendukung peringatan Hari Santri," tuturnya.

Peringatan hari Santri tahun ini, diharapkan Ferizal, dapat menjadi mometum perbaikan nilai-nilai akidah umat, untuk melawan kebathilan. Disamping itu, juga menekankan agar para Santri bisa terus menjadi pelopor pembangunan serta memegang teguh ikrar janji santri, dalam menjaga aqidah Islam, ideologi dan keutuhan NKRI. 


Kepala Kantor Kemenag Limapuluh Kota, Gusman Piliang dalam sambutannya mengaku sangat berterima kasih serta mengapresiasi Pemkab Limapuluh Kota yang pro-aktif menyelenggarakan perintahan hari Santri. Bahkan, ia menyebut, upacara akbar Hari Santri di Limapuluh Kota tahun ini, menjadi peringatan Hari Santri terbesar di Sumatera Barat. 

Gusman Piliang menambahkan, ada beberapa alasan lain pascaditetapkannya Hari Santri oleh Pemerintah. Dimana, hingga kini jaringan Santri di seluruh pelosok negeri sudah membuktikan kepeloporan di seluruh lini pembangunan bangsa. 

Para Santri di pondok-pondok pesantren selalu berada di garda terdepan untuk mengawal keutuhan NKRI dan memperjuangkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara. "Oleh karena itu, kita sebagai anak bangsa, sedianya wajib memperingati hari Santri yang menjadi cikal-bakal sejarah bangsa ini," tutup Gusman Piliang.***

Editor : M Siebert
Kategori : Limapuluh Kota, GoNews Group, Umum

Loading...
www www