Loading...

Wakil Ketua MPR: Keberadaan Ormas Harus Memperkuat Persatuan

Wakil Ketua MPR: Keberadaan Ormas Harus Memperkuat Persatuan
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, saat memberikan sambutan di Mukernas KAMMI di Bekasi. (foto: daniel)
Jum'at, 19 Februari 2016 12:58 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Ketua Rumpun Masyarakat Betawi (RMB) Nur Ali, bersama rombongan, melakukan silaturrahmi dengan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, di Lt. 9, Gedung Nusantara III, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Jumat (19/02/2016) di Senayan, Jakarta.

Dalam kunjunganya tersebut, Nur Ali ditemui langsung Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nu Wahid. Kedatangan Nur Ali juga sekaligus ingin menyampaikan, organisasi RMB didirikan untuk menepis anggapan bahwa orang betawi itu selalu Arogan.

Pria yang menggunakan peci berwarna hitam itu mengatakan, organisasi yang mempunyai kantor di Condet, Jakarta Timur, itu dibentuk sekitar enam tahun yang lalu. Untuk itu dirinya bersama rombongan, meminta Hidayat Nur Wahid agar mau menjadi pembina Rumpun Masyarakat Betawi. “Ya beliau ini kan selain sesepuh juga sudah berpengalaman dalam ber organisasi, sebagai pengarah ya nantinya beliau bertugas memberi arahan kepada organisasi ini,” ujar Nur Ali kepada Legislatif.co (GoNews Group), Jumat (19/02/2016).

Kedatangan Nur Ali beserta yang lain disambut dengan ramah oleh Hidayat Nur Wahid. “Selamat datang,” sapanya singkat. Sementara dalam menanggapi apa yang dikatakan oleh Nur Ali, Hidayat Nur Wahid mengatak, kalau anggapan masayarakat Betawi arogan itu tidak benar. "Saya menangkap kesan bahwa masyarakat Betawi tak arogan kok,” papar pria asal Klaten, Jawa Tengah ini.

Dirinya mengatakan, sejak tahun 1993 telah tinggal di Jakarta dan berada di lingkungan orang-orang Betawi. Diungkapkan bahwa dirinya sudah biasa berhubungan dengan orang Betawi baik di lingkungan tempat tinggalnya maupun di partai yang menaungi dirinya, PKS.

Menurut Hidayat Nur Wahid, bila ada organisasi yang aneh-aneh itu bukan karena Betawinya. Diharapkan nama Betawi jangan dikesankan seram-seram. Dirinya justru menyebut masyarakat Betawi adalah masyarakat yang terbuka dan apa adanya.

"Saya berharap organisasi masyarakat yang ada mampu memperkuat persatuan. Saya yakin bahwa organisasi dibentuk bukan untuk melanggar hukum,” paparnya.

Dicontohkan keterbukaan masyarakat Betawi terhadap kaum pendatang terbukti di Jakarta banyak nama kampung berdasarkan suku, seperti Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Ambon, Kampung Bali, Kampung China, Kampung Jawa, dan lain sebagainya. “Masayarakat Betawi masyarakat yang menerima kedatangan dari berbagai pihak sehingga Jakarta menjadi beragam,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Hidayat Nur Wahid mengatakan bahwa dirinya yakin bahwa seluruh warga Jakarta mendukung penggusuran lokalisasi pelacuran Kalijodo, Jakarta. Namun ditegaskannya penggusuran lokalisasi pelacuran tidak hanya di Kalijodo namun di seluruh tempat yang ada sebab pelacuran tidak sesuai dengan norma apapun, baik agama maupun norma masyarakat.

“Pelacuran tidak sesuai dengan norma hukum apapun,” katanya. Tak hanya itu, penggusuran lokalisasi di satu sisi tidak boleh diiringi dengan rencana mendirikan lokalisasi di tempat yang lain. “Kita harus membantu upaya untuk menciptakan Jakarta yang lebih baik,” tegas Hidayat Nur Wahid. ***


Loading...
www www