Pohon Menangis Hebohkan Warga Jember, Begini Penjelasan Ahli Biologi

Pohon Menangis Hebohkan Warga Jember, Begini Penjelasan Ahli Biologi
Sejumlah warga mendekatkan telinganya ke batang pohon yang mengeluarkan bunyi seperti orang menangis. (detik.com)
Sabtu, 18 Januari 2020 18:49 WIB
JEMBER - Kabar adanya pohon menangis di Dusun Krajan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, menghebohkan warga. Hinga Sabtu (18/1/2020), warga masih berdatangan ke lokasi pohon aneh tersebut.

''Masih banyak dan terus berdatangan,'' kata salah seorang warga setempat, Ansori, Sabtu (18/1/2020), seperti dikutip dari detik.com.

Selain dari Puger, tambah dia, warga yang datang juga ada dari luar Puger. Bahkan ada yang datang secara rombongan.

''Ya ada yang dari Puger sini, ada juga yang dari luar kota," katanya.

Salah seorang pengunjung, Bambang mengatakan, dia sengaja datang untuk membuktikan sendiri kabar adanya pohon menangis tersebut. Bambang juga mengaku sempat mendengar suara seperti orang merintih.

''Kecil sih, kayak dengung, juga sepintas kayak rintihan,'' katanya.

Kendati mendengar suara, namun Bambang tidak percaya ada hal mistis dari pohon akasia itu. Dia meyakini ada hal yang bisa dijelaskan dengan nalar.

''Pasti bisa dijelaskan secara nalar. Yang tahu ya yang punya ilmu pengetahuannya, tentang pohon dan tanaman,'' tandas Bambang.

Sementara Kepala Dusun Krajan, Kendan, mengaku pihak kepolisian sempat mengimbau agar pohon menangis itu ditebang. Tapi pemilik tidak berani karena takut terjadi sesuatu.

''Tadi sempat ada imbauan dari Pak Kapolsek agar ditebang. Tapi pemiliknya tidak berani. Takut. Kalau orang Jawa bilang pohon itu wingit, mungkin ada mahluk gaibnya,'' pungkas Kendan.

Penjelasan Ahli Biologi

Ahli biologi dari Universitas Jember (Unej), Wachyu Subhan, mengatakan, secara ilmiah, tumbuhan yang mengeluarkan suara merupakan suatu hal yang wajar.

''Setiap mahluk hidup, termasuk tumbuhan, memiliki metabolisme. Secara alami setiap mahluk hidup ini akan berupaya agar metabolisme tetap terjaga,'' kata dosen Program Studi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unej tersebut saat dikonfirmasi, Sabtu (18/1/2020).

Menurut Wachyu saat metabolisme terganggu karena ada suatu yang berlebihan, maka akan dikeluarkan. Proses itu dalam ilmu biologi disebut sekresi.

''Ketika dia itu kelebihan air, maka ada mekanisme mengeluarkan air itu melalui beberapa organ. Bisa melalui daun atau pori-pori (celah) yang ada di batang. Demikian juga ketika kelebihan gas,'' kata Wachyu.

''Sekarang ini kan perubahan dari kemarau ke penghujan. Jadi secara alamiah, pasti ada materi-materi yang masuk ke dalam batang. Tekanan yang ada di luar dan dalam batang juga akan mengalami perbedaan. Nah, tumbuhan akan melakukan stabilisasi terhadap tekanan ini,'' sambung Wachyu.

Proses ini, lanjut Wachyu, disebut sekresi betabolik. Ketika tekanannya besar, maka proses sekresi bisa mengeluarkan dengung.

''Besar kecilnya suara dengung yang ditimbulkan, tergantung besar kecilnya pori yang ada di batang pohon. Ketika tekanannya di dalam besar sementara porinya kecil, maka suara yang ditimbulkan juga besar. Inilah mungkin yang diasumsikan seperti orang menangis,'' terang Wachyu.

Jadi, sambung Wachyu, batang pohon mengeluarkan suara merupakan hal yang lazim. Sebab hal itu merupakan suatu proses alamiah.

''Kayak kita aja, kalau tekanan di perut kita besar, maka akan muncul kompensasi harus dikeluarkan dalam bentuk gas. Nah itu juga menimbulkan suara berdesing. Pada manusia bisa dalam bentuk kentut atau yang lain,'' terang Wachyu.

''Proses mengeluarkan ini disebut sekresi, yakni mengeluarkan substansi yang ada di dalam tubuh untuk menjaga metabolisme agar tetap seimbang. Itu proses alamiah yang dilakukan mahluk hidup,'' ujar Wachyu.***

Editor:hasan b
Sumber:detik.com
Kategori:Ragam

wwwwww