Merasa Sangat Bersalah dan Malu karena Terlambat 1 Menit, Menteri di Inggris Mengundurkan Diri

Merasa Sangat Bersalah dan Malu karena Terlambat 1 Menit, Menteri di Inggris Mengundurkan Diri
Michael Bates, menyampaikan permintaan pengunduran diri dalam sidang dengar pendapat di parlemen Inggris, Rabu (31/1). (sindonews.com)
Sabtu, 03 Februari 2018 17:18 WIB
LONDON - Banyak pejabat menganggap biasa saja bila terlambat datang, termasuk pada pertemuan sangat penting sekalipun.

Namun berbeda dengan Michael Bates, anggota parlemen Inggris dan Menteri Muda pada Kementerian Pembangunan Internasional Bangsawan Inggris ini memutuskan mengundurkan diri karena merasa sangat bersalah dan malu ketika terlambat menghadiri sidang dengar pendapat di parlemen Inggris, Rabu (31/1/2018).

Dikutip dari sindonews, padahal Michael Bates hanya telat kurang dari satu menit. Hingga sidang dimulai, Bates diketahui belum datang ke ruang sidang. Akhirnya Whip Lord Taylor, kolega Bates, tampil untuk menggantikannya. Whip Lord mencoba untuk menjawab pertanyaan dari salah satu anggota parlemen Baroness Ruth Lister.

Beberapa detik kemudian atau saat Whip memberikan penjelasan, Bates pun tiba ke ruang sidang. Bates lantas naik ke podium menggantikan posisi Whip. Namun di atas podium Bates justru tak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anggota parlemen partai oposisi. Dia malah menyampaikan rasa penyesalannya.

''Saya ingin mengucapkan permohonan maaf yang tulus untuk Baroness Ruth Lister atas ketidakhadiran saya di podium ini untuk menjawab pertanyaannya,'' ujar Bates seperti dilansir Washington Post.

Bates melanjutkan, selama lima tahun, sudah menjadi kewajibannya untuk menjawab pertanyaan mewakili pemerintah. ''Saya percaya kita seharusnya meningkatkan standar tertinggi kesopanan dan penghormatan mewakili pemerintah untuk menjawab pertanyaan anggota parlemen,'' sebutnya.

Bates mengakui tidak bisa datang tepat waktu. Untuk itu, meskipun hanya terlambat kurang dari satu menit, dia merasa sangat malu. ''Saya akan mengajukan pengunduran diri saya ke perdana menteri secepatnya,'' tuturnya saat tiba-tiba menyatakan mundur. Lagi-lagi, dia juga kembali mengucapkan permintaan maaf. Serentak, para politikus yang ada di gedung parlemen langsung menimpali permintaan pengunduran diri Bates.

''Tidak,'' ucap para anggota parlemen. Bahkan banyak juga politikus yang tertawa merespons pernyataan Bates. Mereka tak yakin atas ucapan Bates. Bahkan Baroness Smith of Basildon Angela Smith menginterupsi sidang.

''Permohonan maaf dari Bares sangat cukup. Itu kesalahan kecil di mana kita juga bisa merasa bersalah,'' ujar Angela. Baroness Ruth Lister pun meminta Bates mempertimbangkan keputusannya untuk mengundurkan diri.

Ditolak PM Inggris

Langkah Bates untuk melepas jabatan kursi menteri ternyata tak mudah. Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May bersikeras menolak pengunduran diri Bates.

''Pengunduran diri Bates tidak perlu. Dia tetap melanjutkan tugasnya,'' ujar Juru Bicara Kantor PM Inggris seperti dilansir BBC.

Dia mengungkapkan bahwa Bates merupakan menteri pekerja keras dan rajin. Saat insiden itu, May sedang berkunjung ke China.

Bates juga mendapatkan dukungan dari seluruh anggota parlemen untuk meneruskan tugasnya di Kementerian Pembangunan Internasional. ''Sepertinya dia terlalu bertanggung jawab terhadap urusan parlemen dengan serius,'' imbuhnya.

Sayangnya Bates belum berkomentar mengenai penolakan terhadap pengunduran dirinya.

Bates merupakan pendukung utama pemerintahan Konservatif yang dipimpin PM May. Dia ditunjuk sebagai menteri pembangunan internasional pada 2016 silam. Sebelumnya dia menjabat sebagai deputi ketua parlemen.

Bates bukan menteri Inggris pertama yang mengundurkan diri. Sebelumnya Peter Carrington mengundurkan diri sebagai menteri luar negeri setelah invasi Argentina ke Pulau Falkland pada 1982. Dia mengundurkan diri bersama deputinya, Humphrey Atkins, dan menteri yuniornya Richard Luce.

Pada 2012, Estelle Morris juga mengundurkan dari jabatan menteri pendidikan karena merasa tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Selanjutnya Menteri Dalam Negeri Inggris David Blunkett mengundurkan diri pada 2003 gara-gara ketahuan menggunakan pengaruh kekuasaan yang dia miliki untuk mempercepat proses pengurusan visa mantan pacarnya.

Pengunduran diri para pejabat Inggris memang tergolong jarang. Biasanya politikus Inggris menunggu hingga posisinya memang tidak aman. Apa yang dilakukan Bates memang dianggap terlalu jauh. Sejumlah kalangan menilai dia tak perlu mengundurkan diri karena cukup dengan meminta maaf. Tapi Bates memang dikenal sebagai politikus yang sangat serius dan bertanggung jawab dalam bekerja.

Pakar kebijakan publik Inggris Jack O'Sullivan mengungkapkan, pengunduran diri adalah sebagai bentuk tanggung jawab atas langkah atau tindakan yang dilakukan politisi. Menurut dia, politikus akan semakin disalahkan ketika terjadi kegagalan dalam menjalankan program yang sudah dijanjikannya. ''Umumnya pengunduran diri itu terkait dengan skandal seksual dan finansial. Tapi banyak juga politikus terjebak dalam kegagalan administrasi seperti korupsi dan merusak kariernya sebagai menteri,'' paparnya seperti dilansir The Independent.

Di Inggris, menurut O'Sullivan, politisi Partai Buruh jarang mengundurkan diri karena skandal seks, tidak seperti politikus Partai Konservatif. Adapun politikus Partai Buruh kerap mengundurkan diri karena skandal keuangan. ''Kalau politisi Partai Buruh umumnya mundur karena kegagalan dalam melaksanakan kebijakannya,'' paparnya.

Tak hanya di Inggris, langkah mundur juga kerap terjadi di negara lain seperti Jepang. Pada Januari 2016 lalu, Menteri Ekonomi Jepang Akira Amari mengumumkan pengunduran diri walau sebelumnya sudah membantah menerima uang suap dari sebuah perusahaan konstruksi. ''Dengan mempertimbangkan tanggung jawab sebagai anggota parlemen serta tugas saya sebagai anggota kabinet dan harga diri sebagai politikus, saya mengundurkan diri dari jabatan saya mulai hari ini,'' sebut Akira kala itu.

Sebelumnya pada Juni 2016, Gubernur Tokyo Yoichi Masuzoe berencana mengajukan pengunduran diri setelah diketahui menyalahgunakan penggunaan dana pajak untuk liburan keluarga dan membeli komik. Padahal Yoichi kerap mendapatkan tekanan untuk melepaskan jabatan karena pemakaian dana pemerintah untuk kepentingan keluarganya.

Selain itu Kepala Parlemen Korea Selatan Park Hee-tae pada 9 Februari 2011 menyatakan mundur setelah ada anggota parlemen yang menyebutnya menerima sogokan saat pemilihan ketua partai.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww