Bisnis Ritel Berguguran, Sudah 1.200 Karyawan Kena PHK

Bisnis Ritel Berguguran, Sudah 1.200 Karyawan Kena PHK
Gerai 7-Eleven yang tutup dekat Stasiun Tebet. (merdeka.com)
Kamis, 02 November 2017 07:01 WIB
JAKARTA - Sekitar 1.200 karyawan sudah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak bergugurannya bisnis ritel di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengungkapkan, dari bisnis 7-Eleven yang beberapa bulan lalu bangkrut saja sudah menelan korban PHK sekitar 800 pegawai. Belum lagi perusahaan lain, hingga total mencapai 1.200.

"7-Eleven itu kan kita hitung ada 167 toko, kali 5 orang lah itu sudah 800-an ditambah dengan format yang lain. Mungkin sudah sekitar 1.200 orang. Itu dari 7-Eleven dan dengan yang lain-lain," ujarnya di Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Lebih lanjut Ia menjelaskan, keputusan PHK tersebut tidak hanya memberatkan para pegawai, melainkan juga dari sisi pengusaha.

Pasalnya ketika sudah berdarah-darah karena bisnis hancur, juga harus menanggung biaya lain seperti pesangon bagi pekerja.

Menurut Roy, tidak semua pengusaha ritel masih bisa mengembangkan bisnis setelah beberapa atau semua gerainya tutup.

Sebagian dari mereka justru kesulitan keuangan, termasuk untuk membayar pesangon dari pegawai yang kena PHK.

''Kita belum tahu, kita serahkan kepada pemerintah untuk bantu memikirkan. Karena kita enggak bisa memikirkan lagi, enggak mampu membayar,'' pungkasnya.

Sebagai informasi, industri ritel ini cukup besar dalam hal jumlah pegawai yakni sebanyak 14 juta jiwa dari hulu ke hilir. Jika tidak segera diantisipasi, bukan tidak mungkin korban PHK bisa makin banyak.

Setelah PT Modern Sevel Indonesia, anak dari PT Modern International Tbk menutup semua gerai 7-Eleven (Sevel) di Indonesia pada pertengahan tahun lalu. Perlahan tapi pasti bisnis ritel mengalami tekanan berat di tengah perubahan gaya hidup dan belanja konsumen saat ini yang lebih memilih Online.

Akibatnya PT Matahari Putra Prima Tbk menutup dua gerai Hypermart yang dianggap tak menguntungkan pada Juli 2017. Penutupan dua gerai itu disebabkan berbagai faktor, salah satunya lokasi yang sudah tidak mendukung.

Sedangkan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menutup dua gerainya di kawasan Pasaraya Blok M dan Manggarai pada akhir September 2017. Keputusan ini diambil karena perusahaan menganggap dua gerai tersebut tidak memberikan kontribusi pendapatan signifikan.

Kinerja keuangan per semester I-2017, penjualan Matahari Department Store menyusut 27,4% menjadi Rp3,76 triliun jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Terbaru PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebagai induk pusat perbelanjaan Lotus mengumumkan semua gerai Lotus.

Setelah dua gerai sudah lebih dulu tutup, tiga gerai lainnya akhir Oktober tahun ini menyusul ditutup. Tiga gerai itu berlokasi di Thamrin Jakarta, Bekasi dan Cibubur.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww