Papua Nugini Diguncang Gempa 6,9 SR, PTWC Keluarkan Peringatan Tsunami

Papua Nugini Diguncang Gempa 6,9 SR, PTWC Keluarkan Peringatan Tsunami
Ilustrasi gempa. (sindonews.com)
Jum'at, 30 Maret 2018 13:23 WIB
SIDNEY - Gempa berkekuatan 6,9 skala Richter (SR) mengguncang pantai selatan Pulau New Britain, Papua Nugini, Jumat (30/3/2018). Belum ada laporan tentang korban jiwa dan kerusakan akibat lindu tersebut.

Dikutip dari sindonews.com, gempa dangkal tersebut berpusat sekira 162 km barat daya Rabaul, wilayah yang jauh lebih terpencil daripada dataran tinggi Papua Nugini yang diguncang gempa berkekuatan 7,5 SR yang menewaskan 100 orang pada 26 Februari.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (PTWC) mengeluarkan peringatan ancaman untuk wilayah garis pantai Papua Nugini yang berjarak 300 km dari pusat gempa.

Namun, kemudian peringatan tersebut ditarik setelah dinilai ancaman telah berlalu.

Dellie Minding, seorang resepsionis di Hotel Rabaul di timur New Britain, sekira 20 menit dari pantai, mengatakan kepada Reuters bahwa gempa itu terasa, dan banyak tamu yang berlari keluar, tetapi tidak ada kerusakan.

Sementara di Perkebunan Rapopo Plantation, resepsionis May Dovon mengatakan dia tidak mendengar ada korban atau kerusakan.

''Kami merasakan gempa, semuanya berguncang jadi kami keluar dari gedung,'' kata Dovon kepada Reuters, Sabtu (30/3/2018). ''Tidak ada yang rusak.''

Gempa sering terjadi di Papua Nugini, yang terletak di ''Cincin Api'' Pasifik, sebuah hotspot untuk aktivitas seismik karena gesekan antara lempeng tektonik.

Rabaul terletak pada bayangan Gunung Tavurvur, gunung berapi aktif yang menghancurkan kota pada 1994 saat terjadi letusan besar.

Gempa terbaru ini terjadi ketika Papua Nugini sedang berjuang untuk mendapatkan bantuan bagi para korban gempa 26 Februari.

Gempa tersebut meratakan beberapa desa dan merusak pasokan air di pulau utama negara itu.

Negara itu juga kehilangan pendapatan terbesarnya karena gempa itu, sebab proyek gas alam cair Exxon di Papua Nugini yang menghasilkan penjualan tahunan sebesar USD3 miliar dihentikan. Perusahaan itu masih menilai kerusakan akibat gempa di fasilitasnya.***

Editor:hasan
Sumber:okezone.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww