Ibu Kandung Jadi Tersangka karena Benturkan Kepala Bayinya ke Tembok Hingga Tewas

Ibu Kandung Jadi Tersangka karena Benturkan Kepala Bayinya ke Tembok Hingga Tewas
SZ (pakai baju tahanan), tersangka pembunuh bayi kandungnya. (merdeka.com)
Senin, 05 Februari 2018 13:16 WIB
JAKARTA - Tindakan sadis dilakukan SK terhadap anak kandungnya yang masih berusia 14 bulan, di Kota Bekasi. SK tega membenturkan kepala bayinya bernama Winda Wulandari itu ke tembok dan juga memukul perutnya. Winda akhirnya tewas akibat penganiayaan tersebut.

Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Indarto, mengatakan, SK sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan terhadap anak kandungnya itu, setelah dilakukan autopsi terhadap jasad korban.

''Korban mengalami pendarahan di otak dan lambung,'' kata Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Indarto, Senin (5/2), seperti dikutip dari merdeka.com.

Menurut dia, pendarahan itu karena korban dibenturkan ke tembok dan dipukul perutnya. Selain ada luka yang fatal itu, sejumlah bagian di tubuhnya luka memar seperti di paha, lengan, dan wajah.

Ia mengatakan, kasus itu terungkap setelah kader Posyandu di lingkungan tempat tinggalnya Jalan Plebesit, Kelurahan Bekasi Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi melapor ke polisi. Sebab, warga yang melayat menemukan sejumlah luka memar.

''Dari laporan itu kami selidiki, hasil autopsi di RS Polri ditemukan luka pendarahan,'' kata dia.

Menurut dia, setelah keluar hasil autopsi, ibu dari bayi tersebut langsung ditetapkan sebagai tersangka, dan ditahan oleh penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota.

''Tersangka dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, ancamannya hukuman penjara maksimal 12 tahun,'' kata dia.

Barang bukti disita berupa sejumlan pakaian korban, dan hasil visum rumah sakit.

Indarto mengatakan, ibu bayi tersebut melakukan kekerasan tersebut sejak tiga bulan lalu. ''Hasil pemeriksaan, diduga penganiayaan dilakukan sejak tiga bulan lalu,'' kata Indarto.

Menurut dia, korban tinggal di rumahnya di Jalan Plebisit, Bekasi Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi baru tiga hari. Sebelumnya tinggal di kampungnya di Pemalang, Jawa Tengah.

''Di Pemalang sudah mendapatkan kekerasan fisik, puncaknya di Bekasi, korban sampai luka pendarahan di otak dan lambung,'' kata dia.

Menurut dia, kekerasan itu berupa korban dipukul, dibenturkan. Alasannya, korban tidak mau makan maupun minum obat. Korban juga sempat dikerok sebelum akhirnya kejang-kejang pada Sabtu malam lalu.

''Korban meninggal di Rumah Sakit kemarin pagi, kami yang dapat laporan kemudian menyelidikinya,'' kata Indarto.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww