Loading...    
           

Semalam 'Disoedoet Kampoeng' Cara Komunitas Sahec Kembangkan Kearifan Lokal di Kota Sawahlunto

Semalam Disoedoet Kampoeng Cara Komunitas Sahec Kembangkan Kearifan Lokal di Kota Sawahlunto
Ide kreatif Semalam disoedoet Kampoeng yang diselenggarakan Sawahlunto Hertage Communty (Sahec) mendapat sambutan positif dalam rangka pengembangan destinasi wisata Sawahlunto. (Foto: Indra Yosef/Gosumbar)
Selasa, 24 Mei 2016 11:06 WIB
Penulis: Indra Yosef

SAWAHLUNTO - Dukung pelestarian nilai-nilai budaya yang bersumber dari kearifan lokal, sekelompok masyarakat menamakan  diri Sawahlunto Heritrage Community (Sahec) menggelar sebuah acara berbau kultur dengan tema “Semalam disoedoet Kampoeng” yang melukiskan tentang suasana kehidupan masyarakat dimalam hari pada masa silam. 

Acara tersebut berlangsung di Komplek Permuseuman Kota Sawahlunto, Sabtu (21/5/2016). Sesuai dengan temanya malam disudut kampung, maka suasana gelap dengan hanya menggunakan lampu teplok dan petromak berbahan bakar minyak tanah sangat mendominasi penerangan malam itu.

Konsep acaranya sangat sederhana, lebih mengedepankan kearifan lokal dimana masyarakat pada masa silam itu sepulang menambang dan dari ladang terbiasa duduk bercerita tentang sesuatu di warung-warung sambil menikmati hiburan rakyat ditemani secangkir kopi, teh manis, wedang jahe, dan minuman etnik lainnya bersama sajian kudapan ringan berbahan ubi kayu seperti tiwul, gorengan dan lepat-lepat, serta jenis makanan ringan lainnya. Perlu tahu, pramusajinya terdiri dari gadis cantik dan pemuda ganteng yang ramah penuh senyum.

Sebagaimana penelusuran GoSumbar.com, acara semalam di soedoet kampoeng itu cukup mengesankan dan sedikit unik. Warga yang berlalulalang dalam komplek permuseuman dengan luas sekitar 200 meter persegi itu diharapkan mengenakan pakaian jadul alias jaman dulu dengan celana panjang agak longgar, pakai songkok dan peci serta sarung yang terpasang melintang di badan. Meski listrik di lokasi itu bisa digunakan sebagai sarana penerangan, tapi yang di gunakan malam itu cukup dengan lampu teplok dan petromak.

Menurut penggagas iven, Yopie Sagit Tarmizi, acara tersebut dipersiapkan dengan waktu singkat sehingga dipastikan mengalami berbagai kelemahan dan kekurangan. Namun, katanya, karena kegiatan ini merupakan sebuah gagasan yang baru pertamakali dilakukannya, maka kelemahan dan kekurangan pasti ada, tapi dapat dijadikan sebuah pelajaran berharga untuk lebih mematangkan konsep sehingga lebih menarik dan bisa mendatangkan keuntungan ekonomi bagi warga.

Kesan cultural heritage malam itu cukup mewakili mimpi Yopie dengan teman-temannya dalam berkontribusi terhadap perkembangan Sawahlunto Kota Wisata Tambang Berbudaya. Supaya destinasi wisata di daerah lebih berkembang dan punya daya tarik, maka Sahec siap menunjukkan jati dirinya sebagai komunitas cinta pelestarian pusaka dan budaya.

Kreatifitas Sahec yang di gagas Opie ternyata mendapat respon positif Pemkot setempat, Wawako Ismet yang hadir memberikan sambutan pembukaan malam itu menyambut baik aktifitas Sahec sebagai bagian dari pendukung promosi pariwisata Sawahlunto kedepannya .

“Saya sangat mengapresiasi dan menyambut baik kreatifitas Sahec. Selaku pemerintah kami mendukung penuh kegiatan ini dapat diadakan setiap bulannya. Ini adalah momen silaturahim dan pelestarian budaya yang harus dikembangkan,” kata Ismet.

Untuk malam perdana kemarin, suguhan kesenian dimeriahkan Grup Randai dari Desa Lumindai. Diharapkan pada iven kedua nanti muncul grup kesenian dari desa dan kelurahan lain.

Sedangkan pada hari pertama ini pengunjungnya diramaikan para pejabat Pemko dan warga sekitar, maka kedepan harus dipikirkan bisa dikombinasi melibatkan travel agent dan Asosiasi Homestay Sawahlunto yang bisa mengemas dan “menjualnya” dalam bentuk paket bagi wisatawan baik domestik mapun mancanegara. (Ind)


Loading...
wwwwww