Wanita Petugas Kesehatan di Papua Nugini Melapor ke Polisi karena Kemaluannya Digembok Adik Ipar Lelakinya, Begini Ceritanya

Wanita Petugas Kesehatan di Papua Nugini Melapor ke Polisi karena Kemaluannya Digembok Adik Ipar Lelakinya, Begini Ceritanya
Ilustrasi. (int)
Jum'at, 19 Januari 2018 09:32 WIB
PORT MORESBY - Seorang wanita yang tidak disebutkan namanya di Papua Nugini menuduh adik ipar lelakinya telah menggembok kemaluannya.

  Wanita tersebut telah melaporkan kasus tersebut ke polisi dan pihak polisi telah menahan pria yang dituduh menggembok kemaluan ipar perempuannya itu.

Perempuan itu melapor ke polisi di kota Lae, kota kedua terbesar di Papua Nugini. Kepada polisi ia mengatakan, bahwa dirinya mendapat serangan seksual.

Ketika petugas mendatangi rumahnya, mereka menemukan seorang pria yang telah pindah ke rumah itu di bulan Desember, memasang gembok di bagian kemaluan si perempuan.

''Ketika pria itu pindah, dia mulai memerkosa korban,'' kata Superintendent Anthony Wagambie Jr dari Kepolisian Lae.

''Dia kemudian juga menggembok bagian kemaluan perempuan itu dan dia memiliki kuncinya yang terus dipegangnya sendiri.''

Wagambie mengatakan, perempuan itu adalah ipar dari sang pria. Suaminya memberi kepercayaan kepada adiknya untuk menjaga keluarganya ketika dia bepergian ke ibu kota Papua Nugini, Port Moresby, yang berjarak sekitar 300 km dari Lae.

Polisi mengatakan, pria ini akan dikenai tuduhan serangkaian tindak pemerkosaan dan juga penganiayaan yang menyebabkan luka-luka.

''Dia masih ketakutan,.''

Menurut polisi, korban mengalami kesakitan karena penggembokan. Namun dia mengatakan kepada polisi bahwa sebelumnya ketakutan melaporkan apa yang dialaminya.

''Dia tidak melapor karena takut,'' kata Wagambie.

''Pelakunya sudah mengancam akan membunuhnya, dan menggunakan pisau, dan senjata buatan sendiri, mengancam akan membunuh korban dan anak-anaknya.''

''Dia masih ketakutan sekarang.''

Wagambie mengatakan, perempuan tersebut sekarang sudah menerima perawatan kesehatan dan juga konseling psikologi.

''Ini menyedihkan karena perempuan adalah petugas kesehatan yang pernah menangani berbagai kasus kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga, namun kini menjadi korban,'' kata Wagambie.***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww