Santriwati Bercadar Diturunkan dari Bus dan Diserahkan ke Polisi, Begini Penjelasan Kepala Terminal

Santriwati Bercadar Diturunkan dari Bus dan Diserahkan ke Polisi, Begini Penjelasan Kepala Terminal
Santriwati menggunakan cadar diturunkan dari bus umum di Terminal Gayatri, Senin. (int)
Selasa, 15 Mei 2018 22:37 WIB
TULUNGAGUNG - Pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) menurunkan seorang santriwati salah satu pondok pesantren dari bus bus umum di Terminal Gayatri, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (14/5/2018). Setelah diturunkan dari bus, santriwati bercadar tersebut diserahkan ke pihak kepolisian.

Dikutip dari republika.co.id, Kepala Terminal Gayatri, Oni Suryanto, menjelaskan, gadis berusia sekitar 14 tahun itu terpaksa diturunkan dari bus karena tak kunjung menjawab saat ditanya petugas. ''Kejadiannya kemarin (Senin, 14/5),'' kata Oni.

Oni menerangkan, perempuan itu datang sekitar pukul 06.00 WIB dan naik ke bus jurusan Trenggalek sekitar pukul 08.00 WIB. ''Saat itu, dia terlihat kebingungan, tapi saat ditanya tidak mau menjawab,'' katanya.

Kecurigaan petugas makin menjadi karena perempuan belia yang belakangan diketahui berinisial SAN itu tidak mengenakan alas kaki sejak masuk terminal hingga naik bus jurusan Ponorogo. Namun, setelah diinterogasi, SAN mengaku sebagai santriwati Pondok Pesantren Darussalam, Kelurahan Kampungdalem, Tulungagung.

Kepada petugas, SAN mengaku ingin pulang ke Ponorogo, tetapi tak ingin usaha pulang kampung tanpa izin itu ketahuan pengurus pondok. ''Jadi, bukan karena penumpang yang takut dan tak mau wanita itu naik di bus. Tetapi karena mencurigakan, akhirnya diminta turun dulu oleh petugas,'' kata Oni.

Akhirnya, tim berkoordinasi dengan kepolisian. Tak berselang lama, polisi dari Polres Tulungagung datang dan membawa perempuan tersebut. ''Kami serahkan ke polisi untuk tindakan lebih lanjut. Sebab, mereka yang lebih memiliki kewenangan,'' ujar Oni.

Kabag Humas Polres Tulungagung Iptu Sumaji mengatakan, informasi penurunan penumpang dari atas bus Bagong jurusan Trenggalek benar. Namun, dia mengatakan, kabar tersebut telah dipelintir sehingga menjadi hoaks (informasi bohong).

''Berita yang beredar menjadi seolah ada diskriminasi perlakuan terhadap wanita bercadar di terminal. Padahal, tidak begitu,'' katanya.

Menurut Sumaji, penurunan penumpang SAN lebih dilakukan karena santri yang masih duduk di bangku kelas 8 SMP ini membuat penumpang lain waswas. Gerak-gerik yang misterius membuat SAN yang bercadar dan membawa sebuah tas dilaporkan penumpang lain kepada petugas Dishub di unit Terminal Gayatri, Tulungagung.

''Keterangan yang bersangkutan juga informasi dari pihak pondok, santri berinisial SAN ini sudah keempat kalinya ini mencoba kabur dari pondok. Tiga kali kepergok pengasuh pondok, ini yang terakhir berinisiatif pakai cadar supaya tidak mudah dikenali,'' katanya. 

Jangan Takut

Anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil, mengimbau masyarakat tidak takut atau curiga terhadap perempuan bercadar, menyusul sejumlah aksi teror di Jawa Timur dan penangkapan terduga teroris di sejumlah lokasi.

''Jangan takut, ngapain takut-takut dengan orang bercadar,'' kata politikus PKS tersebut di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/5).

Dia memahami ketika masyarakat merasa takut terhadap orang-orang yang menjadi pelaku teror pengeboman karena pelaku menggunakan pakaian yang identik dengan agama tertentu. Namun, dia meyakinkan bahwa ketakutan dan kekhawatiran terhadap perempuan bercadar karena aksi terorisme tidak tepat.

Sebab, terorisme tidak identik dengan agama, ras, dan kelompok tertentu. ''Teroris itu kan perilaku. Jadi, tidak betul kalau teroriis itu dikaitkan dengan orang tertentu, agama tertentu, dan sebagainya, apa lagi kemudian apriori terhadap simbol-simbol agama,'' kata Nasir.

Aksi teror beruntun di Jawa Timur pada Ahad (13/5) dan Senin (14/5) memunculkan kekhawatiran di masyarakat. Aksi teror pertama terjadi lewat pengeboman tiga gereja di Surabaya yang melibatkan satu keluarga beranggotakan ayah, ibu, dan empat anak pada Ahad.

Keluarga melakukan pengeboman di tiga gereja, yakni Dita Upriyanto, Puji Kuswati, Fad (12 tahun), PR (9), Yusuf Fadil (18), dan FH (16).

Pada Senin, satu keluarga dengan ayah, ibu, dan tiga anak, satu di antaranya selamat, melakukan aksi di Mapolrestabes Surabaya. Mereka adalah Tri Murtiono, Tri Ernawati, Muhammad Daffa Anin Murdana, dan MDS (15). 

Selain itu, bom tidak sengaja meledak di rumah keluarga beranggotakan enam orang. Korban meninggal dunia adalah Anton Febrianto (47 tahun) yang merupakan kepala keluarga, istrinya bernama Puspita Sari (47), dan satu anak perempuannya bernama RAR (17). 

Sebelum kejadian teror tersebut, kerusuhan melibatkan narapidana teroris terjadi di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob, Depok, Jawa Barar. Akibat kejadian ini, lima polisi gugur dan seorang napi teroris meninggal.

Kejadian lainnya adalah penangkapan dua perempuan di dekat Mako Brimob. Kedua perempuan diduga akan menyerang polisi menggunakan gunting.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww