Setelah 15 Hari Koma karena Dibanting Ibu Kandungnya, Bayi Calista Akhirnya Meninggal

Setelah 15 Hari Koma karena Dibanting Ibu Kandungnya, Bayi Calista Akhirnya Meninggal
Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan menggendong jenazah bayi Calista. (sindonews)
Minggu, 25 Maret 2018 13:59 WIB
KARAWANG - Setelah 15 hari dalam kondisi koma RSUD Karawang, Jawa Barat, bayi berusia 1 tahun 6 yang menjadi korban penganiayaan ibu kandungnya, S, akhirnya meninggal dunia.Bayi malang bernama Calista itu jantungnya berhenti berdetak Minggu (25/3/2018) pagi.

Dikutip dari sindonews.com, selama dalam perawatan, Calista menggunakan alat bantu pernapasan untuk memacu jantungnya akibat luka kepala bagian belakangnya.

''Barusan saya mendapat kabar jika bayi Calista meninggal dunia sekitar pukul 9.55 WIB. Kita semua sudah berupaya memberikan yang terbaik untuk Calista namun takdir sudah digariskan kita hanya bisa berdoa,'' kata Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan, Minggu.

Hendy mengatakan kasus penganiayaan yang dialami Calista terus diproses dengan tersangka ibu kandung korban, S. Polisi sampai saat ini masih memeriksa sejumlah orang yang mengetahui kasus tersebut. ''Sudah enam orang kita mintai keterangan dan tersangknya satu orang yaitu ibu kandungnya,'' katanya.

Dapat Perhatian Khusus

Selama dirawat di RSUD Karawang, Calista mendapatkan perhatian khusus dari tim dokter. ''Bayi Calista memang ditangani khusus oleh sejumlah tim dokter ahli di bidangnya. Upaya menolong bayi Calista dilakukan selama 24 jam. Setiap detik terjadi perubahan diawasi oleh tim dokter yang menanganinya. Kami sudah berupaya, namun Calista tidak bisa lagi ditolong, pukul 09.55 tadi pagi meninggal dunia,'' kata Humas RSUD Karawang Rohimin, Minggu.

Rohimin mengatakan, secara medis Calista dinyatakan meninggal dunia setelah sempat mengalami koma selama 15 hari di RSUD. Calista menjalani perawatan di RSUD Karawang sejak 10 Maret 2018. ''Selama dalam perawatan kondisinya terus menurun hingga akhirnya denyut jantungnya berhenti berdetak,'' kata Rohimin

Menurut Rohimin  selama penanganan medis, Calista ditopang alat bantu pernapasan. Dalam catatan medis, napas Calista terhitung sebanyak 30 kali per menit. ''Untuk ukuran anak seumur Calista napasnya tergolong rendah,'' katanya.

Rohimin mengatakan dari catatan tim dokter, Calista mengalami encephalitis atau peradangan otak hingga infeksi. Belakangan diketahui bahwa peradangan otak itu disebabkan benturan amat keras.

Dibanting ke Tembok

Bayi Calista diketahui mengalami penganiayaan secara terus menerus  oleh ibu kandungnya, S. Intensitas penganiayaan mulai sering dirasakan Calista sejak Februari hingga mencapai puncaknya pertengahan Maret. Puncak penderitaan Calista ketika sang ibu kandung membanting anaknya ke tembok dan kemudian terpental menabrak rak piring.  Calista mengalami luka yang cukup parah ketika kepala bagian belakang mengalami pendarahan hebat.

S, ibu kandung korban, baru menyadari tindakan kerasnya kali ini sudah melampaui ambang batas ketika melihat putrinya diam tidak berdaya. Biasanya, Calista akan menangis jika mengalami penganiayaan oleh ibunya, tapi kala itu Calista terdiam tanpa gerak. Melihat hal tersebut, S segera melarikan anaknya ke rumah sakit RSUD.  Sampai di RSUD, dokter langsung membawa ke ruang perawatan intensif karena kondisi Calista ternyata sudah koma.

Tim dokter yang memeriksa Calista mulai mencium gelagat mencurigakan melihat luka yang dialami Calista. Luka yang dialami Calista adalah luka cubitan, pukulan, dan luka di bagian kepala bagian belakang. Dokter rumah sakit yang menangani Calista segera melaporkan dugaan penganiayaan ke Polres Karawang.

Mendapat laporan dari RSUD, Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan langsung mendatangi RSUD dan melihat langsung kondisi kesehatan Calista. Melihat luka yang dialami Calista, Hendy segera perintahkan anak buahnya untuk mencari pelaku penganiaya Calista. Tak butuh waktu lama akhirnya polisi menetapkan ibu kandung Calista, S sebagai tersangka.***

loading...
Editor:hasan b
Sumber:sindomews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww