Loading...
Home >  Berita >  Ekonomi

Swisscontact Bantu Petani Kakao Aceh Raih Sertifikat Internasional

Swisscontact Bantu Petani Kakao Aceh Raih Sertifikat Internasional
Mark D Ching, Manfred Borer, Swisscontact Country Director Indonesia, dan perwakilan Pemkab Pidie Jaya memecahkan buah kakao, menandai pelepasan biji kakao sertifikasi UTZ di Pidie Jaya
Selasa, 02 Februari 2016 21:50 WIB

JAKARTA - Dalam rangka meningkatkan daya saing kakao Aceh di pasar internasional, Swisscontact mendukung petani kakao untuk meningkatkan budidaya kakao dan organisasi petani dalam proses sertifikasi pertanian dengan lembaga sertifikasi UTZ.

UTZ merupakan lembaga sertifikasi internasional yang selama ini memberikan sertifikasi untuk tanaman kopi, teh, kakao, dan sebagainya dengan persyaratan yang ketat.

Senior Program Manager Swisscontact wilayah Sumatera Roland Pakpahan kepada Beritasatu.com, Selasa (2/2) mengatakan, untuk bisa mendapatkan sertifikasi dari UTZ ini maka paling tidak ada dua hal yang harus dipenuhi oleh para petani. Pertama, biji kakao yang diproduksi para petani ini bisa ditelusuri asal usulnya. Kedua, tanaman kakao tersebut juga dilarang menggunakan obat-obatan kimia, pupuk kimia, atau bahan-bahan kimia yang dilarang oleh badan sertifikasi UTZ.

"Nah, untuk membantu para petani di Aceh ini, kami dari Swisscontact membantu mereka untuk memenuhi persyaratan sertifikasi dari UTZ. Para pelatih kami yang memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para petani ini juga sudah mendapatkan sertifikasi dari UTZ," tutur Roland.

Selain itu, tuturnya, pembelian hasil produksi kakao para petani yang sudah tersertifikasi UTZ ini pun dijual kepada perusahaan yang juga telah mendapatkan sertifikasi dari UTZ.

Dalam hal ini, tuturnya, Swisscontact bekerja sama dengan Jebe Koko, anak perusahaan JB Food Limited yang berbasis di Singapura untuk membeli kakao para petani binaan Swisscontact di Aceh ini.

Roland mengatakan, keuntungan lain yang didapatkan para petani dari sertifikasi UTZ ini adalah mereka juga berhak mendapatkan premium fee dari hasil produksi kakao mereka yang dijual tersebut. Artinya, selain mereka menerima harga jual yang bagus, mereka juga akan mendapatkan tambahan fee yang dibagikan secara periodik kepada para petani.

"Nah, untuk hari ini kami membagikan premi kepada para petani di Aceh untuk periode Oktober 2015 sampai Januari 2016 dengan nilai sebesar Rp 320 juta yang disalurkan melalui Koperasi Koka Jaya. Selanjutnya, koperasi inilah yang akan mendistribusikan kepada 19 pusat pembelian kakao dan seterusnya distribusikan kepada 873 petani yang tersebar di tiga kabupaten yakni Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Tamiang," paparnya.

Sejak 2012, dengan dukungan dari Pemerintah Swiss melalui Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO), Swisscontact telah menjalankan SCPP di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh.

Di Aceh, SCPP sendiri merupakan kelanjutan proyek Peningkatan Ekonomi Kakao Aceh (PEKA) yang dilaksanakan pada tahun 2010 -2012. Pada akhir 2015, sebanyak 17.547 keluarga petani kakao telah menerima pelatihan peningkatan kapasitas melalui SCPP dan para mitra sektor swasta, dan 2.593 petani sudah tersertifikasi UTZ.

"Swisscontact telah mengembangkan sebuah model bisnis yang menjanjikan dan menjadi tolak ukur masa depan untuk organisasi dan koperasi yang terlibat dalam rantai nilai sertifikasi dan ketertelusuran. Kami akan terus bekerja sama dengan Koperasi Koka Jaya untuk memperkuat kapasitas mereka dan memperluas ruang lingkup kegiatan mereka.

Selain itu, kami akan memberikan pilihan-pilihan untuk lebih meningkatkan situasi keuangan koperasi agar menjadi organisasi profesional dan unit yang mendukung anggotanya," ujar Swisscontact Country Director Indonesia, Manfred Borer.

Sementara itu, CEO JB Foods Limited, Tey How Keong mengatakan, pihaknya sangat bangga bisa bekerja sama dengan Swisscontact melalui anak usahanya, Jebe Koko dalam mempromosikan kakao yang berkelanjutan di Aceh.

"Kami berharap melalui dukungan terhadap program keberlanjutan kakao di Aceh, kami dapat berkontribusi terhadap pasokan jangka panjang biji kakao kualitas dan pada saat yang sama meningkatkan kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat setempat," ujar Tey How Keong. ***

Editor : M. Usandi
Sumber : beritasatu.com
Kategori : Ekonomi, GoNews Group

Loading...
www www