Muslim Pasar Gembrong Terpaksa Shalat Tarawih di Jembatan Penyeberangan Orang, Begini Tanggapan Sandiaga

Muslim Pasar Gembrong Terpaksa Shalat Tarawih di Jembatan Penyeberangan Orang, Begini Tanggapan Sandiaga
Warga di kawasan Pasar Gembrong, Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur, melaksanakan shalat Tarawih di atas JPO. (sindonews.com)
Kamis, 24 Mei 2018 11:18 WIB
JAKARTA - Musala Miftahul Jannah yang berada di Pasar Gembrong, Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur, tak mampu menampung semua jamaah, sehingga sebagian terpaksa menunaikan shalat Tarawih di atas jembatan penyeberangan orang (JPO).

Dikutip dari sindonews.com, kondisi miris ini ternyata sudah berlangsung bertahun-tahun setiap Bulan Ramadhan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengaku sangat terharu dan sedih melihat kondisi itu. Sandi ingin segera ada solusi agar jamaah bisa nyaman dan khusyuk beribadah shalat Tarawih.

''Ya, itu saya terenyuh banget. Kemarin sudah ngomong sama teman-teman dari wilayah, saya minta Pak Lurah sama Pak Camatnya, coba cari tempat (solusi) di dekat situ,'' ujar Sandi di Balai Kota, Rabu (23/5/2018).

Menurut Sandi, selain bisa mengganggu kekhusyukan dalam beribadah, salat di JPO bisa membahayakan keselamatan.

''Kami akan berikan alternatif (solusi) karena itu sangat tidak baik. Bahwa ada faktor keselamatannya juga, faktor kepantasan juga. Kita lihat (pendapat) ulama kan menyampaikan keutamaan shalat itu di masjid,'' sebut Sandi.

Meski begitu, Sandi melihat di balik fenomena tersebut terdapat hikmah yang bisa diambil, yakni kegigihan seorang Muslim untuk menjalankan ibadah shalat Tarawih.

''Itu juga membawa hikmah. Kita semua ingin memberikan pesan agar sebisa mungkin salat di masjid. Tapi kalau memang darurat dan tidak ada tempat, ya tidak ada masalah. Tapi tetap harus dicarikan tempat sebagai solusi,'' pungkas Sandi.

Berdasarkan laporan lurah setempat, kata Sandi, setiap pekan pertama bulan Ramadhan, masjid di sana memang selalu membludak, sehingga sebagian jamaah sampai menempati bahu jalan dan JPO.

''Kami baru diberitahu oleh Pak Lurah, rupanya setiap tahun di pekan pertama bulan suci Ramadhan, hari pertama sampai hari ke 10, itu selalu membludak jamaahnya. Walaupun sudah direnovasi masjidnya, ternyata tidak mencukupi, akhirnya sebagian jamaah tidak ingin berdesakan dan memilih salat di atas JPO,'' ujar Sandi di Balai Kota, Kamis (24/5/2018).

Sandi mengatakan sudah meminta pejabat pemerintah setempat agar segera mencarikan ruangan lain, sehingga jamaah yang biasa salat Tarawih di atas JPO segera pindah.

Sandi menilai cara tersebut selain membahayakan pengguna jalan, juga mengganggu pejalan kaki yang menggunakan JPO. ''Ini sekarang lagi ditangani. Lagi dicarikan tanahnya oleh Pak lurah dan Pak Camat,” kata Sandi.

Sandi sejatinya mengapresiasi para jamaah yang tetap semangat beribadah shalat Tarawih meski dalam kondisi tidak nyaman.

''Seperti kita ketahui, salat Tarawih itu kan sangat baik untuk meningkatkan silaturahmi, menebar rahmat di tujuh hari pertama Ramadhan,'' tandasnya. ***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww