Loading...    
           

Enam Polisi Terbukti Pakai Senjata Api Berpeluru Tajam Saat Tangani Demo Mahasiswa di Kendari

Enam Polisi Terbukti Pakai Senjata Api Berpeluru Tajam Saat Tangani Demo Mahasiswa di Kendari
Aksi unjuk rasa mahasiswa di Kendari, Kamis (26/9) lalu. (dok)
Kamis, 03 Oktober 2019 19:14 WIB
JAKARTA - Pihak kepolisian sempat membantah bahwa aparat Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menggunakan senjata api berpeluru tajam saat menangani aksi demonstrasi mahasiswa di Kendari pada 26 September lalu.

Namun hari ini, Kamis (3/10), Kepala Biro Divisi Propam Mabes Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Hendro Pandowo mengatakan, enam anggota Polda Sultra ditetapkan sebagai terperiksa karena diduga melanggar prosedur operasional standar (POS) penanganan demonstrasi yang merenggut nyawa dua mahasiswa di kantor DPRD Kendari, pekan lalu. Keenam polisi tersebut terbukti membawa senjata api berpeluru tajam saat pengamanan unjuk rasa.

Dikatakan Hendro Pandowo, keenam anggota polisi tersebut kini dalam pemeriksaan internal.

''Kami tetapkan enam anggota menjadi terperiksa,'' ujar Hendro dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan di Jakarta, Kamis (3/10), seperti dikutip dari republika.co.id.

Perwira bintang satu itu membeberkan inisial enam anggota terperiksa tersebut, yakni DK yang berpangkat perwira. Lainnya, GM, MI, MA, dan H, serta E berpangkat bintara. Keenamnya berasal dari Polda Sultra, dan Kepolisian Resor (Polres) Kendari. Keenamnya, pun teridentifikasi sebagai anggota satuan reserse kriminal dan intai.

Hendro mengatakan, enam anggota kepolisian itu membawa senjata api laras pendek jenis S&W dan HS dengan amunisi tajam saat pengamanan demonstrasi. Dua jenis senjata itu, lazim menggunakan amunisi 9 milimeter (mm).

Hendro menegaskan, membawa senjata api dengan amunisi tajam saat pengamanan demonstrasi menjadi fokus utama pemeriksaan Propam.

Satu yang pasti, menurut dia, membawa senjata api dalam pengamanan unjuk rasa merupakan kesalahan fatal. Sebab, Hendro menegaskan, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mewajibkan seluruh personel kepolisian di lokasi unjuk rasa tak menggunakan senjata api dengan amunisi tajam saat pengamanan aksi demonstrasi.

''Ini yang kita dalami kenapa senjata itu dibawa saat pengamanan unras (unjuk rasa). Padahal Kapolri sudah sampaikan untuk tidak bawa senjata,'' kata Hendro.

  Pengamanan unjuk rasa mahasiswa di Kantor DPRD Kendari, Sultra, Kamis (26/9) menjadi salah satu perlakuan terburuk yang dilakukan aparat kepolisian terhadap para demonstran selama aksi penolakan terhadap RUU KUHP dan revisi UU KPK yang terjadi hampir di seluruh kota di Indonesia.

Di kota tersebut, seorang mahasiswa semester tujuh dari Universitas Halu Oleo, La Randi yang menjadi salah satu peserta massa aksi, meninggal dunia diterjang peluru tajam yang menembus dadanya.

Selain Randi, mahasiswa lainnya yakni Yusuf Qardawi, juga akhirnya meninggal dunia setelah mengalami gegar otak. Unjuk rasa yang memakan korban jiwa itu membuat Kapolri Jenderal Tito Karnavian melakukan pencopotan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sultra, pada Jumat (27/9).

Tito pun menerjunkan tim khusus untuk menyelidiki kasus penembakan tersebut. Tim yang menyertakan divisi propam, forensik, dan balistik sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi penembakan Randi.

Hendro melanjutkan, saat tim melakukan investigasi, ada temuan tiga selongsong peluru di depan kantor Dinas Ketenagakerjaan (Disnakertrans) Pemprov Sultra, yang berada di Jalan Abdullah Silondae. Terkait selongsong tersebut, tim gabungan investigasi belum mau membeberkan. Namun, Hendro mengatakan, setelah tim melakukan olah TKP, tim akan melakukan pemberkasan para terperiksa, untuk selanjutnya dilakukan sidang profesi dan etik internal.

Cuma Pakai Tongkat

Sebelumya Kabid Humas Polda Sultra AKBP Hary Goldenhart Santoso, mengatakan anggota kepolisian hanya menggunakan tongkat dan tameng saat mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa di Kendari.

Jadi, lanjutnya, tak ada aparat kepolisian yang mengamankan demonstrasi tersebut menggunakan peluru tajam maupun peluru karet.

''Di sini dapat saya tegaskan bahwa kami dari aparat kepolisian, dalam memberikan pelayanan kepolisian dalam mengamankan kegiatan unjuk rasa, anggota tidak dibekali, baik itu dengan peluru tajam, peluru karet maupun peluru hampa. Anggota hanya dibekali dengan tameng, tongkat, water canon dan peluru gas air mata,'' kata Hary Goldenhart Santoso beberapa hari lalu.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi

Loading...
GoSumbar.com Wanita Perekam dan Penyebar Video Ancam Penggal Kepala Jokowi Divonis Bebas
GoSumbar.com Artis Korea Sulli Ditemukan Tak Bernyawa di Apartemen
GoSumbar.com Wali Kota Pesta Seks dengan Sejumlah Pelacur di Kapal, Videonya Beredar Luas
GoSumbar.com Ajakan Menikah Ditolak, Pemuda Nekat Bunuh Diri di Hadapan Janda Idamannya
GoSumbar.com Ada Pesan dari Pemimpin Tentara Pembebasan Papua Sebelum Kerusuhan di Wamena, Warga Pendatang Akan Dieksekusi
GoSumbar.com Wuih, Ibu Rumah Tangga Cantik Ini Sendirian Gelapkan 62 Mobil dalam 2 Bulan, Begini Modusnya
GoSumbar.com Tangki Mobil Mengisi BBM Bocor, SBPU Bukit Ambacang Nagari Gadut Terbakar Tadi Malam
GoSumbar.com Pohon Ini Tahan Api, BNPB Silakan Gubernur dan Bupati Ambil Bibit untuk Ditanam di Daerah Rawan Karhutla
GoSumbar.com Dijanjikan Dinikahi Jika Hamil, Siswi SMP Dicabuli Remaja Baru Dikenalnya di FB, Pelaku Terancam 15 Tahun Penjara
GoSumbar.com Kapolda Papua Sebut Penikaman Pekerja di Wamena Ada Hubungannya dengan Kerusuhan 23 September
GoSumbar.com Kajian Ustaz Abdul Somad di UII Dihadiri 7.000 Jamaah, Rektor: Luar Biasa, Alhamdulillah
GoSumbar.com Berdalih Beri Pelajaran Seks, Ayah Perkosa Putrinya Selama 20 Tahun Hingga Lahirkan 6 Anak yang Juga Dicabulinya
GoSumbar.com Ambon dan Seram Disebut Bakal Lenyap Terseret ke Palung Laut Sedalam 7 Kilometer, Begini Penjelasan BNPB
GoSumbar.com Ditembak Saat Shalat, 15 Muslim Tewas dalam Masjid
GoSumbar.com Digauli Ayah Tiri, Gadis 16 Tahun di Ciputat 2 Kali Hamil dan Melahirkan, Terungkap Saat Melamar Kerja
GoSumbar.com Kenal Lewat FB, Remaja Ini Cabuli 4 Gadis, Satu Korban Siswi Kelas II SMP
GoSumbar.com Ditikam Orang Tak Dikenal Sepulang Bekerja, Pria Asal Sulsel Tewas di Wamena
GoSumbar.com Topan Hagibis Bisa Sebabkan Gelombang 4 Meter di Peraian Indonesia
wwwwww