Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kapolsek Tabrak Rumah Warga, Nenek dan Cucu Balitanya Tewas
Peristiwa
7 jam yang lalu
Kapolsek Tabrak Rumah Warga, Nenek dan Cucu Balitanya Tewas
2
Kisah Mualaf Penemu Rapid Test Jacky Ying saat Memutuskan Pakai Jilbab
Kesehatan
21 jam yang lalu
Kisah Mualaf Penemu Rapid Test Jacky Ying saat Memutuskan Pakai Jilbab
3
Cegah Gelombang Kedua Pandemi Covid-19 saat 'New Normal' dengan...
GoNews Group
23 jam yang lalu
Cegah Gelombang Kedua Pandemi Covid-19 saat New Normal dengan...
4
Total Bantuan PKS untuk Penanggulangan Covid-19 Capai Rp68,9 M
GoNews Group
4 jam yang lalu
Total Bantuan PKS untuk Penanggulangan Covid-19 Capai Rp68,9 M
5
'New Normal', Fraksi PPP DPR Minta Bukan cuma Mal yang Dibuka
Ekonomi
3 jam yang lalu
New Normal, Fraksi PPP DPR Minta Bukan cuma Mal yang Dibuka
6
Begini Seharusnya Prosedur Mewawancarai Napi...
GoNews Group
4 jam yang lalu
Begini Seharusnya Prosedur Mewawancarai Napi...
Loading...
Home  /   Berita  /   Umum

Songket Silungkang Sudah Dikenal di Eropa Sejak 1910

Songket Silungkang Sudah Dikenal di Eropa Sejak 1910
Senin, 07 September 2015 22:08 WIB
Penulis: .
JAKARTA, GOSUMBAR.COM - Setiap 2 Oktober, Indonesia merayakan Hari Batik Nasional. Batik pun kerap menjadi dress code wajib di berbagai acara. Ya, selama ini khalayak lebih mengenal batik selaku kain adat yang diakui sebagai material resmi pakaian nasional.

Pengakuan itu juga didapatkan di level internasional, sejak PBB melalui UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi Tanah Air pada 2 Oktober 2009.

Lantas, bagaimana dengan kain adat lain yang tidak kalah menawannya dibandingkan batik? Bukankah mereka seharusnya mendapatkan kesempatan yang setara untuk lebih dikenal, atau bahkan mendunia?

Jangan lupa, negeri ini memiliki ragam kain adat yang tidak terbatas. Selain batik, terdapat juga songket yang lebih terkenal di kepulauan di luar Jawa. Songket pun ternyata banyak jenisnya. Salah satu yang jarang mendapatkan sorotan adalah songket Silungkang.

Sebagaimana namanya, songket Silungkang berasal dari sebuah kecamatan di Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat. Songket ini didominasi oleh motif-motif abstrak, dengan deratan ragam kelir nan memikat. Merah adalah salah satu seleksi warna utamanya.

Kain adat ini sudah mulai dibuat sejak era kolonial Belanda pada 1800-an. Seperti halnya songket lain di Sumatra, awal mula songket Silungkang pun terafiliasi erat dengan sejarah kejayaan Andalas dan Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan yang cukup ekspansif itu pula yang memperkenalkan songket ke luar Sumatra, termasuk ke Batavia, Semarang, dan Jawa Barat. Pada 1896, songket Silungkang kerap diikutkan dalam berbagai festival pasar malam di Batavia.

Berkat ketenarannya itu, songket Silungkang berhasil membetot atensi Ratu Belgia. Pada 1910, nama Silungkang berhasil mengetapel ke Benua Biru berkat keikutsertaan songketnya di sebuah ajang festival di negara penghasil coklat terkemuka itu.

Seiring perkembangan zaman dan memudarnya kilau periode emas Sriwijaya, sorotan terhadap kecantikan songket Silungkang pun seolah meredup. Pada era modern, tidak banyak yang mengenal kain adat yang pernah termasyur hingga ke belahan dunia lain itu.

Prihatin dengan kondisi tersebut, Walikota Sawahlunto Ali Yusuf mengaku dirinya bermimpi dapat membangkitkan kembali masa jaya songket Silungkang. Apalagi, seni membuat songket merupakan salah satu lokomotif perekonomian daerah tersebut.

“Saat ini Sawahlunto sudah tidak bisa lagi berharap banyak dengan pertambangan batubara. Namun, kami masih berharap pada sektor pariwisata. Maka, songket sebagai warisan budaya perlu kami kembangkan untuk menjadikan Sawahlunto sebagai kota kreatif,” tuturnya.

Atensi terhadap kecantikan songket Silungkang rupanya sempat diberikan oleh pemerintah. Mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pada 18 Februari 2014 sempat menyampaikan ide untuk menggelar karnaval songket di Sawahlunto.

Ali mengatakan pada waktu itu Rachmat berpikir bagaimana menjadikan songket sebagai kain nasional kedua setelah batik. “Sebab dari Aceh sampai Papua, kita punya banyak mulai tenun, sulam, sampai songket. Salah satunya adalah Silungkang.”

Sejak saat itu, Pemerintah Kota Sawahlunto mulai termotivasi untuk kembali mendongkrak popularitas songket Silungkang. Namun, hanya satu tantangan; bagaimana caranya untuk melangkah jauh hingga ke luar negeri?

Syarat utama untuk menjawab tantangan itu, kata Ali, adalah dengan mulai berinovasi. Untuk itu, produsen songket harus berorientasi pada kebutuhan konsumen. “Kami ajak perajin buatlah songket yang bisa dipakai untuk apa saja. Buatlah songket untuk semua.” tambahnya.

Di sisi lain, Gubernur Sumatra Barat Reydonnyzar Moenek berkomitmen membangun indutri kreatif yang didorong oleh local wisdom sebagai produk unggulan daerah. Salah satunya adalah mengembangkan industri sulaman sutra dan songket.

Gubernur yang baru dilantik Mendagri Tjahjo Kumolo pada 15 Agustus itu telah memetakan rumus 4P sebagai strategi menduniakan songket Silungkang. Rumus itu terdiri dari price (harga), program, promosi, dan packaging.

“Saya ingin menjadikan songket sebagai brand image. Kita tidak perlu lagi bicara batik yang sudah terkenal, tapi kita bicara songket. Mudah-mudahan nanti akan ada kebijakan nasional untuk menjadikan songket sebagai ‘batik kedua’ selaku pakaian nasional,” tegasnya.

Dia mengaku sangat membutuhkan kemitraan dari pemerintah dan pihak swasta untuk melontarkan popularitas songket kebanggaan Sumbar itu. Tidak tanggung-tanggung, pasar yang dibidik oleh Pemprov Sumbar untuk memasarkan songketnya adalah Amerika Serikat.

Menjajaki AS

Upaya Pemprov Sumbar untuk membawa songket Silungkang ke AS terjawab oleh kesempatan melenggang ke New York Fashion Week 2015. Lebih menariknya, kain cantik tersebut dikemas dalam desain pakaian muslim (modest wear).

Presiden Komisaris Shafira Corporation Gilarsi Wahju Setijono mengatakan selain mempromosikan songket Silungkang, upaya tersebut sekaligus menjadi batu lompatan bagi cita-cita Indonesia untuk merajai pasar modest wear dunia.

“Kita harus membangun ekonomi melalui jalur yang kita sangat kompeten. Saya melihat Islamic fashion kita lebih unggul dibandingkan negara lain. Kalau bersaing di lini pakaian konvensional, tentu Indonesia kalah telak dengan Paris, Milan, atau New York,” ucapnya.

Selain itu, Gilarsi ingin menonjolkan produk berbasis kerajinan tangan yang berkarater dan bernilai tinggi melalui penggunaan bahan songket. Sebab, jika harus bersaing dengan bahan pabrikan, Indonesia kalah telak dari negara pesaing.

Lalu, kenapa harus di New York? Dia menjelaskan Kota Big Apple itu merupakan lahan kompetisi dan medan tempur paling ideal di dunia untuk urusan fesyen. Pasar New York sangat responsif dan tidak segan-segan memberikan kritik tajam yang membangun.

Dengan mencoba memamerkan kain khas Indonesia di sana, dia berharap tidak akan pulang dengan tangan kosong. Selain itu, New York adalah tempat yang paling tepat untuk memperkenalkan produk-produk Nusantara yang belum pernah diekspos ke mancanegara.

“Menurut saya, Sawahlunto memiliki potensi yang spektakuler, tapi economic skill-nya kurang, sehingga tidak kompetitif. Dengan memanfaatkan rupiah yang sedang terdepresiasi ini, kami coba untuk menjual lebih banyak dengan melibatkan konten lokal yang tinggi.”

Selain itu, berpartisipasi di New York Fashion Week juga merupakan upaya untuk mengembalikan pamor Indonesia sebagai eksportir tekstil dan produk tekstil (TPT) paling berpengaruh di dunia.

“Dulu, Indonesia adalah eksportir TPT terbesar ketiga di dunia. Sayangnya, saat ini posisi kita melorot ke urutan 10 kalau tidak 11. Mumpung kita punya keunggulan mata uang, kita harus mengurangi impor TPT. Tahun lalu, TPT asing yang masuk ke Indonesia melalui jalur ‘gelap’ nilainya mencapai Rp80 triliun, dan itu tidak masuk ke kas negara. Sayang sekali.”

Mengenai pengemasan songket Silungkang ke dalam modest wear, Gilarsi menyebut hal itu merupakan cara untuk merebut minimal 10% dari total pasar fesyen dunia yang nilainya mencapai US$2,2 triliun. “Sepuluh persennya saja itu sudah 20 kali lipat ekspor TPT kita.”

Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag Sulistyawati berpendapat sudah saatnya Indonesia menonjolkan ragam budaya saat melenggang ke pasar global. Sebab, warisan budaya dapat dijadikan inspirasi untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi fesyen.

“Indonesia harus menjadi simpul fesyen, khususnya modest wear. Pemerintah menargetkan pada 2020, RI akan menjadi hub fesyen Asean dan pada 2025 menjadi hub fesyen dunia. Namun, orientasi industri fesyen seharusnya digeser ke arah manufaktur.”

Dia memaparkan industri fesyen merupakan sektor terbesar kedua (28,29%) dalam perekonomian kreatif. Sumbangsihnya terhadap total produk domestik bruto (PDB) nasional menembus Rp641,8 triliun.

“Untuk itu, kami akan terus fasilitasi potensi industri fesyen, mulai dari pendampingan desainer, pembuatan HKI, merek, pengemasan, hingga pemasaran dan ekspornya ke luar negeri,” tuturnya.

Melihat semangat yang menggebu-gebu tersebut, bisa jadi tidak lama lagi UNESCO juga akan mengakui songket sebagai kain nasional Indonesia. Mungkin saja, asa Sawahlunto untuk menghidupkan kembali kejayaan songket Silungkang-nya tercapai. Bisa jadi kan? ***

Sumber : bisnis.com
Kategori : Solok Selatan, Umum

Loading...
www www