Memilukan, Balita Muslim Rohingya yang Kelaparan Terpaksa Disuapi Ibunya Rumput

Memilukan, Balita Muslim Rohingya yang Kelaparan Terpaksa Disuapi Ibunya Rumput
Bocah Muslim Rohingya di pengungsian. (mynewshub.cc)
Minggu, 26 November 2017 15:40 WIB
COX’S BAZAR - Peristiwa sangat memilukan terjadi di kamp pengungsian warga Muslim Rohingya di Cox’s Bazar. Seorang ibu muda terpaksa menyuapkan rumput kepada anaknya yang kelaparan agar bisa bertahan hidup.

Dikutip dari mynewshub.com, sukarelawan Majelis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM) Mohd Syukri Shaari (34), mengaku, peristwa memilukan itu dilihatnya ketika pertama tiba di Kem Pelarian Thankali, sebuah kamp tidak resmi di Cox’s Bazar pada September lepas.

''Pada ketika itu, keadaan di kem berkenaan memang sangat daif. Bayangkan, ibu berusia awal 20-an yang dikenali sebagai Summayah ini tiada pilihan melainkan terpaksa memotong rumput berhampiran kemahnya yang dibangun menggunakan buluh dan plastik,'' ujarnya.

''Rumput berkenaan kemudian digoreng sebelum disuapkan kepada anak lelakinya, Yahaya yang berusia dua tahun yang kelihatan kurus dan tidak mengerti akan apa yang menimpa mereka,'' sambungnya, ketika ditemui Bernama di kamp Bhalukali.

Mohd Syukri berkata menurut Summayah, suaminya telah dibunuh di rumah mereka di Pekan Maungdaw di utara Rakhine telah dibakar oleh tentera Myammar.

''Summayah berjaya melarikan diri bersama anaknya dengan hanya membawa seekor anak lembu tetapi ketika di sempadan Myammar-Bangladesh, Summayah terpaksa menyerahkan anak lembu itu sebagai tambang dia dan anaknya untuk menyeberangi Sungai Teknaf, Bangladesh untuk mendapatkan perlindungan di kem pelarian''.

Mohd Syukri yang telah bertugas di beberapa buah kem sekitar Cox’s Bazar sejak tiga bulan lalu, mengatakan, biaya menyeberangi sungai kira-kira 82 Taka (RM4), namun karena tingginya permintaan, menyebabkan pengusaha sampan mengambil kesempatan dengan mengenakan biaya tinggi hingga 6,140 Taka (RM300) bagi yang ingin menyeberangi sungai.

''Mereka tiada pilihan ketika itu, ada yang membayar ataupun menyeberangi sungai secara sendirian dan menggunakan tong kosong sebagai pelampung,'' ujarnya.

''Bagaimanapun, nasib Summayah dan etnik Rohingya yang lain semakin pulih apabila kerajaan Malaysia melalui MAPIM dan badan bukan kerajaan lain bertungkus lumus membantu memperbaiki kehidupan mereka di sini,'' katanya.

Lebih 621.000 penduduk Rohingya di wilayah Rakhine, Myanmar melarikan diri ke Bangladesh setelah serangan tentera Myanmar terhadap warga sipil dengan alasan memerangi militan bersenjata, sejak 25 Agustus lalu.***

Editor:hasan b
Sumber:mynewshub.cc
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww