12 Wanita Purwakarta Jadi Korban Penjualan Orang Bermodus Kawin Kontrak, Libatkan Mafia Asal China

12 Wanita Purwakarta Jadi Korban Penjualan Orang Bermodus Kawin Kontrak, Libatkan Mafia Asal China
Ilustrasi. (azernews.az)
Jum'at, 03 Agustus 2018 17:59 WIB
PURWAKARTA - Sebanyak 12 wanita warga Purwakarta, Jawa Barat, menjadi korban human trafficking (penjualan orang) yang melibatkan mafia asal China.

Dikutip dari okezone.com, Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi, mengungkapkan, mereka menjadi korban dibayar Rp400 Juta per orang.

''Menurut hukum di Tiongkok (China), status korban kini sebagai istri sah pembeli. Inilah membuat proses menyelamatkannya menjadi sulit,'' kata Dedi di kediamannya di Desa Sawah Kulon, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Jumat (3/8).

Karena prosesnya melibatkan hukum positif di China, Dedi akan menggunakan jasa pengacara. Pengacara tersebut akan menjalin koordinasi dengan lembaga hukum di sana dan KBRI.

''Kita membutuhkan pengacara tentunya untuk mengatasi kegamangan proses hukum ini,'' singkatnya.

Menurut Dedi, korban yang seluruhnya berjumlah 12 orang mulanya hanya dijanjikan kawin kontrak. Faktanya, saat sudah menikah, mereka justru mengalami kekerasan seksual, fisik dan psikologi.

''Biasalah ada iming-iming. Mulai dari mobil, apartemen sampai uang puluhan juta. Janji itu tidak pernah terbukti, malah yang terjadi adalah kekerasan terhadap mereka,'' katanya.

Pihak KBRI Tiongkok sebenarnya bukan tanpa ikhtiar. Mereka sudah menjalin koordinasi dengan kepolisian setempat untuk proses pemulangan. Akan tetapi, prosesnya mengalami kebuntuan karena korban kini berstatus sebagai istri sah pembeli.

''Kesimpulan kepolisian setempat itu tidak ada hukum yang dilanggar, ini yang repot. Sementara, seluruh korban meminta kepada pihak keluarga di Indonesia agar segera dipulangkan,'' ucapnya.

Kasus human trafficking ini menurut Dedi sebenarnya bisa dihindari. Caranya, penguatan pendidikan berkarakter di berbagai sektor terutama pendidikan skill bagi kaum perempuan.

Sehingga, marwah kaum perempuan terjaga dan mampu menjaga hak-haknya dalam berumah tangga.

''Saya sering katakan dimana-mana, pendidikan karakter itu penting. Wa bil khusus untuk kaum perempuan. Kalau mereka memiliki skill yang baik, tentu tidak akan tergoda kawin kontrak. Mereka belajar berproses dari awal, tidak mengandalkan impian instan,'' tuturnya.***

Editor:hasan b
Sumber:okezone.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww