Pemerintah Malaysia Janji Tindak Provokator Kerusuhan dan Pembakaran Pura di Kuala Lumpur

Pemerintah Malaysia Janji Tindak Provokator Kerusuhan dan Pembakaran Pura di Kuala Lumpur
Mobil yang dibakar massa saat kerusuhan dekat pura di Kuala Lumpur, Senin lalu. (bbcindonesia.com)
Kamis, 29 November 2018 22:31 WIB
KUALA LUMPUR - Muhammad Adib Kasi, seorang petugas pemadam kebakaran kritis setelah terluka dalam kerusuhan di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (26/11).

Dikutip dari bbcindonesia.com, Mohammad Adib Mohammad Kasi ditarik keluar dari truk pemadam kebakaran oleh massa berjumlah lebih dari 1.000 orang saat ia tiba di tempat kerusuhan untuk memadamkan mobil yang terbakar.

Beberapa orang terluka dan belasan kendaraan terbakar setelah serangan terhadap pura Hindu di dekat Kuala Lumpur pada Senin (26/11) dini hari.

Luka-luka yang diderita Adib diperkirakan akibat diinjak massa. Tulang rusuknya patah dan paru-parunya bocor.

Kerusuhan terjadi dekat Pura Sri Maha Mariamman, di Kuala Lumpur. Ketegangan juga meningkat di tempat terpisah setelah ada daging babi yang dilaporkan dilempar ke dua surau di Malaka, sekitar 150 kilometer dari Kuala Lumpur, lapor Sinar Harian.

Polisi mengawasi tempat-tempat peribadatan setelah insiden ini namun mengatakan kerusuhan di dekat Kuala Lumpur terkait dengan sengketa tanah dan bukan soal etnis atau agama.

Kekhawatiran kerusuhan etnis sempat mencuat setelah sejumlah etnik Melayu Malaysia menyerang pura Hindhu pada Senin (26/11) dan menghancurkan patung dewa serta sempat menodong petugas tempat peribadatan Hindu itu, menurut laporan Malaysiakini.

Pemeluk Hindu di Malaysia yang sebagian besar etnik India terdiri dari enam persen dari sekitar 31,6 juta penduduk negara itu. Menyusul kerusuhan pada Senin pagi, kekerasan berlanjut di dekat pura.

Laporan KiniTV menunjukkan massa menyerang truk pemadam kebakaran.

Paling tidak 19 orang ditahan dan pemerintah Malaysia berjanji akan menindak para provokator.

''Mereka yang bertanggung jawab, bila ada, tak akan lolos dari hukuman,'' kata Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

Pemerintah juga meminta agar warga Malaysia berhati-hati dalam membuat pernyataan online yang dapat ''menimbulkan ketegangan dan mempengaruhi hubungan antarkomunitas.''

Insiden ini terjadi di tengah debat nasional tentang persamaan hak, yang menyebabkan ancaman kelompok mayoritas untuk melakukan protes.

Warga Melayu Malaysia menikmati subsidi dan kebijakan lain dan mendapatkan ''posisi khusus'' seperti tercantum dalam Konstitusi Federal.

Ahmad Zahid Hamidi, Presiden Umno, partai politik terbesar Malaysia, sebelumnya pada bulan ini memperingatkan bahwa warga Malaysia bisa mengamuk dan mendesak pemerintah untuk secara serius menangani masalah ini.

''Jangan sampai orang Melayu mengamuk ... Jangan minta, ancaman bukan sekedar ancaman, kalau tak percaya, coba,'' kata Ahmad Zahid Hamidi seperti dikutip Utusan Malaysia.***

Editor:hasan b
Sumber:bbcindonesia.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww