Loading...
Seni dan Budaya Melayu Riau

Ternyata Tari Zapin di Riau Awalnya Hanya Dibawakan Penari Pria, yang Jadi Incaran Calon Mertua

Ternyata Tari Zapin di Riau Awalnya Hanya Dibawakan Penari Pria, yang Jadi Incaran Calon Mertua
Salah satu penampilan tari Zapin di Bengkalis Riau.(net)
Jum'at, 22 Januari 2016 23:31 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
PEKANBARU- Bagi Masyarakat Melayu khususnya di Provinsi Riau, tentunya sudah tidak asing lagi dengan tarian Zapin. Dimana tarian tersebut sudah membumi dari kalangan pelajar sampai remaja, Zapin adalah khazanah tarian rumpun Melayu yang menghibur sekaligus sarat dengan pesan agama dan pendidikan.

Tak heran jika banyak sekolah dari mulai tingkat TK, SD, SMP dan SMU bahkan Universitas telah menjadikan tarian Zapin sebagai pelajaran kesenian. Pada era 2000 an, tari Zapin pernah mewabah keseluruh daerah dan menjadi kesenian budaya yang acap kali diperlombakan.

Zapin sendiri memiliki kaidah dan aturan yang tidak boleh diubah (baku), namun dari masa ke masa keindahan gerak serta musiknya tetap indah dan sedap dipandang, serta nyaman ditelinga ketika mendengar musik dan syair-syair dari Zapin tersebut.

Saking populernya tarian tersebut, sampai-sampai artis dangdut papan atas asal Riau Iyet Bustami, juga merekamnya dalam sebuah kaset pita dan kepingan CD. Tarian Zapin sendiri berkembang pesat ditanah air, dimana menurut sejarahnya Zapin pertama kali muncul dari suku Melayu di Flores, Nusa Tenggara Timur, Ternate dan Ambon.

Tarian tersebut juga berkembang pesat di daerah Pontianak, Kalimantan dengan sebutan Japin. Sementara di Sumatera, tarian ini mulai dikenal di Jambi yang kemudian menyebar ke Riau.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/23012016/zapin1jpg-3864.jpg

Di Provinsi Riau, Tari Zapin pada mulanya hanya dilakukan penari lelaki yang dianggap dapat mengangkat status sosialnya di masyarakat. Dimana sang penari akan menjadi incaran para orang tua untuk dijodohkan kepada anak perempuannya.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Riau Fahmizal Usman, tari zapin di Riau, berkembang atas dasar unsur sosial masyarakat dengan ungkapan ekspresi dan wajah batiniahnya.

"Tarian ini lahir di lingkungan masyarakat Melayu Riau yang sarat dengan berbagai tata nilai serta adat istiadat, dari gerakanya sangat kaya dengan tekhnik dan penuh cerita," jelasnya.

Tarian ini awalnya lahir dari bentuk permainan menggunakan kaki yang dimainkan laki-laki bangsa Arab dan Persia. Dalam bahasa Arab, zapin disebut sebagai al raqh wal zafn, tarian ini berkembang bersamaan dengan penyebaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab dari Hadramaut.

Tarian ini sangat kental sekali dengan gerak kaki cepat mengikuti hentakan pukulan pada gendang kecil yang disebut marwas. Serta merdunya suara yang dihasilkan dari harmoni ritmik instrumennya dengan menggunakan alat musik petik gambus.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/23012016/zapin2jpg-3863.jpg

Meskipun tarian ini masih ada sedikit pengaruh dari Arab, tampak jelas dimana isinya sangat kental dengan pendidikan atau edukasi. Walaupun demikian, ini tetap saja menghibur karena ada sisipan syair yang mengandung beberapa pesan moral dan pesan agama.

Adapun kisah yang ada dalam gerakan, bisanya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu. Diantaranya adalah, gerak meniti batang, pinang kotai, pusar belanak dan lainnya. Dan biasanya, dalam pembuka tarian selalau ada gerakan membentuk huruf Alif (ejaan hijaiyah_red), yang melambangkan keagungan dan keesaan Allah SWT.

Tarian Zapin mementingkan pergerakan berkumpulan dan bukannya usaha individu. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki.

Seiring berkembangnya zaman, di Riau tarian ini yang awalnya hanya dibawakan penari lelaki, namun akhirnya juga disusul dengan penari perempuan. Bahkan sering juga ditampilkan secara bersama antara perempuan dan laki-laki.

Pada awal kemunculunya, Tari Zapin ditampilkan di atas tikar madani. Dengan aturan tikar tersebut tidak boleh bergoyang atau bergeser sedikitpun sewaktu penari sedang membawakan atau menarikan tari Zapin tersebut.

Menurut sejarah, pada mulanya tarian ini adalah sebagai tarian hiburan di istana setelah dibawa dari Hadramaut, Yaman oleh para pedagang Arab pada awal abad ke-16. Pada masa itu negeri Johor menjadi pengganti peranan Malaka sebagai sebuah entrepot antarabangsa pada kurun ke-16. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kreasi tari Zapin yang identik dengan budaya Melayu maupun dalam hal berpantun.

Gerak dan ritme tari zapin merupakan media utama untuk mengungkapkan ekspresi penarinya. Darinya Anda dapat meresapi pengalaman kehidupan, peristiwa sejarah, dan keadaan alam yang menjadi sumber gerak dalam tari zapin.

Kostum dan tata rias para penari zapin lelaki mengenakan baju kurung cekak musang dan seluar, songket, plekat, kopiah, dan bros. Sementara untuk penari perempuan berupa baju kurung labuh, kain songket, kain samping, selendang tudung manto, anting-anting, kembang goyang, kalung, serta riasan sanggul lipat pandan dan conget.

Tari zapin meski sempat diklaim menjadi bagian dari hak milik salah satu negara tetangga, tetapi nyatanya tarian ini telah berkembang sejak dahulu di banyak daerah di Nusantara dan salah satunya di Kepulauan Riau.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/23012016/zapin3jpg-3862.jpg

Tarian ini tumbuh dalam sejarahnya di beberapa tempat seperti Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat (Minang Kabau), Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bengkulu, dan Jakarta (Betawi). Nama tari zapin sedikit berbeda di berbagai tempat, seperti di Nusa Tenggara dinamai dana-dani, di Kalimantan bernama jepin, di Sulawesi disebut jippeg, di Jawa dinamakan zafin, di Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu disebut dana, lalu di Maluku bernama jepen, serta di Sumatera dan Riau dinamai zapin.

Sementara itu, menurut para sesepuh yang ada di Lembaga Adat Melayu Riau,tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan.

Musik pengiringnya terdiri dari alat musik petik gambus, rebana, gendang, rebab alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas atau marakas. Biola tidak tergolong sebagai sejenis alat muzik tarian Zapin namun sering juga digunakan untuk menambah maraknya suasana, dan kadang kala biola tidak dipakai karena irama yang dihasilkan rebab mempunyai persamaan dengan gesekan biola.

Tari Zapin telah mengalami penyesuaian dari segi bentuk dan ragamnya yang ternyata lebih tradisional sifatnya. Dengan itu tarian Zapin biasanya mempunyai pecahan tersendiri menurut tempat masing-masing dengan sebutan tarian Zapin Arab, tarian Zapin Johor, tarian Zapin Lenga, tarian Zapin Pekan dan tarian Zapin Tenglu

Tari Zapin yang ada di Indonesia, jelas terlihat bahwa gerakannya dirangkai dari gerakan-gerakan kaki. Gerak tangan terjadi secara wajar karena pengaruh gerak badan yang diakibatkan oleh gerakan-gerakan kaki. Pendapat ini menjadi lebih jelas lagi saat menarikan dan belalar tari Zapin.

Pola lantai dan langkah-langkah kaki lebih banyak dibicarakan daripada bagian gerak tubuh yang lain. Misalnya dalam gerak titi batang, loncat belanak, tegagau, selimpat empat, selimpat delapan, sut patin, gencat, tahto, tahtim, bujur, serong, Pinang kotai, alip, pusing tengah, pecah delapan, ayam patah, bunga taman, catuk, geliat mata angin, dan sebagainya.

Sedangkan untuk gerak tangan memberi panduan untuk bentuk-bentuk atau motif-motif tangan, seperti: sembah, ngempu dan genggam baro, serta beberapa gerak tangan antara lain siamang bejulat, bekayuh, lenggang sebelah, tepuk dan lainnya.

Di Indonesia dikenal dua jenis zapin, yaitu Zapin Arab dan Zapin Melayu. Zapin Arab disebut juga zapin lama, tumbuh dan berkembang di dalam kelompok-kelompok masyarakat turunan Arab yang berada di berbagai tempat di Indonesia, terutama di Jawa dan Madura. Tarian ini berkembang pesat dan dapat dijumpai di Jakarta, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Tuban, Gresik, Kraksan, Bondowoso, Situbondo, Sumenep, dan Pamekasan.

Sementara di daerah lainnya terdapat dalam kelompok-kelompok kecil dan kurang berkembang seperti di Jambi, Pontianak, Mataram, Palu, Gorontalo, Ambon, dan Ternate.

Semnetara Zapin Melayu banyak terdapat di luar Jawa dan Madura. Tarian ini telah mengalami akulturasi dengan budaya lokal di mana tarian tersebut hidup dan berkembang. Para seniman lokalnya telah menumbuhkan dan menciptakan bentuk-bentuk baru yang dipengaruhi dan dijiwai oleh budaya melayu setempat. Dalam perkembangannya, zapin Melayu terbagi pula dalam dua jenis, yaitu: zapin Melayu “Keraton” dan zapin Melayu “Rakyat”. Zapin Melayu Keraton diperuntukkan bagi kalangan istana seperti yang terdapat di Deli, Siak, Sambas, dan Pontianak. Karena adanya kesultanan dan istana di daerah tersebut.

Zapin Melayu Keraton telah mendapat aturan-aturan yang disesuaikan dengan keinginan istana. Sementara Zapin Melayu Rakyat berkembang dalam masyarakat melayu di seluruh Indonesia yang mempunyai kebebasan ungkap dalam batas sopan santun dan adat istiadat setempat. ***

Sumber : Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau.
Kategori : Pemerintahan, Umum

Loading...
www www