Stereotipe Barat yang Kaitkan Cadar dengan Terorisme

Stereotipe Barat yang Kaitkan Cadar dengan Terorisme
Ilustrasi wanita mengenakan cadar. (republika.co.id)
Jum'at, 09 Maret 2018 10:05 WIB
BANDUNG - Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Cecep Darmawan mengingatkan, penggunaan cadar jangan dikait-kaitkan dengan radikalisme.

''Soal radikalisme, jangan dihubungkan dengan cadar. Memang ada stereotipe barat bahwa seolah-olah cadar adalah stigma terorisme. Ini yang harus kita tolak,'' ujarnya kepada Republika saat dihubungi, Jumat (9/3).

Hal itu disampaikannya menanggapi kebijakan pimpinan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga (Suka), Yogyakarta, yang melarang mahasiswinya menggunakan cadar.

"Soal radikalisme, jangan dihubungkan dengan cadar. Memang ada stereotipe barat bahwa seolah-olah cadar adalah stigma terorisme. Ini yang harus kita tolak," ujarnya kepada Republika saat dihubungi, Jumat (9/3).

Ia menuturkan, selama ini masyarakat Indonesia kadangkala termakan isu barat mengenai cadar yang belum tentu benar.

''Cadar ya cadar saja jangan dikaitkan dengan radikalisme,'' tegasnya. Katanya, setiap orang yang memutuskan bercadar mempunyai alasan pribadi mengenakannya.

''Setiap yang bercadar mungkin punya alasan pribadi yang mnjadi haknya untuk memakai cadar atau tidak,'' katanya.

Namun, menurutnya, apabila ada indikasi tindakan radikalisme dari yang memakai cadar itu merupakan persoalan yang bersangkutan secara pribadi dan bukan masalah cadarnya.

''Radikalisme tidak ada hubungan dengan cadar. Larang radikalismenya, soal bercadar atau tidak itu hak atas keyakinan mahasiswanya,'' katanya.

Cecep menambahkan, jika memang ada indikasi radikalisme maka perlu pembinaan dari kampus.

Namun, ia mengingatkan agar kampus tidak menggeneralisasikan jika yang bercadar itu identik dengan radikalisme atau gerakan ekstrem.

Katanya, di kampus UPI sendiri terdapat mahasiswa yang bercadar dan tidak menjadi persoalan sebab itu hak yang bersangkutan.

''Saya lihat ada mahasiswa (UPI) yang bercadar. Ya, gak papa. Itu haknya. Justru yang harus ditertibkan adalah mahasiswi yang berpakaian seksi dan menabrak etika etika sosial dan agama,'' ujarnya.***

loading...
Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww