Home  /  Berita  /  GoNews Group

Prof Dr H Isjoni Dikukuhkan Jadi Ketua Asosiasi Dosen Indonesia Wilayah Riau Periode 2016-2021

Prof Dr H Isjoni Dikukuhkan Jadi Ketua Asosiasi Dosen Indonesia Wilayah Riau Periode 2016-2021
Prof Dr H Isjoni, MSi (tengah) dan para pengurus ADI Riau bersiap untuk dikukuhkan, Jumat (25/3) malam.
Sabtu, 26 Maret 2016 10:09 WIB
PEKANBARU - Ketua Umum Majelis Pimpinan Pusat Asosiasi Dosen Indonesia (MPP ADI) Prof Dr H Armai Arif, MA mengukuhkan kepengurusan Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) ADI Riau periode 2016-2021, Jumat malam (25/3/2016), di Gedung Guru, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru.

Kepengurusan MPW ADI Riau periode 2016-2021 yang dilantik Armai Arif Jumat malam, diketuai Prof Dr H Isjoni, MSi. Dengan demikian, sudah dua periode Isjoni dipercaya menjabat Ketua ADI Riau. Sedangkan sekretaris dipercayakan kepada Dr H Nazaruddin Yusuf, MA.

Usai dikukuhkan sebagai Ketua ADI Riau, selanjutnya di tempat yang sama tadi malam, Isjoni mengukuhkan kepengurusan tiga Majelis Pimpinan Cabang (MPC) ADI periode 2016-2021, yakni MPC ADI Universitas Muhammadiyah yang diketuai Jupendri, MIkom, MPC ADI Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dan MPC ADI Universitas Riau.

Ketua ADI Riau Isjoni, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Ketua Umum MPP ADI Armai Arif yang telah berkenan mengukuhkan kepengurusan ADI Riau periode 2016-2021. Isjoni juga berterima kasih karena dipercaya memimpin ADI Riau untuk keduakalinya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/26032016/ajpg-4175.jpgProf Dr Armai Arif, MA mengukuhkan kepengurusan MPW ADI Riau periode 2016 - 2021, Jumat malam.

Dikatakan Isjoni, ADI Riau akan mendorong dibentuknya MPC ADI di semua perguruan tinggi yang ada di Riau dan kabupaten/kota di Riau. ''Nanti pengukuhan kepengurusannya tidak harus di sini, tapi bisa dilaksanakan di kampus, yang didahului dengan seminar," ujar guru besar Universitas Riau tersebut.

Isjoni menjelaskan, ADI merupakan organisasi profesi yang terbuka bagi semua dosen di semua perguruan tinggi. ADI akan membantu berbagai permasalahan yang dihadapi dosen, terutama yang terkait dengan tugas yang dijalankannya sebagai dosen. ''Dosen ini banyak sekali masalah yang dihadapinya. Nah, ADI akan mencoba membantu menyelesaikannya, terutama masalah yang dihadapi para dosen yang tergabung sebagai anggota ADI,'' sebutnya.

Sementara Ketua Umum MPP ADI Armai Arif, dalam sambutannya, mengimbau semua dosen bergabung sebagai anggota ADI. ''Bila bergabung dengan ADI, maka para dosen bisa meminta bantuan ADI untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapinya,'' kata Armai.

Diantara bentuk bantuan yang diberikan ADI kepada anggotanya adalah, menyelesaikan masalah kepangkatan, masalah karier serta perlindungan hukum dan hak asasi manusia (HAM).

Armain mencontohkan, bila ada anggota ADI yang ingin jadi guru besar dan telah melengkapi syarat-syaratnya, namun sudah berlarut-larut tak juga diangkat jadi guru besar, maka ADI akan menelusurinya ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), untuk mengetahui apa ganjalannya. ''Dulu, kalau tidak gigih menanyakannya, bundelan kita bisa terpuruk jauh ke bawah, bahkan hilang,'' kata Armai, disambut tawa para dosen.

Bahkan dulu, lanjut Armai, kalau ingin urusan lancar, terkadang harus ada uang tipsnya. ''Saya dulu empat tahun prosesnya, baru bisa jadi guru besar. Ternyata ada yang prosesnya sampai enam tahun, bahkan lebih, baru diangkat jadi guru besar," terangnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/26032016/bjpg-4174.jpgProf Dr H Isjoni, MSi (kiri) dan Prof Dr H Armai Arif , MA (kanan) saat memberikan sambutan.

Armai mengungkapkan, Kemenristek Dikti sudah punya niat baik mengubah aturan-aturan yang menyulitkan dosen, termasuk dalam proses pengurusan jadi guru besar. "Pak Ghufron (Wakil Menristek Dikti, red), sudah berjanji akan mempermudah dan mempercepat proses pengurusan jadi guru besar,'' ucapnya.

Salah satu problem bagi dosen yang sudah doktor untuk menjadi guru besar, lanjut Armai, adalah keharusan karya ilmiahnya dimuat di jurnal internasional. Sementara, Indonesia belum memiliki jurnal internasional tersebut. ''Tapi Pak Ghufron sudah sepakat menunjuk sejumlah perguruan tinggi di Tanah Air terkait rencana pembuatan jurnal internasional tersebut. Diharapkan dalam waktu dekat, Indonesia juga sudah punya jurnal internasional,'' ujarnya.

Lanjut Armai, salah satu tanggung jawab ADI adalah meluruskan aturan-aturan yang dianggap keliru. ''Selama ini, membuat laporan keuangan penelitian jauh lebih merepotkan dari pada melakukan penelitian itu sendiri. Ini kan tidak benar. Yang begini ini harus kita coba meluruskannya,'' tegasnya.

Armai mengingatkan, para dosen harus terus meningkatkan kualitas, termasuk terus mengikuti perkembangan teknologi informasi. ''Bila tidak, kita bisa digilas dosen-dosen dari luar negeri, karena kebijakan MEA telah memberikan peluang kepada orang asing untuk bisa mengajar di Indonesia,'' katanya mengingatkan.

Suasana acara pengukuhan kepengurusan MPW ADI Riau dan tiga MPC ADI tersebut berubah semarak ketika sejumlah siswi dan seorang siswa SMP membawakan tari ''Rentak Bulian''. Penampilan tim tari binaan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Riau Dr Syahril tersebut benar-benar memukau ratusan dosen dan tamu undangan lainnya yang hadir. Tepuk tangan apresiasi pun bergemuruh mengiringi berakhirnya tari ''Rentak Bulian'' tersebut.bas

wwwwww