Wahai Ibu Hamil, Jangan Unggah Foto Perut Buncitnya, Bahayanya Sangat Mengerikan

Wahai Ibu Hamil, Jangan Unggah Foto Perut Buncitnya, Bahayanya Sangat Mengerikan
Ilustrasi. (tribunnews.com)
Minggu, 28 Januari 2018 22:57 WIB
JAKARTA - Banyak ibu hamil mengunggah foto perut buncitnya di media sosial. Bila Anda termasuk pernah melakukannya, sebaiknya segera menghapus foto-foto tersebut.

Sebab, banyak orang pengidap maiesiofilia akan menyalahgunakan foto-foto ibu hamil tersebut. Maiesiofilia merupakan penyakit mental atau fetish seksual tak normal terhadap wanita hamil. Untuk memuaskan hasrat mereka, pelaku maiesiofilia mengoleksi dan membagikan foto-foto ibu hamil.

Menurut New Straits Times, ada sekitar 100 grup Facebook fetish ibu hamil, dimana para pelakunya berkomentar tak senonoh.

Selain Facebook, mereka juga mempunyai grup Whatsapp untuk saling berbagi foto demi kepuasan seksual mereka masing-masing. Foto-foto itu beredar dipastikan tanpa pengetahuan si pemilik foto.

Bahkan ada kemungkinan predator itu mengikuti si ibu hamil di kehidupan nyata setelah tergoda oleh 'aset' si ibu hamil tersebut, seperti yang dilaporkan Harian Metro.

Seorang pegawai TK bernama Hani (29) pernah membagikan pengalamannya saat dirinya menjadi korban pelaku fetish tersebut. Meski kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu, tapi Hani masih mengingat pengalaman buruk itu dengan jelas.

''Foto itu diunggah ketika aku sedang mengandung anak laki-laki tertua. Aku tidak khawatir karena aku memakai pakaian tertutup tanpa memperlihatkan apapun. Seminggu kemudian, seorang teman memberitahuku bahwa fotoku dibagikan di sebuah laman. Saat membaca komentarnya, aku merasa jijik,'' ungkap Hani.

Hani kemudian meminta pelaku fetish untuk menghapus fotonya, tapi ia menolak. Si pelaku beranggapan bahwa itu adalah kesalahan Hani sendiri karena mengunggah fotonya.

Ketua asosiasi psikiatrik Malaysia Dr Ahmad Rostam Md Zin mengungkapkan bahwa maiesiofilia adalah penyakit mental atau fetish seksual tak normal seperti pedofilia, zoofilia dan nekrofilia.

Namun, orang-orang yang menderita penyakit mental tersebut merasa normal-normal saja dan menolak jika disuruh berobat.***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww