Home  /  Berita  /  Peristiwa
KISAH DI HARI GURU NASIONAL

Verinel Yanti, 15 Tahun Menjadi Guru Honorer di Pesisir Selatan

Verinel Yanti, 15 Tahun Menjadi Guru Honorer di Pesisir Selatan
Guru Honorer Verinel Yanti
Rabu, 25 November 2015 11:57 WIB
Penulis: Calva
PAINAN - Dalam dunia pendidikan guru merupakan ujung tombak dalam roda pembelajaran. Namun masih banyak masalah yang timbul sehingga menghambat terciptanya keprofesionalan seorang guru yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan. Bahkan ada yang sudah bertahun tahun namun kesejateraan yang didapatkannya tidaklah seberapa. Mirisnya, jangankan diangkat jadi PNS, honorpun dibayar tak seberapa.

Itu sekarang yang dialami oleh guru honor yang bernama Varinel Yanti setelah mengabdikan dirinya semenjak 2001 atau sudah 15 tahun menjadi guru honor . Namun hingga kini masih belum juga diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Verinel menjadi guru honorer di dua sekolah sekaligus di Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Yaitu di SMAN 1 Batang Kapas dan SMAN 2 Batang Kapas dalam bidang studi Seni Budaya. Setiap mingga dia harus mengajar selama 24 jam pelajaran didua sekolah dengan gaji perjamnya sebesar Rp 17.500 - Rp 25.000 atau mendapatkan penghasilan setiap bulannya sebesar Rp 400.000,- Rp 600.000,- .Itupun diterimanya setiap 3 bulan.

Wanita hitam manis ini menceritakan dia telah15 tahun menjadi guru honor dan telah masuk dalam kategori 2 .Namun pada tes CPNS lalu dirinya tidak lulus dan hingga kini nasibnya masih tidak jelas apakah akan diangkat menjadi PNS atau tidak.

"Saya telah mengajar semenjak tahun 2001 sampai sekarang dan beberapa kali mengikuti tes CPNS tapi tidak juga lulus tes CPNS ,dan kejelasan akan nasib selanjutnya belum ada,padahal sudah 15 tahun menjadi guru honorer dengan penghasilan yang sangat minim ," ujarnya sebagaimana ditulis Elfi Mahyuni di laman resmi Pemkab. Pessel, Senin, 23 November 2015.

Konsiten Verinel mengabdi tidak pernah tangung,terbukti dengan telah 15 tahun dia mengabdikan dirinya. Namun perhatian lebih dari pemerintah belum setimpal dengan pengabdiannya padahal masa pengabdiannya sudah lama sekali .

"Walapun belum ada kejelasan terhadap status ,uni kan terus mengajar karena menjadi guru adalah pengabdian yang mulia,memberikan ilmu kepada orang lain memiliki kepuasan batin tersendiri," ungkapnya nelangsa.

Namun Varinel tidak putus asa,itu terlihat dari optimisnya dia memberikan pelajaran kepada anak anak didiknya. Semangatnya tidak pernah melemah walaupun seumur hidupnya hanya akan menjadi guru honorer saja.

Karena ketidak jelasannya nasibnya sebagai guru honorer maka Warga Koto Tuo Batang Kapas ini tidak hanya terpokus saja dengan mengajar, apalagi Varinel termasuk orang yang aktif banyak kegiatan sosial dan organisasi kemasyarakat digelutinya .

Bahkan dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya dia membuat sebuat sangar seni di kampungnya yang bernama Sanggar Nan Jombang yang mengajar tari, drama dan randai kepada generasi muda serta membentuk kelompok wanita yang bernama kelompok Saayun Salangkah dimana kelompoknya bisa menghasilkan sulaman bayangan aplikasi dengan berbagai corak dan motif untuk menjadi karya yang bernilai seni dan daya jual tinggi dalam keterbatasan.

Akan tetapi banyaknya usaha samping yang ditekuninya itu tidak membuat kehidupannya mudah,apalagi dengan biaya hidup yag setiap harinya semakin tinggi termasuk biaya pendidikan dirinya yang sekarang melanjutkan studinya untuk bisa meraih S1 di UNP dan biaya pendidikan 3 orang anaknya yaitu dari Zikri Ramadani yang sekarang kuliah di UNP semester 3, Sifa Maura Harapa kelas 2 di SMAN 1 Batang Kapas dan Hamad Fadillah kelas 2 di SMPN 1 Batang Kapas .

Apalagi sekarang ini usaha sulaman kelompoknya ini kurang berkembang karena keterbatasan modal dan persaingan yang cukup tinggi sehingga dalam sebulan terkadang dia bersama kelompoknya tidak memproduksi tentu saja dengan tidak memprodukinya maka tidak ada penghasilan tambahan.

Bahkan dalam perjalanan usahanya keterbatasan modal dan kurangnya promosi tetap menjadi permasalahan utama,ketika ada orderan banyak dia tidak bisa memenuhinya,dan itu sering terjadi. "Terpaksa kita minta uang didepan kepada pemesan agar bisa dipergunakan dalam membeli bahan baku," ujarnya.

Begitu juga dengan usaha sanggarnya, kendati masih aktif memberikan pengajaran seni tari,drama kepada anak anak didiknya namun tidak adanya event atau pengelaran seni tentu anak anak sanggarnya jarang tampil. Padahal jika anak seninya tampil dia akan mendapatkan penghasilan tambahan juga dari penampilan tersebut.

Maka bersama dengan suaminya Asrizal yang seorang petani, wanita tamatan Akademi Seni Kerawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang ini berusaha meminimalisir setiap pengeluaran dalam keluarganya. Sebab sebagai seorang petani harus penghasilnya tidak tetap apalagi harga beberapa komodirti seperti coklat, pala, pinang sekrang jauh turun atau murah.

"Maka tak jarang kami harus behutang, gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak anak ," ujarnya

Wanita kelahiran 27 Februari 1970 ini masih berharap pengabdianya sebagai seorang guru honorer dikemudian hari bisa berbuah manis dengan adanya pengangkatan dirinya sebagai seorang PNS."Besar harapan kami para guru guru honorer terutama yang telah lama mengabdikan diri hingga berpuluh puluh tahun mengajar diangkat menjadi PNS dengan gaji yang layak," harapnya.

Sementara itu Kepala BKD Kabupayen Pessel Nazwir mengungkapkan Kabupaten Pesisir Selatan masih kekurangan Tenaga Guru. Kendati mengalami kekurangan tenaga guru namun pengangkatan guru /PNS baru tidak menjadi kewenangan daerah apalagi jumlah anggaran di Pessel 70 % terserap untuk mengaji pegawai.Bahkan pada tahun 2015 ini Pessel telah mengangkat 500 orang CPNS dimana 26 orang dari jalur umum, 11 orang jalur khusus dan sisanya dari K2.

Sementara itu Pessel masih membutuhkan sekitar 500 orang lebih guru lokal/kelas untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) masih dibutuhkan begitu juga kekurangan guru untuk tingkat SLTP dan SLTA kekurangan guru terjadi pada mata pelajaran guru pendidikan jasmani dan kesehatan (Penjakes), mata studi agama dan muatan lokal sosiologi dan beberapa mata studi lainnya.

Untuk itulah langkah redistribusi tenaga guru yang dilakukan sebagai upaya untuk menjamin pemerataan tenaga guru bagi semua sekolah di Pessel.Tidak hanya itu, strategi ini juga dilakukan guna menjamin pemerataan tenaga guru dan mendukung kelancaran proses belajar mengajar di semua sekolah. (***)

Sumber:pesisirselatankab.go.id
Kategori:Pesisir Selatan, Peristiwa
wwwwww