52 Warga Watu Bonang Mengungsi ke Ponpes, Ternyata Ini Identitas Pria yang Sebar Isu Kiamat Sudah Dekat

52 Warga Watu Bonang Mengungsi ke Ponpes, Ternyata Ini Identitas Pria yang Sebar Isu Kiamat Sudah Dekat
Salah rumah di Desa Watu Bonang yang ditinggal pemiliknya karena mengungsi ke Malang. (kumparan)
Kamis, 14 Maret 2019 12:13 WIB
MALANG - Sebanyak 52 warga (16 keluarga) Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, mengungsi ke Ponpes Miftahul Falahil Mubtadi'in di Kabupaten Malang, karena meyakini kiamat sudah dekat.

Dikutip dari tribunnews.com, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengungkapkan, yang menyebarkan isu bahwa kiamat sudah dekat tersebut adalah Katimun, yang juga merupakan warga Desa Watu Bonang.

''Dua bulan lalu, Katimun pulang dari menimba ilmu. Setibanya di desa tersebut, dia menyampaikan kepada warga bahwa kiamat sudah dekat,'' kata Ipong Muchlissoni,

Karena isu kiamat yang disampaikan oleh Katimun tersebut, warga Desa Watu Bonang pindah ke Kasembon, Kabupaten Malang. Jamaah diminta menjual aset-aset yang dimiliki untuk bekal di akhirat atau dibawa dan disebarkan di pondok.

''Mereka juga sampaikan kalau masuk ke jemaah ini, maka ketika dunia ini kiamat mereka tidak ikut kiamat,'' kata Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni saat dihubungi Kompas.com (jaringan SURYA.co.id), Rabu (13/3/2019).

Penyebar aliran itu juga menyatakan pada Ramadhan yang akan datang akan ada huru-hara atau perang. Untuk itu jamaah diminta membeli pedang kepada kiai seharga Rp1 juta.

''Bila tidak membeli pedang diminta menyiapkan senjata di rumah. Ini tidak masuk semua,'' kata Ipong.

Ipong mengatakan pengikut kiai asal Kasembon itu tidak hanya berasal dari Ponorogo saja. Informasinya, ada juga yang berasal dari berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Ipong menambahkan saat ini 52 warganya itu sudah pindah ke pondok yang berada di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang sejak sebulan lalu.

''Tak hanya pindah, rumahnya juga sudah dijual tetapi ada yang belum laku,'' kata Ipong.

Mengaku Heran

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Najib Hamid mengaku heran dengan mudahnya warga percaya bahwa kiamat sudah dekat dan sifatnya lokal.

''Bagaimana mereka memahami kalau di Ponorogo kiamat, tapi di Malang tidak, masak ada kiamat lokal?'' kata dia Rabu (13/3/2019) di kantornya.

Peristiwa tersebut dianggapnya potret bahwa masih banyak warga Jawa Timur yang belum mengenyam pendidikan agama secara utuh.

''Ini bukan hanya tugas pemerintah, namun juga tugas semua warga negara untuk memberi pemahaman agama yang utuh,'' ujarnya.

Najib mencurigai ada motif kriminal dalam peristiwa tersebut. ''Harus ditelusuri siapa yang mendoktrin warga tersebut, dan kepada siapa warga menjual asetnya secara murah. Jangan-jangan ada penadahnya,'' terang mantan anggota KPU Jawa Timur itu. ***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww