Gus Sholah Sebut Sikap Politik Ketum PBNU Said Aqil Sering Paradoks dengan Ucapannya

Gus Sholah Sebut Sikap Politik Ketum PBNU Said Aqil Sering Paradoks dengan Ucapannya
Gus Sholah. (tribunnews)
Rabu, 20 Februari 2019 17:51 WIB
SURABAYA - Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Solahuddin Wahid (Gus Sholah) menuding pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siraj, sering paradoks (bertentangan) dengan sikap politiknya.

''Saya lihat Pak Said bicara di salah satu televisi swasta, dia mengatakan bahwa politik NU adalah politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan,'' kata Gus Sholah saat menjadi narasumber di Acara Oase Bangsa bertema: Muslim Peduli Pemilu di Surabaya, Rabu (20/2), seperti dikutip dari merdeka.com.

Menurut Gus Sholah, ucapan Said Aqil tersebut bertolak belakang dengan sikap politiknya saat Pilgub Jawa Timur 2018 lalu. Dia mengatakan, saat itu Said Aqil menyerukan agar warga NU memilih Syaifullah Yusuf (Gus Ipul).

''Lah ini kan bertentangan dengan ucapan yang pertama tadi kan,'' tegas Gus Sholah membuka memori Pilgub Jawa Timur yang akhirnya dimenangkan oleh Khofifah Indar Parawansa.

''Jadi menurut saya, ada pemahaman yang tidak tepat atau pemahaman berbeda antara pemahaman saya dengan pemahaman PBNU dan PWNU Jatim, yang mengatakan bahwa Pak Ma'ruf Amin jadi Cawapres itu, itu bukan politik kekuasaan tapi politik kebangsaan, itu demi kemauan bangsa,'' sambung Gus Sholah menirukan ucapan Said Aqil.

Menurut adik kandung almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, politik kebangsaan bukan soal dukung-mendukung calon yang akan berkontestasi seperti Pilgub maupun Pilpres. ''Nah, ini kan beda banget pengertiannya. Menurut saya ini harus didudukkan,'' tegasnya.

Karena dengan mengatakan seperti itu, tegas cucu pendiri NU, Hasyim As'ari ini, sama halnya Said Aqil menyebar kabar bohong. ''Itu (ucapan Kiai Said) hoaks menurut saya itu. Menurut saya hoaks padahal (NU) tidak. Itu yang bener yang mana? Ini kan bahaya!''

Yang jelas, masih kata Gus Sholah menegaskan, NU tidak boleh berpolitik praktis. ''Kalau warga NU memilih Pak Ma'ruf Amin, itu wajar-wajar saya gitu loh, tidak perlu harus dikatakan warga NU harus memilih Pak Ma'ruf Amin oleh struktur NU, itu yang tidak benar. (Termasuk warga NU memilih Prabowo) ya silakan saja,'' tegasnya.

Lantas politik NU yang benar seperti apa, Gus Sholah memberi contoh. ''Di Tebuireng, keluarga Tebuireng itu ada yang memilih Prabowo, ada yang milih Jokowi. Wajar-wajar saja.''

''Yang tidak boleh (memilih) itu saya. Iya kan? Saya tidak boleh mendukung Jokowi dan juga tidak boleh mendukung Prabowo. Itu harusnya sikap PBNU, mengayomi siapa saja, tidak memihak satu golongan,'' tukasnya.

Kembali Gus Sholah menyesalkan sikap pro-kontra PBNU. Seperti ketika Said Aqil berpidato di Harlah Muslimat NU yang ditayangkan televisi. ''Saya nontonnya di Youtube: NU harus menang! Loh menang iku pertandingan opo? Wong bertanding aja tidak, kok NU harus menang. Bagaimana ini,'' sesalnya sembari menegaskan bahwa NU harus mengayomi umat bukan untuk satu golongan atau satu partai politik. ***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww