Tembak Mati 6 Muslim di Masjid Usai Shalat Isya, Pria Ini Mengaku Menyesal karena Korbannya Kurang Banyak

Tembak Mati 6 Muslim di Masjid Usai Shalat Isya, Pria Ini Mengaku Menyesal karena Korbannya Kurang Banyak
Seorang warga berdiri di toko kelontong milik Azzeddine Soufiane salah satu korban penembakan di Masjid di Pusat Kebudayaan Islam Quebec. (republika.co.id)
Selasa, 17 April 2018 15:34 WIB
QUEBEC - Pada 29 Januari 2017 lalu, Alexandre Bissonnette memasuki masjid di kota Quebec, Kanada dan menembak mati enam orang Muslim yang baru saja selesai menunaikan shalat Isya. Alexandre Bissonnette mengaku sangat menyesal karena jumlah korbannya kurang banyak.

Dikutip dari republika.co.id, Alexandre Bissonnette mengungkapkan penyesalannya itu kepada seorang pekerja sosial beberapa bulan setelah pembunuhan itu. Dia berharap jumlah korbannya lebih banyak lagi. Pernyataan itu menjadi bukti yang diajukan di pengadilan pada Senin (16/4) waktu setempat.

Dalam laporan yang disajikan oleh the Crown, pekerja sosial bernama Guylaine Cayouette mengatakan, terdakwa Alexandre Bissonnette memberitahunya bahwa dia  mengidolakan pembunuh berantai sejak masa remajanya dan dia ingin membuat sebuah 'percikan' miliknya sendiri.

''Saya menyesal tidak membunuh lebih banyak orang. Para korban berada di langit dan aku hidup di neraka,'' kata Bissonnette pada September 2017, delapan bulan setelah dia memasuki sebuah masjid Kota Quebec dan menembak mati enam orang setelah shalat Isya, dilansir di Huffington Post, Selasa (17/4).

Laporan Cayouette dimasukkan sebagai bukti selama menjatuhkan hukuman untuk Bissonnette, yang mengaku bersalah bulan lalu atas enam tuduhan pembunuhan tingkat pertama dan enam percobaan pembunuhan dalam penembakan tersebut. Dia telah menemui Bissonnette atas permintaan seorang perawat, yang mengatakan dia tidak merasa sehat.

Cayouette mencatat begitu setelah terdakwa berusia 28 tahun itu memasuki kantornya di penjara Kota Quebec, dia mulai menangis. Pekerja sosial itu menambahkan Bissonnette juga mengatakan kepadanya ia menginginkan kemuliaan.

Pada hari yang sama, Aymen Derbali yang kehilangan kegunaan kakinya dalam penembakan tersebut juga bersaksi di pengadilan. Ia kini menggunakan kursi roda. Derbali adalah korban pertama Bissonnette yang bersaksi di pengadilan.

Derbali mengatakan, dia tengah mengatur acara televisi putranya pada 29 Januari 2017, ketika dia menyadari kemungkinan akan terlambat melaksanakan shalat Isya pada pukul 19.30. Dia mengatakan, awalnya dia ragu sedikit dan kemudian memutuskan pergi ke masjid. Ayah tiga anak ini baru saja memasuki masjid ketika dia mendengar suara tembakan.

''Saya yang paling dekat,'' katanya di pengadilan.

Dia mengatakan, dia terkena di bagian kakinya dan kemudian terjatuh ke lantai. Pria berusia 41 tahun itu mengatakan, dia mencoba merangkak dan menghentikan penembak, tetapi kemudian Bissonnette menembaknya.

Bissonnette menembakkan tujuh peluru ke tubuh Derbali, termasuk salah satu yang masih bersarang di sumsum tulang belakangnya. Derbali lantas ditanya oleh wartawan bagaimana rasanya berada di ruang sidang bersama dengan Bissonnette.

''Saya sama sekali tidak melihatnya. Dia hanya, aku tidak melihatnya sama sekali,'' ujar Derbali.

Pada hari yang sama, laporan riwayat pencarian di internet pada laptop milik Bissonnette menunjukkan bahwa dia mengunjungi situs web tentang senjata, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, feminisme, Islam, dan kelompok teroris ISIL, dalam beberapa pekan sebelum insiden pembunuhan terjadi. Berdasarkan laporan yang disusun oleh RCMP, pada hari pembunuhan yang terjadi, Bissonnette mengunjungi situs masjid 12 kali.

Bissonnette diduga mengunjungi halaman Facebook milik asosiasi mahasiswa Muslim di universitasnya pada 10 hari yang berbeda pada Januari 2017 dan sering berkunjung ke situs web dua kelompok wanita, termasuk satu juga yang berbasis di sekolahnya. Dia juga diduga membuat beberapa pencarian tentang Trump serta senjata api. Tidak jelas berapa persentase topik-topik ini yang mewakili total riwayat pencarian Bissonnette di internet.

Pada Januari 2017, Bissonnette dikatakan telah mencari video penembakan dan informasi tentang senjata dan amunisi. Sesaat sebelum dia memasuki masjid, dia diduga mencari video di pistol Glock, jenis senjata yang sama yang dia gunakan untuk membunuh enam orang tersebut.

Laporan RCMP juga mengatakan, Bissonnette mencari informasi mengenai pembunuh massal, termasuk tokoh supremasi kulit putih Dylann Roof serta Marc Lepine, penembak yang menargetkan wanita di Montreal pada pembantaian Ecole Polytechnique 1989.

Bissonnette mengatakan kepada polisi selama interogasi dalam beberapa jam setelah penembakan, dia menyetujui upaya Trump untuk membatasi imigrasi ke AS karena teroris bisa menyelinap ke negara itu. Pada hari pembunuhan, Bissonnette juga diduga mencari pesan Twitter yang ditulis sehari sebelumnya oleh Perdana Menteri Justin Trudeau yang menyambut pengungsi ke Kanada.

Atas aksinya, Bissonnette dapat menerima hukuman berlapis, yang membuatnya bisa dikenai hukuman penjara hingga 150 tahun. Namun, tim kuasa hukumnya berharap dia menerima hukuman bersamaan, yang akan membuatnya memenuhi syarat untuk mengajukan pembebasan bersyarat setelah 25 tahun.

Tuduhan terhadap Bissonnette berkaitan dengan serangan yang terjadi di Pusat Budaya Islam di kota Quebec pada 29 Januari 2017. Insiden itu telah menewaskan enam orang dan menyebabkan 19 lainnya luka-luka. Sementara jumlah percobaan pembunuhan disebutkan terkait dengan lima orang yang terkena peluru dan tuduhan keenam meliputi 35 orang lainnya yang kala itu berada di masjid. Para korban yang tewas tersebut di antaranya, Azzeddine Soufiane (57 tahun), Khaled Belkacemi (60), Aboubaker Thabti (44), Abdelkrim Hassane (41), Mamadou Tanou Barry (42), dan Ibrahim Barry (39).***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww