Kehilangan Kaki dan Ginjal Akibat Operasi Militer Israel 2008, Pemuda Palestina Tetap Berjihad Hingga Kepalanya Ditembak Tentara Yahudi 2 Hari Lalu

Kehilangan Kaki dan Ginjal Akibat Operasi Militer Israel 2008, Pemuda Palestina Tetap Berjihad Hingga Kepalanya Ditembak Tentara Yahudi 2 Hari Lalu
Ibrahim Abu Thuraya. (merdeka.com)
Minggu, 17 Desember 2017 13:14 WIB
GAZA - Ibrahim Abu Thuraya, pria Palestina berusia 29 tahun, tewas Jumat (17/12/2017), setelah kepalanya ditembak tentara Yahudi di perbatasan Gaza. Ibrahim tewas sewaktu berjihad melawan pasukan Israel.

Dikutip dari merdeka.com, Ibrahim dikenal sebagai pemuda yang selalu menghadiri unjuk rasa di Jalur Gaza. Sosoknya kian terkenal setelah dia kehilangan dua kaki dan satu ginjal ketika Israel melancarkan operasi militer pada 2008 lalu. Pada waktu itu tentara Israel membunuh 1.400 orang dalam 22 hari.

Ibrahim dikenal dengan keberaniannya memanjat tiang listrik sambil membawa bendera Palestina ketika berunjuk rasa. Dia menyebut aksinya sebagai 'melawan meski lumpuh'.

Dalam video yang beredar viral Ibrahim terlihat menyerukan agar rakyat Palestina bergabung dalam unjuk rasa menuntut Amerika menarik keputusan soal Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

''Tanah ini tanah kami. Kami tidak akan menyerah. Amerika harus menarik pengumumannya,'' ujar Ibrahim, seperti dilansir laman Middle East Eye, Sabtu (16/12).

''Yang terpenting adalah kami hadir di sini untuk menyampaikan pesan kepada tentara Zionis, rakyat Palestina adalah orang yang kuat.''

Ribuan orang menghadiri pemakamannya untuk mengenang sosok aktivis yang sering terlihat mengibarkan bendera Palestina sambil memimpin sorak-sorai perlawanan itu.

Ibrahim meninggalkan 11 anggota keluarga, termasuk enam adik perempuan dan lima adik laki-laki. Ibrahim menjadi tulang punggung keluarganya untuk bertahan hidup.

Sebelum kehilangan kakinya, Ibrahim adalah nelayan yang bisa mendapat uang dari menjual ikan hasil tangkapannya sebesar Rp250 ribu sehari.

Setelah kehilangan kaki, Ibrahim membantu keluarganya dengan mencuci mobil di Gaza di dekat tempat tinggal mereka di penampungan pengungsi yang padat.

Ayah dan ibunya tidak mampu lagi bekerja karena sakit darah tinggi dan diabetes.

Dalam sebulan Ibrahim bisa mendapat penghasilan sebesar Rp3,3 juta. Uang itu dia gunakan untuk membayar listrik, air, dan rumah sewa. Itu adalah penghasilan maksimal yang bisa dia dapat sebagai orang berkursi roda.

Ibrahim suatu kali pernah mengatakan kepada seorang aktivis, dia tidak mau menerima uang dari pemilik mobil yang tidak memberinya pekerjaan.

''Saya bukan pengemis. Saya bisa mencari uang. Tolong jangan menilai dari tubuh saya yang cacat," ujar Ibrahim. "Lihat hasil kerja saya. Ini bukan akhir dari segalanya. Kehidupan harus terus berjalan.''***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww