Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Total Bantuan PKS untuk Penanggulangan Covid-19 Capai Rp68,9 M
GoNews Group
22 jam yang lalu
Total Bantuan PKS untuk Penanggulangan Covid-19 Capai Rp68,9 M
2
Begini Seharusnya Prosedur Mewawancarai Napi...
GoNews Group
22 jam yang lalu
Begini Seharusnya Prosedur Mewawancarai Napi...
3
'New Normal', Fraksi PPP DPR Minta Bukan cuma Mal yang Dibuka
Ekonomi
21 jam yang lalu
New Normal, Fraksi PPP DPR Minta Bukan cuma Mal yang Dibuka
4
Alhamdulilah, dari 25 Orang Pasien Positif Covid -19 di Padang Panjang, 21 Orang Dinyatakan Sembuh
Lingkungan
11 jam yang lalu
Alhamdulilah, dari 25 Orang Pasien Positif Covid -19 di Padang Panjang, 21 Orang Dinyatakan Sembuh
5
Alih-Alih Tekan Resiko Covid-19, Anjuran Penggunaan Vitamin C Massal bisa Untungkan Korporasi
GoNews Group
18 jam yang lalu
Alih-Alih Tekan Resiko Covid-19, Anjuran Penggunaan Vitamin C Massal bisa Untungkan Korporasi
6
H+3 Lebaran saat Pandemi Covid-19, Aktivitas Warga Depok Mulai Normal
Kesehatan
20 jam yang lalu
H+3 Lebaran saat Pandemi Covid-19, Aktivitas Warga Depok Mulai Normal
Loading...
Home  /   Berita  /   Umum

Orang Berilmu Tinggi Juga Harus Tahu Adat dan Etika

Orang Berilmu Tinggi Juga Harus Tahu Adat dan Etika
Sabtu, 08 Agustus 2015 00:37 WIB
Penulis: Hermanto Ansam
JAKARTA, GOSUMBAR.COM - Budayawan sekaligus dosen ilmu budaya Minang Universitas Andalas (Unand) Padang Musra Dahrizal atau biasa dipanggil Mak Katik mengatakan dalam mengembangkan pendidikan tinggi yang perlu diutamakan adalah penanaman adat dan etika masing-masing individu.

''Setinggi-tinggi ilmu maupun jabatan seseorang bila tidak memahami adat dan etika, tidak mencerminkan suatu pengembangan diri yang berimplikasi pada institusi,'' katanya di Padang, Jumat.

Adat dalam hal ini menurutnya suatu etika atau kebiasaan positif yang telah turun temurun hadir dengan bernafaskan nilai agama. Sebagai contoh dalam mengembangkan kurikulum Dikti yang berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Meski dijejali berbagai standar kualifikasi yang beragam sudah seharusnya pemerintah dalam hal ini Dirjen Dikti, menyelipkan prinsip kearifan lokal atau adat dan etika dalam setiap tahapannya.

Misalnya dalam menentukan standar penelitian yang berbasis kompetensi, Dikti perlu menanamkan suatu batas dalam bentuk aturan seperti prinsip persaingan sehat dan sanksi pemberian bagi yang curang. Dengan begitu katanya, standar tersebut dibuat tidak bertujuan untuk semena-mena.

''Ilmu yang tinggi tidak ada manfaatnya dalam agama bila adat dan etika tidak dipelihara,'' katanya. Contoh lain sebutnya dalam menentukan kurikulum di Unand yang perlu ditanamkan sikap dan perilaku budaya orang Minang. Sehingga ini nantinya yang akan menjadi identitas dari Unand sebagai institusi kebanggaan masyarakat Minangkabau, ucapnya.

Menurutnya meski menanamkan adat dalam suatu pengembangan pendidikan tinggi itu sulit namun itu perlu dilakukan untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang beradat dan berbudaya. Sementara itu Dikti melalui Direktur Penjaminan Mutu Aris Junaedi menyebutkan dalam pengembangan Kurikulum berbasis KKNI pihaknya akan menyertakan berbagai kajian segala bidang. Termasuk ke dalamnya kearifan lokal atau adat dan budaya pada lokasi institusi perguruan tinggi masing-masing. ***

Sumber : liputan6.com
Kategori : Umum

Loading...
www www