Pura-pura Jadi Korban Penganiayaan, Marbot Masjid Ditetapkan Sebagai Tersangka

Pura-pura Jadi Korban Penganiayaan, Marbot Masjid Ditetapkan Sebagai Tersangka
Marbot Masjid Besar Al-Istiqomah Uyu Ruhyana dijadikan tersangka laporan palsu. (merdeka.com)
Kamis, 01 Maret 2018 21:25 WIB
BANDUNG - Ulah Uyu Ruhyana (56), yang berpura-pura menjadi korban penganiayaan, dengan harapan bisa mendapatkan uang, malah berbuah status tersangka. Polda Jawa Barat telah menetapkan marbot Masjid Besar Al-Istiqomah di Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut itu sebagai tersangka kasus laporan palsu.

Dikutip dari merdeka.com, sebelumnya beredar kabar bahwa seorang marbot Masjid Besar Al-Istiqomah di Kecamatan Pameungpeuk, dianiaya seseorang tak dikenal. Kabar itu tak hanya beredar melalui pesan berantai via whatsapp, namun muncul pemberitaan di sejumlah media online.

Dari pesan itu disampaikan kronologi bahwa Uyu ditemukan dalam masjid dalam kondisi tangan kaki terikat, mulut sudah disumpal di samping kursi kayu yang patah sebelum salat subuh. Di pesan yang tak jelas itu pun disampaikan bahwa korban mengalami luka senjata tajam.

Namun Polda Jabar kemudian memastikan berita penganiayaan itu bohong. Hasil pemeriksaan sementara, Uyu mengakui bahwa peristiwa tersebut merupakan rekayasa dirinya.

''Saat ini (Uyu) sudah ditetapkan sebagai tersangka. Dia membuat laporan palsu atas kasus rekayasa,'' kata Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto saat gelar perkara di Mapolda jabar, kamis (1/3/2018).

Sebelum kabar itu terungkap, Agung mengatakan, tersangka mengaku dianiaya oleh lima orang tak dikenal. ''Perbuatan ini dilakukan oleh yang bersangkutan sendiri. Tapi ke depan, Polda akan melakukan pemeriksaan mendalam apakah ada yang menyuruh, kalau ada kita proses,'' pungkasnya.

Gaji Terlalu Kecil

Uyu Ruhyana mengaku mengarang cerita karena merasa gajinya Rp125 ribu terlalu kecil.

Bagaimana pria berusia 56 tahun ini mengikat diri sendiri dan membuat skenario, apakah dia dibantu orang lain?

''Tidak ada yang menyuruh. Ini ide saya sendiri,'' ujar Uyu saat gelar perkara di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Kamis (1/3/2018).

Dia mempraktikkan cara mengikat kaki dan lengan hingga merobek bajunya. Uyu menggunting peci dan baju muslimnya untuk meyakinkan orang bahwa hal itu disebabkan sabetan penganiaya.

Untuk menambah dramatis suasana, dia mengambil bangku masjid yang bantalannya dilepas. Bangku itu dibiarkan tergeletak.

Sorban yang ada digunakannya untuk menutup wajah. Itu dilakukan seolah-olah terjadi penyekapan. Mukena di dalam masjid dipakai untuk mengikat kaki dan tangannya. Agar tidak kesulitan, dia membuat pola ikatan tertentu supaya mudah mengunci tangannya yang disimpan di bagian belakang tubuhnya.

''Saya memang melakukannya sendiri. Saya khilaf karena butuh uang,'' terangnya.

''Semalaman saya tidak bisa tidur, sampai akhirnya melakukan perbuatan dibenarkan oleh pemerintah dan agama,'' pungkasnya. ***

loading...
Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww