Menurut Indef, Premium Seharusnya Dijual Rp8.925 Per Liter, Bukan Rp6.550

Menurut Indef, Premium Seharusnya Dijual Rp8.925 Per Liter, Bukan Rp6.550
Petugas memasang plang tanda kehabisan semua jenis BBM di SPBU Lubukbuaya, Padang, Sumatera Barat, 5 Januari 2016. Sejumlah SPBU di Padang sengaja menghabiskan stok lama untuk kemudian menunggu diberlakukan harga baru BBM guna menghindari kerugian. ANTARA
Jum'at, 26 Januari 2018 11:29 WIB
JAKARTA - Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium seharusnya Rp 8.925 per liter karena harga minyak dunia terus melambung. Namun saat ini, premium dijual Rp 6.550 per liter karena mendapat subsidi dari negara.

Dalam diskusi di kantor Indef di Jakarta, Kamis, 25 Januari 2018, Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto memaparkan, jika dihitung dengan harga minyak mentah Brent US$ 70 dolar per barel dan kurs rupiah pada level Rp 13.321, harga BBM jenis Premium seharusnya dijual Rp 8.925/liter, minyak tanah Rp 7.592/liter, dan solar Rp 9.058/liter.

"Harusnya harga keekonomian premium kita sudah Rp 8.925. Secara keekonomian, harganya sudah ditahan. Sementara harga BBM di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) berlaku sampai 31 Januari 2018, Premium dijual Rp 6.550," ujarnya.

Berdasarkan harga yang berlaku pada 16-31 Januari 2018, Pertamina menetapkan harga jual BBM jenis Pertamax Rp 8.600/liter, Pertalite Rp 7.600/liter, dan penugasan untuk Premium Rp 6.550/liter.

Eko menilai selisih harga yang besar terhadap penjualan Premium tentu berdampak pada penurunan keuntungan Pertamina sebagai operator mengingat BBM jenis Premium merupakan penugasan dari pemerintah (public service obligation/PSO).

Ia memprediksi tren harga minyak dunia akan terus naik hingga 2019. Kenaikan tersebut memang menguntungkan dari sisi hulu atau perusahaan minyak yang akan bertambah pendapatannya. Namun dari sisi hilir akan berdampak meningkatnya harga BBM dan komoditas hilir lain, terutama pangan.

"Ada kemungkinan besar harga minyak naik, produk olahannya, BBM, juga naik. Kalau melihat Pertamina, yang terjadi adalah penurunan keuntungan. Masih untung, tapi ada beban PSO," kata Eko.

Ia menambahkan, jika semua selisih harga BBM ditanggung Pertamina, tentu akan mengganggu kelancaran bisnis sehingga keuntungan bakal makin tergerus.

Akibatnya, kemampuan investasi perseroan pasti makin melemah di tengah kondisi saat ini yang membutuhkan banyak kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.

Dampak kenaikan harga minyak juga tentu berpotensi makin mengurangi daya beli masyarakat karena konsumsi BBM meningkat per tahun dan pendapatan masyarakat akan dialihkan pada beban energi tambahan.

Indef meminta pemerintah segera menentukan langkah yang diambil, antara lain meneruskan sebagian atau keseluruhan kenaikan harga minyak global ke konsumen, menugaskan Pertamina menanggung selisih harga dengan konsekuensi penurunan keuntungan dan setoran deviden, serta menambah penanaman modal negara sebagai konsekuensi penugasan tersebut.

Sebelumnya, Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar menyatakan jumlah konsumen BBM RON 88 atau Premium pada kuartal pertama 2017 mengalami penurunan signifikan bila dibandingkan dengan 2016. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:tempo.co
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww