Bantu Pembangunan Masjid Boncah, AZ4N Berjanji Akan Perhatikan Honor Penyelenggara Agama

Bantu Pembangunan Masjid Boncah, AZ4N Berjanji Akan Perhatikan Honor Penyelenggara Agama
Senin, 07 September 2015 19:17 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
LIMAPULUH KOTA, GOSUMBAR.COM - Bertemu dengan ribuan penyelenggara agama di Kabupaten Limapuluh Kota, Azan dengarkan keluhahan pengurus Masjid, imam, bilal, gharim, khatib guru TPA/TPSA plus pengajar MDA.

Mereka berharap kepada bupati mendatang, untuk tidak membiarkan nasib mereka yang tak terperhatikan. Para pelaku agama mengatakan, hal tersebut, menyusul dengan dihentikannya pencairan honor bagi gharim dan guru TPA/TPSA oleh Pemkab Limapuluh Kota, semenjak beberapa tahun terakhir.

"Padahal, kami ini bukan malaikat, pak," kata Kasimi, gharim Masjid Koto Tinggi Maek, Bukit Barisan kepada Azwar Chesputra.

Azwar dan rombongan, datang ke Maek untuk bersilaturrahmi dengan warga. Guna mendengarkan keluhan dan bertukar pikiran.

Kondisi serupa juga terjadi di Jorong Boncah, Nagari Batu Balang, Kecamatan Harau. Masyarakat dan pengurus Masjid mengeluhkan soal anggaran keagamaan yang sangat minim.

Malahan, untuk melanjutkan pembangunan Masjid Nurul Huda, satu-satunya Masjid di Jorong Boncah, warga harus berswadaya.

"Termasuk untuk mencarikan honor gharim, imam, bilal, serta guru-guru TPA/TPSA dan MDA, pak," kata warga kepada Azwar Ches, yang turut serta dalam gotong-royong membangun kelanjutan pembangunan lantai II Masjid Nurul Huda, Minggu (6/9/2015). Yang juga dihadiri oleh mantan Gubernur Irwan Prayitno.

Selain Azwar Chesputra hadir juga mantan Kepala Dinas Peternakan Limapuluh Kota. Dan pada jamuan makan tim AZ4N juga dijamu makanan gulai kambing oleh warga.

Azwar juga menyalurkan bantuan jutaan rupiah untuk menunjang percepatan pembangunan Masjid. Dalam acara makan bersama, Azwar Chesputra bicara banyak soal niatnya menjamin keberlangsungan"hidup" penyelenggara agama. Terutama soal kesejahteraan.

"Jika di daerah lain bisa, harusnya di daerah kita juga dianggarkan saya tidak akan berjanji banyak, tapi insya allah akan saya jadikan prioritas," sebut Azwar.

Di Kabupaten lain di Sumbar, termasuk di daerah tetangga seperti Bangkinang, Riau, menurut Azwar, penyelenggara agama justru mendapat perhatian serius. "Makanya, saya selalu bilang, kalau babaliak ka nagari itu harga mati. Tapi babaliak ka nagari yang utuh harus sungguh-sungguh," tuturnya.

Azwar juga akan mengusahakan disetiap nagari, pembangunan yang bernilai Rp100 juta ke bawah, sudah saatnya diswakelolakan kepada masyarakat. "Nah, pemangku agama, adat dan nagari, nantinya dibantu tim tekhnis SKPD," tutur Azwar.

Dengan demikian, uang berputar di nagari, elum lagi UU Desa yang mengamanahkan anggaran jelas.

''Tidak akan sulit benar, menganggarkannya (honor,-red). Tergantung niat saja, sekali lagi, ini menyangkut agama, siapa yang tidak akan setuju?," ujar Azwar balik bertanya.

Dia juga mengaku prihatin, melihat pengurus Masjid, Mushalla, Remaja Masjid dan masyarakat, yang harus turun ke jalan,ke rumah-rumah, jika hendak menyelenggarakan kegiatan agama. Paling sering di bulan Ramadhan.

"Mestinya ini tidak terjadi lagi," sesal Azwar.Azwar Ches juga menyebut, dulu, di tahun 1996, jauh sebelum Reformasi bergulir, melalui wartawan senior Salah satu media di Sumbar, Azwar berkali-kali mengusulkan wacana babaliak ka nagari. Memperkuat tatanan agama dan adat.

Pengakuan itu dibenarkan oleh Widiat B Arta, yang kini menulis di koran Mingguan Publik. "Saya kenal lama dengan beliau. Sejak 1996, Azwar Ches sudah meminta, babaliak ka nagari dengan sistyem yang jelas wajib diwujudkan," kata Widiat, di Limbanang, Suliki tempo hari, memberikan testimoni di hadapan warga. (dnl)


Loading...
www www