Home  /  Berita  /  Umum

Duh... Hampir Semua Alat Deteksi Tsunami di Indonesia Tak Berfungsi

Duh... Hampir Semua Alat Deteksi Tsunami di Indonesia Tak Berfungsi
Jum'at, 04 Maret 2016 10:30 WIB

JAKARTA - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hampir sebagian besar alat sensor gelombang tsunami atau buoy tsunami di Indonesia mengalami kerusakan dan tidak berfungsi.

“Sebagian besar kerusakan buoy tsunami disebabkan vandalisme dan tidak adanya biaya operasi serta pemeliharaan di BPPT,” kata Sutopo di Jakarta, Kamis (3/3/2016).

Menurut dia, buoy tsunami di lautan banyak dirusak oleh oknum-oknum. Misalnya buoy yang dipasang di Laut Banda pada April 2009. Hanya berselang lima bulan, persisnya September 2009 sudah mengalami kerusakan, bahkan hanyut ke utara Sulawesi.

“Untuk diketahui, harga satu unit buoy buatan Amerika Serikat itu adalah Rp7 miliar sampai Rp8 miliar. Sedangkan buatan Indonesia Rp4 miliar. Hitungan BNPB, diperlukan sekitar Rp30 miliar per tahun untuk merawat semua buoy tsunami di Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan dari 21 buoy tsunami yang dibangun di Indonesia terdiri dari delapan unit dari Indonesia, Jerman 10 unit, Malaysia satu unit, dan Amerika Serikat dua unit sudah tidak ada yang beroperasi.

“Tidak adanya biaya pemeliharaan dan operasi menyebabkan buoy tidak ber­fungsi. Kondisi ini menyulitkan untuk memastikan apakah tsunami benar terjadi di lautan atau tidak,” tuturnya.

Saat ini, Sutopo mengatakan di Indonesia hanya mengandalkan lima buoy tsunami milik internasional di sekitar wilayah Indonesia. Yaitu satu unit di barat Aceh milik India, satu unit di Laut Andaman milik Thailand, dua unit di selatan Sumba dekat Australia milik Australia, dan satu unit di utara Papua milik Amerika Serikat.

Selain krisis buoy tsunami, Indonesia juga kekurangan jumlah sirine penanda tsunami. BMKG baru memasang 50 sirine. Padahal, Indonesia perlu sedikitnya 1.000 unit sirine.

Di tempat terpisah, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada jajarannya untuk memastikan seluruh fasilitas peringatan dini gempa dan tsunami berfungsi secara baik di seluruh Indonesia.

Kesiapan sarana peringatan dini itu menurut Presiden penting, agar gempa dan tsunami seperti yang terjadi di pantai barat Sumatera bagian Utara pada 2004 lalu, tak lagi terulang.

“Early warning system ini penting agar tak jatuh korban jiwa. Baik akibat gempa susulan maupun tsunami,” ujar Presiden Jokowi di Bandara Kualanamu, Deliserdang, kemarin.***

Editor:Ridwan Iskandar
Sumber:kompas.com
Kategori:Umum, GoNews Group
wwwwww