Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Biarkan Ibu Melahirkan di Depan Rumahnya dan Pungut Bayaran Rp800.000, Izin Praktik Bidan SF Dicabut
Peristiwa
8 jam yang lalu
Biarkan Ibu Melahirkan di Depan Rumahnya dan Pungut Bayaran Rp800.000, Izin Praktik Bidan SF Dicabut
2
Artis FTV Ditangkap Saat bersama Pria dalam Kamar Hotel di Medan
Peristiwa
9 jam yang lalu
Artis FTV Ditangkap Saat bersama Pria dalam Kamar Hotel di Medan
3
Petugas Kebersihan KRL yang Kembalikan Rp500 Juta Milik Penumpang Diangkat Jadi Karyawan Tetap
GoNews Group
2 jam yang lalu
Petugas Kebersihan KRL yang Kembalikan Rp500 Juta Milik Penumpang Diangkat Jadi Karyawan Tetap
4
Jokowi Bersikukuh Lanjutkan Kartu Prakerja Lewat Perpres, Sukamta: Harusnya Dihentikan
Politik
20 jam yang lalu
Jokowi Bersikukuh Lanjutkan Kartu Prakerja Lewat Perpres, Sukamta: Harusnya Dihentikan
5
Pembukaan Kembali Sekolah, Orang Tua Bisa Pilih Anak Belajar di Rumah
GoNews Group
10 jam yang lalu
Pembukaan Kembali Sekolah, Orang Tua Bisa Pilih Anak Belajar di Rumah
Loading...
Home >  Artikel >  Ragam

Menlu AS Sebut Kezaliman China Terhadap Muslim Uighur Noda Abad Ini

Menlu AS Sebut Kezaliman China Terhadap Muslim Uighur Noda Abad Ini
Muslim Uighur. (republika.co.id)
Jum'at, 19 Juli 2019 07:50 WIB
WASHINGTON - Ketika Arab Saudi dan negara-negara Teluk mendukung kebijakan pemerintah China terhadap Muslim Uighur, Amerika Serikat (AS) justru menyebut penzaliman Muslim Uighur merupakan krisis hak asasi manusia terbesar dalam sejarah dunia kontemporer.

Dikutip dari republika.co.id, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo di Washington, Kamis (18/7) waktu setempat menyebut Cina menjadi salah satu negara dengan krisis hak asasi manusia (HAM) di zaman ini. ''Itu benar-benar noda abad ini,'' kata Pompeo seperti dilansir dari VOA, Jumat (19/7).

Pompeo juga menuduh Pemerintah Cina mengintimidasi negara-negara di dunia agar tidak menghadiri konferensi yang digelar AS tersebut.

Ia mengatakan, AS telah mencatat negara-negara yang tunduk pada Cina. AS  menantang semua negara  untuk 'menemukan keberanian' membela Cina atas masalah Uighur tersebut.

Pada awal pekan ini, ia mengatakan Konferensi yang digelar selama tiga hari dan berakhir pada Kamis (18/7) itu akan dihadiri lebih dari 100 negara di dunia. Namun, Kementerian Luar Negeri AS menyebut target kehadiran konferensi itu tidak tercapai.

''Kami tahu pemerintah Cina memanggil negara-negara secara khusus untuk mencegah partisipasi,'' kata Pompeo.

Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama juga memanggil 27 warga yang menjadi korban penganiayaan atas nama agama. Empat orang di antaranya berasal merupakan warga Muslim dari Uighur. Pertemuan tersebut juga menjadi bagian dari konferensi keagamaan yang digelar oleh Pemerintah AS.

Selain bertemu dengan warga Muslim Uighur, Trump juga bertemu dengan warga lintas agama asal Myanmar, Turki, Korea Utara, dan Iran. Dalam pertemuan sekitar 30 menit itu, para warga menceritakan bentuk-bentuk penganiayaan yang di alami.

Namun, secara spontan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lu Kang, menegaskan bahwa Cina tidak pernah melakukan penganiayaan agama dan menjunjung tinggi kebebasan bergama sesuai hukum.

Lu Kang menilai, langkah Trump sarat akan campur tangan urusan internal Cina. Pemerintah Cina juga memandang AS menggunakan agama sebagai dalih untuk mencampuri urusan dalam negeri Cina.

''Kami menyesalkan dan sangat menentang itu. Kami mendesak AS untuk melihat kebijakan agama Cina dan kebebasan beragama secara adil,'' kata Lu Kang. ***

Editor : hasan b
Sumber : republika.co.id
Kategori : Ragam

Loading...
www www