Prabowo: Rakyat Indonesia Harusnya Kaya Raya dan Tak Ada Kesenjangan Ekonomi

Prabowo: Rakyat Indonesia Harusnya Kaya Raya dan Tak Ada Kesenjangan Ekonomi
Prabowo Subianto. (int)
Minggu, 01 April 2018 13:07 WIB
JAKARTA - Rakyat Indonesia seharusnya sudah kaya raya yang tak ada kesenjangan ekonomi bila saja para elite politik mematuhi pasal 33 UUD 1945.

Hal itu ditegaskan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat, Sabtu (31/3/2018). Pengkhianatan terhadap pasal 33 UUD 1945, kata Pranowo, menyebabkan kekayaan alam Indonesia hanya bisa dinikmati segelintir orang.

Ditegaskan Prabowo, para elite secara sadar melakukan pembiaran terhadap praktik konglomerasi yang hidup subur di Indonesia, yang pada gilirannya membuat rakyat hidup dalam kesusahan.

''Para elite secara sistemik telah melanggar UUD 1945 Pasal 33. Padahal ini pasal kunci. Kalau saja kita taat, Indonesia sudah kaya raya,'' ujar Prabowo saat berkunjung ke Karawang, Sabtu (31/3/2018).

Prabowo mengatakan, data yang menyebutkan  80 persen lahan dikuasai asing, 13 persen dikuasai sedikit orang, dan satu persen dimiliki 250 juta rakyat Indonesia sungguh sesuatu yang miris.

Berdasarkan pasal 33 UUD 1945, Indonesia seharusnya tidak membolehkan asas konglomerasi. ''Satu keluarga menguasai jutaan hektare. Indonesia itu asas kekeluargaan, bukan kapitalisme,'' kata dia.

Ketimpangan ekonomi dan kepemilikan lahan yang terjadi saat ini, kata Prabowo, disebabkan oleh kalangan elite yang rakus. ''Sudah serakah, mental maling, hatinya beku, tidak setia pada rakyat. Mereka hanya ingin kaya. Siapa elite itu? Elite itu pimpinan. Saya juga elite. Bedanya saya elite sadar, sudah tobat, dan setia,'' kata Prabowo

Prabowo mengaku saat menjadi bagian dari rezim Orde Baru, dirinya sempat tertarik pada paham neoliberalisme. Hal itu terjadi saat dia masih tergabung di Partai Golkar.

Di masa itu, pemerintah menggunakan pendekatan trickle down effect atau teori menetes ke bawah yang diperkenalkan Albert Otto Hirschman, pencetus paham neoliberalisme.

''Saya dulu tertarik sama neolib. Tapi saya lihat ternyata paham itu bohong. Kesejahteraan nggak netes-netes ke bawah. Malah dibawa ke luar negeri oleh elite,'' kata Prabowo

Sejak saat itu dia mengaku mulai tak suka kepada elite, terutama elite Jakarta yang dia anggap kebanyakan adalah penipu.

''Saya lihat muka elite Jakarta penuh tipu. Saya mantan komandan sejak muda. Saya terbiasa baca tampang anak buah hingga saya bisa tahu tampang penipu,'' katanya.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww