Dua Pekan Setelah Tulis Doa di Facebook, Wartawan Palestina Ditembak Militer Israel Tepat di Bagian Jantung

Dua Pekan Setelah Tulis Doa di Facebook, Wartawan Palestina Ditembak Militer Israel Tepat di Bagian Jantung
Demonstran Palestina melambaikan bendera di hadapan tentara Israel di perbatasan Gaza-Israel dekat Beit Lahiya, Rabu, 4 April 2018. (republika.co.id)
Minggu, 15 April 2018 06:49 WIB
GAZA - Seorang wartawan Palestina, Yaser Murtaja, tewas pada 7 April 2018, setelah militer Palestina menembaknya tepat di bagian jantung sehari sebelumnya.

Dikutip dari republika.co.id, dua pekan sebelum tertembak, pada 24 Maret, Yaser menulis pesan pada akunnya di Facebook. ''Saya harap, hari ketika saya dapat mengambil gambar ini di atas langit, bukannya di atas bumi, akan tiba! Nama saya Yaser, saya berusia 30 tahun, tinggal di Kota Gaza dan tidak pernah bepergian selama hidup saya,''

Pesan terakhir dari juru kamera Ain Media itu seolah-olah menjadi doa yang terkabul, setelah peluru tajam tentara Israel menembus perutnya pada 6 April dan menewaskannya keesokan harinya.

Bersama dengan rekan wartawan Palestina lain, Yaser yang juga pendiri Kantor Berita Ain Media, yang berbasis di Gaza, meliput unjuk rasa warga Palestina atas penjajahan Israel. Unjuk rasa itu dinamakan "Pawai Akbar Kepulangan" pada 30 Maret di sepanjang perbatasan Gaza dengan wilayah caplokan.

Dalam menghadapi gerakan rakyat Palestina itu, Israel menempatkan beberapa penembak gelap untuk menghentikan gerak mereka menembus perbatasan.

Yaser adalah korban tewas ke-29 warga Palestina dalam unjuk rasa itu. Demonstrasi diikuti sekitar 30 ribu orang di Jalur Gaza sepanjang 65 kilometer. Wilayah itu berbatasan dengan wilayah Palestina yang dirampas Israel.

Laporan Aljazirah pada 13 April 2018 menyebutkan setidak-tidaknya 34 warga Palestina dibunuh oleh tentara Israel, sementara 1.000 orang terluka sejak gerakan Hari Tanah Palestina digelar pada 30 Maret.

Warga Palestina di seluruh dunia memperingati Hari Tanah Palestina sejak 1976, ketika pasukan keamanan Israel menembak mati enam orang Arab Israel, yang menentang perampasan tanah milik Arab di Israel utara untuk membangun masyarakat Yahudi. Sekitar 100 orang terluka dan ratusan lagi ditangkap dalam unjuk rasa pada 30 Maret 1976 tersebut.

Unjuk rasa Hari Tanah Palestina pada 2018 itu direncanakan berakhir pada 15 Mei yang bertepatan dengan hari Nakba atau "malapetaka" bagi rakyat Palestina yang menandai pengusiran 750 ribuan warga Palestina oleh Zionis Israel selama perang Palestina pada 1948.

Palestina patah semangat dan mundur.Yaser Murtaja, yang telah membuat banyak film dan foto tentang kehidupan rakyat Palestina di Gaza, paham benar peliputan gerakan warga Palestina dalam membela tanah airnya adalah tugas mulia sekaligus penuh bahaya.

Oleh karenanya, pada Jumat, 6 Maret 2018, selain kamera di tangan, Yaser juga melengkapi dirinya dengan helm dan rompi pelindung berwarna biru tua bertuliskan "PRESS" dalam huruf besar berlatar putih untuk membuat rangkaian huruf itu semakin kontras.

Dengan membawa identitas tersebut, wartawan berharap semua pihak yang berhadapan dalam pertikaian menghormati dan tidak melukai mereka dalam menjalankan tugas jurnalistik, yang tidak berpihak selain pada kebenaran. Juru foto lepas Ashraf Abu Amra mengatakan ia di berada di samping Murtaja. Abu Amra mengatakan mereka berdua jelas ditandai sebagai wartawan, kata laporan Reuters.

Namun, bagi penembak gelap Israel, tulisan PRESS tak punya makna. Peluru tajam tetap merobek perut Yaser.

''Kami sedang mengambil gambar ketika para pemuda membakar ban. Kami berada sekitar 250 meter dari pagar,'' kata Abu Amra.

Dia melanjutkan, ''Pasukan Israel melepaskan tembakan dan mulai melukai orang-orang. Yaser dan saya berlari untuk merekam kejadian tersebut ketika tiba-tiba Yaser terjatuh.''

''Saya berteriak padanya, 'Yaser, kamu baik-baik saja?'. Dia tidak menjawab dan ada darah di tanah mengalir dari tubuhnya. Saya tahu itu luka parah dan orang-orang membawanya pergi,'' kata Abu Amra.

Penulis senior di media berjaringan, The Intercept, Robert Mackey mengungkapkan penembakan atas Yaser memiliki dua kemungkinan, yakni penembak gelap Israel tidak dapat melihat dengan jelas siapa di dalam lingkup teropong senapannya atau tentara itu sengaja menembak wartawan. Menurut Mackey, kemungkinan pertama tidak mungkin karena peluru yang menyasar Yaser sangat tepat menembus tubuhnya, sehingga jika terbukti tentara Israel itu sengaja membidik wartawan, maka itu adalah kejahatan perang.

Dalam menghadapi kecaman atas penembakan wartawan tersebut, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman malah menuduh Yaser menerbangkan pesawat nirawak melewati wilayah perbatasan hingga di atas kepala tentara Israel. Namun, dia tidak dapat menunjukkan bukti untuk membenarkan dugaan tersebut.

Yaser Murtaja yang telah gugur dan tujuh rekan persnya yang terluka dalam peliputan di Gaza menunjukkan beratnya tugas seorang wartawan di medan perang. Oleh karenanya, bagi Pemimpin Gerakan Palestina Hamas, Ismail Haniya, wartawan adalah orang berani dan membanggakan yang mampu membalikkan ''meja'' dalam keadaan sulit.

Pada pemakaman Yaser, Haniya mengatakan, ''Saya menghormati semua jurnalis dan pers yang telah kehilangan nyawanya. Mereka yang telah melewati jalan-jalan penderitaan untuk memotret kenyataan dari orang-orang yang tertindas dan orang-orang yang frustasi di bawah pengepungan di Gaza dan seluruh wilayah Palestina. Tapi itu adalah gambaran yang bermartabat tinggi dari orang-orang yang berani dan membanggakan.''

Kematian Yaser telah menarik sejumlah wartawan Palestina untuk berkumpul di Tepi Barat dan menunjukkan solidaritas mereka untuk mengenang dirinya. Nour Odeh, seorang wartawan dari Palestinian Journalists Syndicate mengenang Yaser sebagai seorang wartawan dengan pengabdian tinggi dan kemampuan yang sangat baik.

Dia yakin kematian Yaser tidak akan membuat jurnalis Palestina patah semangat dan mundur. ''Justru hal ini membuat kami lebih bertekad, dan sekarang Syndicate punya lebih banyak senjata di tangan untuk membela hak-hak jurnalis dalam mengungkapkan tindakan Israel,'' kata Odeh.

Yaser tidak lagi bisa mengambil gambar di atas bumi. Dia meninggalkan seorang anak berusia dua tahun, juga harapan baru bagi perjuangan warga Palestina, termasuk wartawan dalam merebut kemerdekaannya dari penjajah Israel.***

Editor:hasan b
Sumber:reublika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww