Home > Berita > Umum
Harga Jagung Tidak Menentu Cenderung Naik

PARP Limapuluh Kota Menjerit

PARP Limapuluh Kota Menjerit
H. Akmal ketua Asosiasi Peternan Ayam Petelur Limapuluh Kota.(f/nura)
Sabtu, 02 April 2016 17:45 WIB
Penulis: Nur Akmal
LIMAPULUH KOTA--Jagung sebagai bahan utama pakan ayam, akhir-akhir ini harganya semakin melonjak naik sebanyak Rp4.000/Kg setelah sebelumnya Rp3.700/Kg. Akibatnya para peternak ayam ras petelur (PARP)  di Limapuluh Kota benar benar dalam situasi yang kritis, dimana harga pakan naik. Sedangkan harga telur dipasaran cenderung turun.

“Imbasnya banyak telur yang menumpuk di gudang gudang para peternak. Sementara, peternak ayam petelur yang kebanyakan dari kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh, Sumatera Barat berada dalam dilemma. Pasalnya telur dijual atau tidak dijual tetap saja mereka akan menanggung rugi, “ujar ketua APARP (Asosiasi Peternak Ayam Ras Petelur) Sumatera Barat, H. Akmal (51) kepada GoSumbar.Com  di kantornya, Sabtu (2/4).

Menurut Akmal, harga jagung yang tidak stabil, tentunya membuat kalang kabut para peternak karena tidak ada perhatian dari pemerintah dalam bentuk regulasi yang pro rakyat, “Ini sudah parah sekali keadaannya, sudah disampaikan tapi hanya sebatas janji tanpa ada tindak lanjut. Apakah tidak mau melihat kenyataan bahwa belakangan sudah puluhan para peternak yang usahanya kolaps,”katanya.

Sebagaimana diketahui pasokan jagung selama ini berasal dari daerah Pasaman dan Lampung serta Muko muko. Naiknya harga bahan pakan ayam itu, diakibatkan oleh terbatasnya pengiriman jagung dari ketiga daerah tersebut karena di duga pembelian pasokan jagung didominasi oleh perusahaan pakan ayam yang berdomisili di Padang.

“Tak menentunya harga telur tersebut, perusahaan pakan ayam yang berdomisili di Padang itu, mereka mampu membeli dalam skala besar serta pembayarannya di satu tempat. Tidak seperti di daerah Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh yang penjualannya di ecer ke kandang kandang yang ada, “terangnya.

Kalaupun kami mendapatkan pasokan jagung, itupun setelah hasil dari sortiran perusahaan pakan ayam dimana standar kadar air yang bagus adalah 15% sampai 16% sedangkan yang kami terima adalah 18% sampai 20%.

“Tidak ada pilihan lain terpaksa kami harus  membelinya juga, Saya melihat tidak ada keseriusan serta keberpihakan pemerintah terhadap usaha ini padahal kami juga turut membantu merekrut banyak tenaga kerja,” jelasnya.

Terpisah, Nardi (45) salah satu pemilik kandang ayam petelur mengatakan, hal yang paling krusial adalah fakta dimana dalam usaha ini kami berurusan dengan pihak Bank, dengan keadaan ini tentu saja kami akan jatuh kepada posisi tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran kepada pihak Bank alias kredit macet, ujarnya.

Ketika dikonfrimasikan kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhortbun) Limapuluh Kota, Ir. Aprizul Nazar di ruang kerjanya, (28/3), mengatakan dinas terkait sudah melaksanakan program pemenuhan kebutuhan jagung.

Pada tahun 2015 kemaren Distanhorbun juga telah memfasilitasi sebanyak 1.100 hektar lahan untuk penamanan jagung dalam bentuk benih dan pupuk. Sedangkan untuk tahun 2016 ini akan di targetkan memfasilitasi sebanyak 1.500 hektar lahan tanaman jagung.

“Kemudian, Ditanhortbun) Limapuluh Kota juga telah memberikan bantuan kepada petani jagung berupa bajak dan mesin perontok jagung, penyuluhan serta pendampingan sebanyak 8 kali pertemuan, “urainya lagi.***

Editor:M.Siebert
Kategori:Umum, GoNews Group, Limapuluh Kota

wwwwww