Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Muhammadiyah: Ceramah Ustaz Abdul Somad Meneguhkan Akidah Muslim, Bukan Penistaan Agama

Muhammadiyah: Ceramah Ustaz Abdul Somad Meneguhkan Akidah Muslim, Bukan Penistaan Agama
Ustaz Abdul Somad saat menyampaikan tausiyah pada acara MPR-RI Bershalawat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (29/8). (republika.cco.id)
Selasa, 20 Agustus 2019 15:26 WIB
JAKARTA - Sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) Kristen dan Katolik di berbagai tempat melaporkan ulama kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) ke polisi. Merka menuduh ceramah ustaz asal Pekanbaru, Riau itu melakukan penistaan terhadap agama Kisten dan Katolik.

Menyikapi laporan terhadap UAS tersebut, Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Ustaz Fathurrahman Kamal, Lc MSi, mengajak seluruh umat beragama mengedepankan sikap toleransi dan saling menghargai serta memahami.

Menurut dia, apa yang disampaikan UAS, sebagaimana terekam dalam video yang marak beredar, adalah suatu bentuk peneguhan akidah yang tertuju hanya kepada internal umat Islam. Karena itu, ceramah UAS tak bisa dimaknai sebagai penistaan terhadap ajaran agama lain.

''Semalam, kami berdiskusi dan bermusyawarah terkait ceramah Ustaz Abdul Somad tiga tahun lalu yang hari-hari ini mau diperkarakan oleh pihak tertentu. Pandangan kami sangat sederhana, dan tidak jauh-jauh amat. Kami hanya khawatir saja bahwa peneguhan-peneguhan keagamaan bersifat internal dan untuk kalangan terbatas serba dipolitisir atas nama apapun, termasuk dipolisikan misalnya,'' kata Ustaz Fathurrahman Kamal dalam pernyataan tertulis yang diterima Republika.co.id, Selasa (20/8).

''Jika mentalitas keberagamaan kita seperti ini, lalu sampai kapan umat beragama di Republik ini disibukkan dan terinterupsi dengan persoalan-persoalan yang tidak produktif, bahkan tendensius dan rentan tersusupi kepentingan politik rendahan? Sementara, persoalan-persoalan bangsa dan negara, semacam terorisme dan separatisme di bagian tertentu Republik dianggap irama merdu biduan cantik,'' sambung pengasuh Pondok Pesantren Budi Mulia (PPBM) Yogyakarta itu.

Ustaz Fathur--demikian ia akrab disapa--lantas mengemukakan contoh dakwah seorang tokoh dalam sejarah Muhammadiyah: KH Ahmad Azhar Basyir, MA. Dia merupakan ketua PP Muhammadiyah periode 1990-1995. Pada 1969, Kiai Azhar Basyir diketahui menyampaikan kuliah tentang Muhammadiyah di Akademi Kateketik Katolik Yogyakarta.

Ustaz Fathur meneruskan kisahnya:

''Secara tulus Kyai Azhar Basyir menyampaikan ucapan terima kasih, bahkan merasa mendapat kehormatan dengan undangan dari Institusi Katolik tersebut.

Ketika itu, Kyai Azhar Basyir menyampaikan ceramah dengan judul, ''Mengapa Muhammadijah berjuang menegakkan tauhid jang murni?''

Kata Sang Kyai, ''Karena Muhammadiyah yakin benar-benar, dan ini adalah keyakinan seluruh umat Islam, bahwa tauhid jang murni adalah ajaran Allah sendiri. Segala ajaran yang bertendensi menanamkan kepercayaan 'Tuhan berbilang' bertentangan dengan ajaran Allah. Dan oleh karena keyakinan 'Tuhan berbilang' itu menyinggung keesaan Tuhan yang mutlak, maka keyakinan 'Tuhan berbilang' itu benar-benar dimurkai Allah. Tauhid murni mengajarkan keesaan Tuhan secara mutlak. Kepercayaan bahwa sesuatu atau seseorang selain Allah mempunyai sifat ke-Tuhanan, disebut 'syirik.' Syirik adalah perbuatan dosa terbesar yang tidak diampuni Allah.''

Apakah lantas Kiai Azhar Basyir dianggap menista ajaran Katolik? Tentu tidak. Sebab, pidato tersebut tidak dapat dipisahkan dari konteks; baik konteks peristiwa atau lingkungan di mana beliau diminta untuk memberi kuliah tentang Muhammadiyah. Konteks internal pembicara yang tak dapat dipisahkan dari suasana batin maupun keyakinan agamanya (tauhid murni).

Sebab, beliau (KH Ahmad Azhar Basyir--Red) tak hendak tampil dengan wajah ganda. Beliau menerangkan tauhid yang autentik, dan tak bermaksud menista keyakinan saudara-saudara kita yang beragama Katolik.

Menanggulangi Pemurtadan

Menurut Ustaz Fathur, pemaparan itu disampaikan dalam diskusi dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah kemarin, Senin (19/8). Berbagai respons positif diterimanya.

Di antaranya datang dari KH Syukrianto AR, yang tak lain ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah periode 2005-2010. Kiai Syukrianto juga merupakan putra KH AR Fahruddin rahimahullah (ketua umum PP Muhammadiyah 1968-1990).

Dalam diskusi itu, ada kesamaan pandangan, yakni apa yang disampaikan UAS hanyalah untuk meneguhkan akidah umat Islam. Tak ada maksud selain itu.

Ustaz Fathur menuturkan, dalam diskusi itu, Kiai Syukrianto juga mengajak para dai untuk selalu istikamah, tak letih menuntun umat dengan cara-cara yang damai, santun, dan menyejukkan.

''Pak Syukri AR, begitu beliau akrab disapa, mengingatkan bahwa, jauh sebelum Muhammadiyah berdiri, sekitar tahun 1902, KH Ahmad Dahlan, sebagai abdi dalem pametakan dipanggil HB VII untuk diajak mencari cara menanggulangi pemurtadan kaum pribumi di sekitar 17 pabrik gula di wilayah kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat,'' ujar Ustaz Fathur menceritakan ulang penuturan Kiai Syukrianto.

Pada 1903, sang pendiri Persyarikatan Muhammadiyah itu menerima tugas untuk berkonsultasi dengan ulama di Makkah. Tujuannya untuk mencari cara mengatasi pemurtadan di belasan pabrik gula tersebut dengan cara damai, tidak menimbulkan keributan.

''Maka KH Ahmad Dahlan ke Makkah bersama putranya, Siraj Dahlan, dan tinggal di Makkah selama satu setengah tahun. Kebetulan saat itu Syekh Rasyid Ridha juga sedang haji. Maka KH Ahmad Dahlan oleh kemenakannya, Kyai Bakir--termasuk kakeknya Prof Chamamah Suratno, mantan ketua umum 'Aisyiyah--mukimin dan menjadi salah satu imam di Madjidi al-Haram dipertemukan dengan Syekh Rasyid Ridha,'' katanya.

Ketika kembali ke Yogyakarta pada 1904-an, KH Ahmad Dahlan lalu giat berdakwah dengan cara damai, santun, mengajarkan wal 'ashri (surah al-'Ashr) selama kira-kira delapan bulan, lalu surah al-Ma'un sekitar tiga bulan. Kiai Ahmad Dahlan juga mendidik anak-anak perempuan lewat pengajian Sopo Tresno pada 1904-an, yang lalu menjadi cikal bakal 'Aisyiyah. Beliau juga mendirikan pondok yang kelak menjadi cikal-bakal Mu'allimin dan Mu'allimat. Pada 1912, Kiai Ahmad Dahlan akhirnya mendirikan Muhammadiyah.

Maka dari itu, jelaslah bahwa berbagai upaya KH Ahmad Dahlan itu berawal dari keinginan untuk menanggulangi pemurtadan. Ini pun sebagai respons dan jawaban atas kegalauan Sri Sultan Hamengkubuwono VII, yaitu adanya pemurtadan kaum pribumi di sekitar 17 pabrik gula di Ngayogyokarto Hadiningrat.

Maka dalam Statuten Muhammadiyah 1912, artikel 2 dinyatakan, ''Maka perhimpunan itu maksudnya: Pertama, menyebarkan pengajaran agama Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Bumiputra di dalam redidensi Yogyakarta dan, kedua, memajukan hal agama (Islam) kepada anggota-anggotanya.''

''Salah satu ahli kristologinya adalah KH Zaini, adik KH Suja, adik KH Fahruddin, adik Ki Bagus Hadikusumo dan kakek dari Dr Busyro Muqoddas. Tulisannya yang terkenal 'Horeging Jagad Kristen','' ujarnya. ***

Editor : hasan b
Sumber : republika.co.id
Kategori : SerbaSerbi

Loading...
www www