Serangan Kimia Pasukan Assad Bunuh 85 Warga Suriah, Sebagian Besar Korban Wanita dan Anak-anak

Serangan Kimia Pasukan Assad Bunuh 85 Warga Suriah, Sebagian Besar Korban Wanita dan Anak-anak
Seorang bocah di Douma, Suriah, jadi korban serangan kimia. (sindonews)
Senin, 09 April 2018 16:18 WIB
DOUMA - Khaled Abu Jaafar merupakan salah seorang yang selamat setelah kena serangan kimia yang diduga dilakukan pasukan Rezim Bashar al-Assad di Douma, Ghouta Timur Suriah, Sabtu pekan lalu.

Menurut cerita Khaled Abu Jaafar, dia berlari panik, menuruni tangga rumahnya sambil menggendong gadis cilik di lengannya. Sesaat kemudian, semua terlihat gelap oleh Abu Jaafar.

''Saya kehilangan kesadaran. Saya tidak bisa bernafas lagi; rasanya paru-paru saya mati,'' kenang Jaafar, salah seorang korban serangan kimia pada hari Sabtu pekan lalu.

''Saya terbangun sekitar 30 menit kemudian dan mereka telah menanggalkan pakaian saya, mencuci tubuh saya dengan air,'' ujar Jaafar kepada Al Jazeera pada hari Minggu.

''Mereka mencoba membuat saya muntah ketika mulut saya memancarkan zat kuning.''

Douma, kota markas pemberontak Suriah, sudah dikepung pasukan pemerintah Presiden Bashar al-Assad. Kota itu berada di Ghouta Timur, dekat Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Petugas penyelamat dan staf medis mengatakan sedikitnya 85 orang tewas dalam serangan senjata kimia jenis gas klorin. Namun, pemerintah Suriah membantahnya dan menganggapnya sebagai laporan ''lucu''.

Di antara mereka yang tewas, kata saksi mata, banyak wanita dan anak-anak yang mencari perlindungan di ruang bawah tanah di sebuah bangunan untuk menghindari pemboman berat oleh pasukan pro-pemerintah.

Abu Jaafar merupakan seorang pekerja di sebuah stasiun radio. Dia mengatakan, saat penduduk yang panik mulai berlarian setelah serangan itu, dia bergegas ke salah satu tempat persembunyian untuk memeriksa teman-temannya dan membantu orang-orang keluar.

''Ketika orang-orang berada di tempat penampungan, beberapa orang di atap berhasil melihat bom-bom gas yang berjatuhan dari pesawat,'' kata Jaafar, menggambarkan apa yang dia katakan sebagai ''gas hijau'' yang berasal dari tabung yang jatuh dari langit.

''Mereka yang melihatnya bergegas untuk memberitahu semua orang di ruang bawah tanah agar mengungsi,'' imbuh Jaafar.

''Saya naik-turun tangga sekitar tiga kali untuk membantu mengevakuasi anak-anak dari gedung.''

Serangan itu terjadi pada hari kedua dari operasi darat dan udara yang sengit oleh pasukan pro-pemerintah Suriah setelah kota itu relatif tenang selama beberapa hari.

Tentara Suriah mengatakan serangan operasi itu sebagai tanggapan terhadap penembakan mematikan oleh Jaish al-Islam, kelompok pemberontak yang tersisa di Ghouta Timur. Kelompok Jaish al-Islam membantah tuduhan itu.

Kelompok Jaish al-Islam saat ini sedang bernegosiasi dengan tentara Rusia, sekutu terkuat Presiden Suriah Bashar al-Assad. Negosiasi itu untuk memungkinkan evakuasi

Beberapa klinik dan tim ambulans telah diserang selama kampanye pengeboman. Rentetan serangan itu sebagian besar mengganggu bantuan medis.

Salah satu aktivis lokal bernama Alaa Abu Yasser mengaku mencoba membantu mengevakuasi orang-orang saat serangan kimia terjadi.

''Saya pergi ke sebuah gedung di mana sekitar 35 orang tewas akibat serangan ini; adegan yang saya lihat tidak tertahankan, tidak seperti yang pernah saya lihat di film-film,'' katanya kepada Al Jazeera, yang dilansir Senin (9/4/2018).

''Ketika saya mendekati gedung itu, seorang ayah menangis histeris ketika dia menyeret kakinya ke arah kami membawa kedua anaknya. Dia memeluk mereka dan mencium mereka setelah mereka mati lemas,'' ujar Abu Yasser.

Dalam setiap kasus serangan kimia, para korban selamat lebih memilih naik ke lantai atas, bahkan ke atap bangunan. Tujuannya, agar tidak menghirup gas yang cenderung menempel ke tanah.

''Ketika kami tiba di atap gedung tempat saya menolong, saya melihat tubuh seorang ibu yang tidak bernyawa berusia 50-an tahun, dengan dua anak perempuannya yang dewasa dan seorang anak dengan tangan saling berpelukan, semua berbusa di mulut,'' kata Abu Yasser.

''Saya kebanyakan melihat tubuh wanita dan anak-anak di tiga kamar terpisah; mereka ditempatkan di sana untuk mengisolasi bau gas dari mereka yang selamat,'' imbuh dua.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww